MAKALAH KLASIFIKASI DAN SISTEM KLASIFIKASI

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Tumbuhan yang ada di bumi ini sangat banyak dan beraneka ragam. Bahkan di tiap daerah memiliki jenis makhluk hidup yang khas, yang tidak ditemukan di daerah lain. Adanya keanekaragaman tumbuhan ini menjadi suatu masalah dalam mengenal dan mempelajarinya. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mengatur keanekaragaman yang ada. Dengan latar belakang ini, ada seorang tokoh Yunani yang mencetuskan ilmu taksonomi yaitu Theoprates pada tahun 370-285 SM yang kemudian dikembangkan oleh tokoh dari Swedia. Ilmu taksonomi ini merupakan ilmu tentang klasisikasi, identifikasi dan tatanama makhluk hidup.

Ilmu taksonomi ini bertujuan untuk mempermudah pengenalan dan pembelajaran terhadap makhluk hidup serta mempermudah dalam mengkomunikasikannya kepada orang lain. Ilmu taksonomi ini senantiasa berkembang dari masa ke masa, sehingga muncul tokoh – tokoh baru dalam taksonomi dan pendapat – pendapat serta teori – teori tentang taksonomi. Ilmu taksonomi ini melahirkan berbagai sistem klasifikasi yang berbeda – beda sesuai dengan dasar yang digunakan dalam kegiatan itu. Sistem klasifikasi yang dilahirkan dalam sejarah perkembangan taksonomi yaitu periode tertua yang belum memiliki sistem formal, sistem habitus, sistem numerik, sistem filogenik dan sistem kontemporer yang kemudian akan dibahas lebih lanjut dalam makalah ini.

B.     Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

  1. Apakah yang dimaksud dengan sistem klasisfikasi?
  2. Apakah tujuan dari klasifikasi?
  3. Mengetahui Sistem Klasifikasi dan Tokoh- tokoh Pencetusnya?
  4. C.    Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

  1. Mengetahui perngertian klasifikasi
  2. Mengetahui tujuan dari kegiatan klasifikasi
  3. Mengetahui Sistem Klasifikasi dan Tokoh- tokoh Pencetusnya

BAB II

PEMBAHASAN

 

 A.  Pengertian klasifikasi

Klasifikasi adalah penyusunan tumbuhan secara teratur ke dalam suatu herarki. Sistem penyusunan ini berasal dari kumpulan informasi tumbuhan secara individual yang menggambarkan kekerabatan. Menurut  Rideng (1989) klasifikasi adalah pembentukan takson-takson dengan tujuan mencari materi keseragaman dalam keanekaragaman. Dikatakan pula bahwa klasifikasi adalah penempatan organisme secara berurutan pada kelompok tertentu (takson) yang didasarkan pada perbedaan dan persamaan. Sedangkan (Tjitrosoepomo, 1993)mengatakan bahwa dasar pengadaan klasifikasi adalah keseragaman kesamaan-kesamaan itulah yang dijadikan dasar klasifikasi. Dalam biologi klasifikasi atau penggolongan tumbuhan adalah proses pengaturan tumbuhan dalam tingkat-tingkat kesatuan kelasnya yang sesuai secara ideal. Ini dicapai dengan menyatakan golongan-golongan yang sama dan memisahkan golongan-golongan yang berbeda. Hasil proses pengaturan ini ialah suatu sistem klasifikasi, yang sengaja diciptakan untuk hubungan kekerabatan jenis-jenis tumbuhan atau sama lainnya. Dalam perkembangannya sistem klasifkasi dibedakan menjadi 4 sistem berdasarkan cara pemilihan sifat daam menyusun klsifikasi, antara lain :

-             Sistem artifisial (sistem buatan)

-             Sistem natural (sistem alam)

-             Sistem filogenetik

-             Sistem kontemporer

Tingkat takson sangat penting karena tanpa adanya tingkat-tingkat takson maka faedah dari sistem klasifikasi tidak dapat dihasilkan. Takson dinyatakan sebagai unit taksonomi tingkat yang namapun, sehingga setiap tumbuhan  dapat dianggap termasuk dalam sejumlah takson yang berurutan dari bawah keatas menurut tingkatnya. Tingkat-tingkat takson utama yang sering kita kenal sehari-hari adalah jenis (spesies), marga (genus), suku (familia), bangsa (ordo), kelas (classis), devisi (devisio) dan dua (regnum).

Klasifikasi dapat ditinjau dari dua aspek yaitu :

  1. Aspek proses

Dari segi proses, klasifikasi terdiri dari dua kegiatan pokok yaitu proses pengelompokan (grouping) dan proses perangkingan (rangking). Proses pengelompokan yang dilakukan pada tumbuhan atau objek lain yang diklasifikasikan dadasarkan pada besar kecilnya persamaan yang ditunjukan oleh masing-masing tumbuhan atau objek tersebut.proses perangkingan dilakukan pada masing-masing kelompok  tumbuhan atau objek lain pada klasifikasi tersebut, dapat kita rumuskan definisi klasifikasi  tumbuhan sebagai suatu proses pengelompokan tumbuhan berdasarkan total kesamaan yang ditunjukannya dan penempatan masing-masing kelopok tersebut pada kesatuan kelasnya secara ideal.

2. Aspek hasil

Dari segi hasil, klasifikasi dapat diartikan sebagai suatu sistem klasifikasi.

B.  Tujuan klasifikasi

Klasifikasi bertujuan untuk mempermudah mengenali, membandingkan, dan mempelajari makhluk hidup. Membandingkan berarti mencari persamaan dan perbedaan sifat atau ciri pada makhluk hidup. Kesamaan – kesamaan atau keseragaman itulah yang nantinya akan menjadi dasar dalam pengklasifikasian jadi suatu takson atau suatu unit mempunyai sejumlah kesamaan – kesamaan sifat. Semakin rendah tingkatan suatu takson maka keseragaman individu dalam takson itu makin semakin dekat kekerabatannya (kesamaannya lebih banyak). Menurut kesepakatan internasional satu tumbuhan disebut sebagai satu individu dan seluruh tumbuhan disebut satu dunia atau regnum. Dari istilah individu dan dunia maka dapat dibentuk urutan takson dari yang paling besar ke yang kecil yaitu, divisi, kelas, bangsa , suku, rumpun, marga, seksi, seri, jenis, varietas, dan bentuk.

Bila setiap bagian yang lebih kecil pada takson itu disebut dengan istilah yang sama dan diberi awalan anak (sub), kita dapat memilah 25 takson termasuk yang terkecil individu.

Berikut ini urutan 25 takson tersebut dari yang paling besar ke yang kecil:

Dunia = regnum

Anak dunia = sub regnum

Divisi = divisio

Anak divisi = sub divisio

Kelas = classis

Anak kelas = sub classis

Bangsa = ordo

Anak bangsa = sub ordo

Suku = familia

Anak suku = sub familia

Rumpun = tribus

Anak rumpun = sub tribus

Marga = genus

Anak marga = sub genus

Seksi = sectio

Anak seksi = sub sectio

Seri = series

Anak seri = sub series

Jenis = spesies

Anak jenis = sub spesies

Varitas = varietas

Anak varitas = sub varietas

Bentuk = forma

Anak bentuk = sub forma

Individu = individum

C.  Sistem Klasifikasi dan Tokoh- tokoh Pencetusnya

sistem klasifkasi dibedakan menjadi 4 sistem berdasarkan cara pemilihan sifat daam menyusun klsifikasi, antara lain :

-             Sistem artifisial (sistem buatan)

-             Sistem natural (sistem alam)

-             Sistem filogenetik

-             Sistem kontemporer

Dalam garis besarnya, perkembangan sistem klasifikasi dari masa ke masa adalah sebagai berikut:

1.      Periode tertua

Dalam periode ini secara formal belum dikenal adanya system klasifikasi yang diakui (sejak ada kegiatan dalam taksonomi sampai kira-kira abad ke-4 sebelum masehi). Sejak awal kehidupan manusia bergantung pada bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan, manusia sejak dahulu telah melakukan kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam lingkup taksonomi, seperti mengenali dan memilah-milah tumbuhan mana yang berguna baginya dan yang mana yang tidak, termasuk pemberian nama, sehingga apa yang ditemukan dapat dikomunikasikan kapada pihak lain. Dalam zaman prasejarah orang telah mengenal tumbuh-tumbuhan penghasil bahan pangan yang penting seperti yang kita kenal sampai saat ini. Jenis-jenis tumbuhan ini diperkirakan telah diperkenal sejak 7 sampai 10 ribu tahun yang telah lalu, telah dibudidayakan oleh bangsa Mesir, China, Asiria dan Tigris Di Timur Tengah serta bangsa-bangsa Indian di Amerika Utara dan Selatan, sejak beberapa ribu tahun yang lalu telah dikenal berbagai jenis tumbuhan yang merupakan penghasil bahan pangan, sandang, dan bahan obat yang berarti bahwa sebenarnya merekapun telah menerapkan suatu sistem klasifikasi, dalam hal ini suatu system klasifikasi yang didasarkan atas manfaat tumbuhan, sehingga tidak dapat dianggap sebagai system buatan yang tertua. Jelaslah bahwa sejak berpuluh – puluh abad yang lalu orang telah terjun dalam kegiatan – kegiatan taksonomi tumbuhan, walaupun pengetahuan yang telah mereka kumpulkan belum begitu berarti, juga belum ditata, belum menunjukan hubungan sebab dan akibat, sehingga belum dapat disebut sebagai “ilmu pangetahuan”(science) menurut ukuran sekarang.

Sekalipun tidak ada bukti-bukti konkrit yan g berewujud peninggalan-peninggalan yang berupa dokumen-dokumen atau bentuk karya tulis lainnya, tidak perlu diragukan lagi bahwa sesuai dengan pernyataan Bloembergen-permulaan taksonomi tumbuhan harus digali dari kedalaman sejarah peradaban manusia di bumi ini.

2.    Periode system Habitus, kira-kira pada abad ke-4 sebelum masehi    sampai abad ke-17

Taksonomi tumbuhan sebagai ilmu pengetahuan baru di anggap pada abad ke-4 sebelum Masehi oleh orang-orang Yunani yang dipelopori oleh Theophrastes (370-285 SM) murid seorang filsuf Yunani bernama Aristoteles. Aristoteles sendiri adalah murid filsuf Yunani yang semashur yaitu plato. Sistem klasifikasi yang diusulkan bangsa Yunani dengan Theophrastes sebagai pelopornya juga diikuti oleh kaum herbalis serta ahli-ahli botani dan nama itu terus dipakai sampai selama lebih 10 abad. Pengklasifikaan tumbuhan terutama didasarkan atas perawakan (habitus) yang golongan-golongan utamanya disebut dengan nama pohon, perdu, semak, tumbuhan memanjat, dan terna. System klasifikasi ini bersifat dominan dari kira-kira abad ke-4 sebelum masehi sampai melewati abad pertengahan, dan selama periode-periode ini ahli-ahli botani, herbalis, dan filsuf telah menciptakan sistem-sistem klasifikasi yang pada umumnya masih bersifat kasar, namun sering dinyatakan telah mencerminkan adanya hubungan kekerabatan antara golongan yang terbentuk.

Theophrastes sendiri yang dianggap sebagai bapaknya ilmu tumbuhan, dalam karyanya yang berjudul Historia Plantarum telah memperkenalkandan memberikan deskripsinya untuk sekitar 480 jenis tumbuhan. Dalam karya ini system klasifikasi yang diterapkan oleh Theoprastes telah mencerminkan falsafah guru dan eyang gurunya ( Aristoteles dan Plato), yaitu suatu suatu system klasifikasi tumbuhan berdasarkan bentuk dan tekstur. Selain golongan-golongan pohon, perdu, semak seperti yang disebut di atas, ia juga mengadakan pengelompokan menurut umur dan membedakan tumbuhan berumur pendek (annual), tumbuhan berumur 2 tahun (biennial), serta tumbuhan berumur panjang (perennial).

Theophrastes juga telah dapat membedakan bunga majemuk yang berbatas (centrifugal) dan yang tidak berbatas (centripetal), juga telah dapat membedakan bunga dengan daun mahkota yang bebas (polipetal atau dialipetal) dan yang berlekatan (gamopetal atau simpetal) bahkan ia telah dapat mengenali perbedaan letak bakal daun yang tenggelam dan yang menumpang. Adapun yang telah dilakukan oleh theoprastes hasil klasifikasi tumbuhan yang telah diciptakan masih dianggap nyata-nyata merupakan suatu sistem artifisial. Selama periode system habitus yang cukup panjang ini dapat dikemukakan tokoh-tokoh lain yang memainkan peran yang cukup penting dan dianggap telah memberikan saham yang cukup besar dalam perkembangan taksonomi tumbuhan antara lain:

1)   DISCORIDES (50-?)

Tokoh ini adalah seorang berkebangsaan Romawi dan hidup dalam zaman pemerintahan Kaisar Nero dalam abad pertama sebelum masehi. Discorides yang rupa-rupanya tidak mengenal karya Theoprastes menyatakan pentingnya pemberian Chandra atau deskripsi orang akan dapat menggambarkan tumbuhan yang dimaksud dan menggunakannya untuk pengenalan tumbuhan. System klasifikasi ini diciptakan Dioscorides didasarkan atas manfaat dan sifat-sifat morfologi tumbuhan.

2)   PLINIUS (23-79)

Hanya menghasilkan karya-karya yang merupakan kompilasi saja dari karya-karya yang telah terbit sebelumnya dan ditambahkan dengan bahan-bahan dari dongeng, takhayul, dan kepercayaan-kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi secara lisan ke kalangan rakyat. Ia berpendapat bahwa semua tumbuhan di bumi ini diciptakan tuhan untuk kepentingan manusia. System klasifikasi yang diikuti Plinius adalah sistemnya Dioscorides yang telah membedakan pohon-pohonan, sayuran, tanaman obat-obatan, dan seterusnya.

Menjelang abad ke-16, bangkit lagi perhatian terhadap ilmu tumbuhan yang akan membawa perkembangan taksonomi kearah yang lain. Gambar-gambar tumbuhan yang dibuat semakin bermutu, lebih lengkap namun masih bercampur dengan data-data mengenai penggunaannya.

Dari sederetan nama-nama tokoh terkemuka dalam bidang taksonomi tumbuhan dari masa itu dapat kita sebut antara lain :

3)   O. BRUNFELS (1464-1534)

Yang tergolong dalam kaum herbalis, telah menghasilkan karya tentang terna yang dihiasi gambar, yang sebagian besar merupakan bahan-bahan kompilasi dari karya-karya Theoprastes , Dioscorides, dan Plinius. Sayang , buku itu memuat banyak konsep-konsep yang keliru serta kekisruhan akibat dimasukkannya berbagai informasi yang bersumber dari cerita rakyat dan takhayul (Gugon Tuhon). Kaum herbalis terutama dianggap berjasa karena karya-karyanya yang dapat dikualifikasikan sebagai Taksonomi Deskriptif. Dalam golongan mereka ini nama-nama yang patut diketengahkan adalah:

4)   J. BOCK (1489-1554) (HIERONYMUS TRAGUS)

Adalah seorang herbalis yang pernah menjadi guru, pendeta dan kemudian dokter yang mempunyai hobi ilmu tumbuhan. Ia masih menggolongkan tumbuhan menjadi terna, semak dan pohon, tetapi ia mengaku telah berupaya untuk menempatkan tumbuhan yang menurut anggotanya sekerabat dalam katagori yang sama.

5)   L. FUCHS (1501-1566)

Kelahiran Bavaria (Jerman Barat), adalah seorang guru besar dalam ilmu kedokteran di Tubingen Jerman Barat. Dia terkenal dengan karya-karyanya dalam bidang ilmu tumbuhan yang benar pada masaanya.

6)      R. DODONEUS (1516-1518)

Seorang dokter kelahiran Mechelen, Belgia. Dia pernah menjelajahi Prancis, Jerman dan Italia serta menjadi dokter di kota kelahirannya. Dia adalah penulis Het Cruyde Boek yang pada masanya sangat mashur.

7)   M. de L’OBEL(1545-1612)

Berkebangsaan Inggris dan pernah mengadakan mengadakan perjalanan di Denmark dan Rusia. Dia memiliki sebuah kebun botani di London dan penulis sebuah karya besar tentang ilmu tumbuhan. Dan masih banyak tokoh-tokoh lainnya dengan karya-karyanya yang tidak kalah menariknya tentang Taksonomi Deskriptif.

2. Periode sistem numerik

Periode ini terjadi pada permulaan abad ke 18, yang ditandai dengan sifat sistem yang murni artifisial, yang sengaja dibuat sebagai sarana pembantu dalam identifikas tumbuhan. Sistem ini tidak menggunakan bentuk dan tekstur tumbuhan sebagai dasar utama pengklasifikasian. Tetapi pengambilan kesimpulan mengenai kekerabatan antara tumbuhan.

Dalam periode ini tokoh yang paling menonjol adalah Karl Linne (Carolus Linneaus) Dibawah bimbingan Dr. Rudbeck ia menerbitkan karyanya yang pertama kali mengenai seksualitas tumbuhan. Setelah menjadi dosen ia menerbitkan karyanya yang berjudul Hortus Uplandikus yang memuat nama-nama semua tumbuhan yang terdapat dikebunraya di Upsala, yang susunannya mengikuti sistem de Tournefort. karena jumlah tumbuhan dikebun raya tadi makin besr jumlahnya maka linneaus menerbitkaan Hortus Uplandikus edisi baru yang disusun menurut ciptaannya sendiri yang dikenal sebagai Sistema Sexsuale atau sistem seksual. Doktor Gronovius seorang dokter dan naturalis, begitu oleh Linneaus, dan Lawson menawarkan kepada Linneaus untuk membiayai penerbitan naskahnya yaitu Sistema Naturae yang memuat dasar-dasar pengklasifikasian tumbuhan hewan dan mineral. Selama tahun 1737 sewaktu dinegeri Belanda karya Linneaus yang diterbitkan berjudul Genera Plantarum dan Flora Lavonica sambil menunggu pencetakan naskah-naskah itu Linneaus diberi kesempatan oleh Clifford untuk berkunjung ke Inggris, dan sekembalinya dari Inggris selama sembilan bulan ia menyiapkan naskah Hortus Cliffortianus yang berisi jenis-jenis tumbuhan yang dipelihara dalam kebunnya Clifford selama tiga tahun di Belanda dari tahun 1737 sampai 1739 merupakan masa yang paling produktif bagi Linneaus. Kurang lebih ada 14 judul tulisannya terbit waktu itu, yang sebagian besar telah dipersiapkan ketika ia masih di Swedia.

Setelah kembali lagi ke Swedia tidak lagi terbit karyanya yang berarti dari linneaus selain spesies plantarum yang terbit 1 mei 1753. Pada tahun 1775 ia mengundurkan diri sebagai guru besar dan tiga tahun kemudian meninggal dunia setelah menderita sakit selama kurang lebih 2 tahun (10 januari 1778).

Sistem klasifikasi tumbuhan yang diciptakan oleh Linnaeus masih dikategorikan sebagai sistem artivisial. Nama Sistema Sexsuale untuk sistem yang diciptakan sebenarnya tidak begitu tepat karena pada dasarnya sistem ini tidak ditekankan pada masalah jenis kelamin, tetapi pada kesamaan jumlah alat-alat kelamin seperti jumlah benangsari. Nama-nama golongan tumbuhan yang diciptakan oleh linnaeus seperti monandria (berbenang sari tunggal), diandria (berbenangsari dua), triandria berbenangsari tiga dan seterusnya. Itulah sebabnya sistem klasifikasi tumbuhan ciptaan Linnaeus dikenal pula sebagai sistem numerik.

Ciptaan Linnaeus ini meupakan sistem yang dinilai revolusioner untuk masa itu, dan memberikan pengaruh yang lebih besar dari pada sumbangan linnaeus yang lain,dan sistem ini sengaja dirancang sebagai alat bantu dalam mengidentifikasi tumbuhan dan ia juga dianggap sebagai pencipta sistem tatanama ganda yang ia terapkan dalam bukunya Species plantarum yang diterbitkan pada tanggal 1 mei 1753 yang menjadi pangkal tolak berlakunya tatanama tumbuhan yang diakui.

Sesungguhnya linnaeus dianggap tidak tepat bila ia sebagai pencipta tatanama ganda. Sebelum linnaeus, sistem tatanama ganda telah dirintis oleh caspar bauhin, yang dalam tahun 1623 dalam bukunya pinax theatri botanici telah menerapkan sistem tatanama ganda pada tumbuhan. Karena besar jasa-jasa yang diberikan oleh linnaeus bagi perkembangan taksonomi umumnya dan taksonomi tumbuhan khususnya bagi dunia ilmu hayat linnaeus mendapatkan gelar sebagai “bapak taksonomi” baik hewan maupun tumbuhan dan juga mendapat pengakuan dari negara yang diberikan oleh raja swedia yang mengangkat linnaeus ke jenjang bangsawan, sehingga nama karl linne diubah menjadi karl von linne. Linneaus juga berperan penting dalam taksonomi tumbuhan yang membangkitkan minat dan semangat siswa yang kemudian beberapa diantaranya menjadi tokoh seperti gurunya.

a. Peter Kalm ( 1716 – 1779)

Yaitu salah seorang murid linnaeus yang berkebangsaan swedia yaitu sebagai kolektor dan penjelajah dengan ekspedisinya ke finlandia dan rusia.

b. F. Hasselquist ( 1722 – 1752 )

Yaitu salah satu murid favrite linnaeus yang selama 2 tahun mengadakan koleksi di timur tengah. Ia mengkoleksi tumbuhan asli dari Palestina, Arab, Mesir, Suriah dan Smyrna.

c. P Forskal ( 1731 – 1760 )

Yaitu salah satu murid Linnaeus dari Finlandia yang pernah terpaksa berpakaian sebagai petani untuk menghindari penganiayaan orang-orang badui ketika mengadakan ekspedisi dari Denmark, dari koleksi Forskal inilah Linnaeus dapat mengetahui flora Mesir, terutama yag ada disekiatar Kairo.

d. C.P. Thunberg ( 1743- 1828)

Yaitu murid Linnaeus yang telah menulis dua buku flora dari sejumlah besar karya – karya ilmiah lainnya. Ia pernah mengadakan koleksi didaerah tanjung harapan di Afrika Selatan dan menemukan sekitar 300 jenis tumbuahan yang baru untuk ilmu pengetahuan.

e. J.A Murray ( 1740- 1791)

Yaitu salah seorang murid Linnaeus yang sangat pandai, yang kemudian menjadi guru besar di Universitas Goningen, Jerman barat, penerbit karya Linnaeus system vegetabilum edisi ke 13,14,dan 15. Ia juga menulis berbagai publikasi dalam bidang tumbuhan.

f. J. Roemer ( 1763- 1819)

Yairu seorang guru besar di Zurich,Swis, yang bersama schules menerbitkan karya linnaeus systema vegetbilum edisi 16.

g. CL.WILDENOW ( 1765- 1812)

Adalah guru besar dalam ilmu hayat di Universitas Berlin dan direktur kebun raya Berlin, yang bertindak pula sebagai penyunting (editor) species plantarum edisi ke-IV yang ditulis kembali dan diperluas.

h. J.Schultes (1773- 1831)

Yaitu guru besar di Wina dan di universitas lain, penulis flora austria dan bersama-sama roemer menerbitkan karya Linnaeus systema vegetabilum edisi 16. Setelah meninggalnya linnaeus pada tahun 1783, koleksi tersebut dibeli oleh J.E.Smith (1758-1828) yang akhirnya dijual tiga kali lipat kepada himpunan Linnaeus d London (linnean society of London) yang memiliki seluruh koleksi Linneaus dan menyimpannya hingga sekarang.

3. Periode sistem klasifikasi yang didasarkan atas kesamman bentuk atau sistem alam,dari kira-kira akhir abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-19

Menjelang berakhirnya abad ke-18 terjadi perubahan-perubahan yang revolusioner dalam pengklasifikasiaan tumbuhan. Sistem klasifikasi yang baru ini disebut “sistem alam” yaitu golongan yang terbentuk merupakan unit-unit ynag wajar (natural) bila terdiri dari anggota-anggota itu,dan dengan demikian dapat tercermin pengertian manusia mengenai yang disebut yang dikehendaki oleh alam. Secara harfiah istilah “sistem alam” untuk aliran baru dalam klasifikasi ini tidak begitu tepat karena pada hakekatnya semua sistem klasifikasi adalah sistem buatan. Untuk sitem klasifikasi yang digunakan dalam periode ini, digunakan nama “sistem alam” (natural system) dengan maksud untuk memenuhi keinginan manusia akan adanya penataan yang tepat yang lebih baik dari sistem-sistem sebelumnya.

Dalam periode ini tokoh-tokoh yang dikemukakan dalam periode ini adalah

a. M.Adanson ( 1727- 1806)

Yaitu seorang ahli tumbuhan berkebangsaan Perancis dan seorang anggota akademi ilmu pengetahuan di Universitasa Sorbonne,Paris. Yaitu ia menolak semua sistem artifisial, menggantikan dengan sistem alam, ia termasuk orang yang pertama-tama mengadakan eksplorasi tumbuhandidaerah tropika yang dalam bukunya families des plantes ia telah membedakan dan mendeskripsi unit –unit pada waktu sekarang setar dengan yang kita kenal sebgai bangsa (ordo) dan suku ( familia).

b. G.C. Oeders (1728- 1791)

Seorang ahi tumbuhan berkebangsaan denmark yang antara lain telah menulis flora Sleeswijk Holstein dan Denmark.

c. J.R. de Lamarck (1744-1829)

Seorang ahli ilmu hayat berkebangsaan Perancis,yang bagi para ahli taksonomi tumbuhan dikenal sebagai penulis flora francoise yang ditulis berupa kunci untuk pengidentifiasian tumbuh-tumbuhan diperncis, dan Lamarck juga dikenal sebgai penulis fhilosophie zoologique dan echele animale dan dianggap sebagai slaha seorang perintis lahirnya teori evolusi. Teorinya dikenal dengan nama “lamarckisme”, yang menyatakan perubahan lingkungan yang dapat mengubah struktur organisme, menimbulkan yang herediter sering menjadi bahan ejekan dikalangan ahli ilmu hayat.

  1. De Jussieu bersaudara Antoine de jussie (1686- 1758) Benard de jussie (1699-1776), joseph de jussieu (1704-1779). Tiga saudara de jussie yang merupakan putera-puteri seorang apoteker di Lyon. Perancis. Yang ketiga-tiganya kemudian menjadi ahli taksonomi tumbuhan yang bernama Antoine dan Benard adalah murid Pierre Magnol (1638-1715) yang menjadi guru besar dan direktur kebun raya di mompellier. Perancis. Benard menyusun kembali klasifikasi menurut sistem ciptaannya sendiri,tetapi banyak kemiripannya dengan sistem linnaeus yang ditetapkan dalam karyanya yang berjudul fragmenta methodi naturalis dan sistem ray dalam bukunya methodue plantarum benard membagi tumbuhan bangsa dalam tumbuhan biji tunggal dan tumbuhan biji belah, dan diadakan pembagian lebih lanjut mengenai kedudukan bakal buah, ada atau tidaknya mahkota bunga,dan ada tidaknya pelekatan daun-daun mahkota bunga.

4. Periode Sistem Filogenetik dari Pertengahan abad ke 19 hingga sekarang

Teori evolusi, teori desendensd atau teori keturunan seperti yang diciptakan oleh darwin merupakan suatru teori hingga sekarang oleh sebagian orang terutama tokoh agama masih dianggap kontroversial dan tetap ditentang kendati ajaran itu tetap diterima dan cepat tersebar luas dikalangan kaum ilmuan yang begitu fanatik terhadap teori ini sampai ada yang menyatakan, bahwa “ evolusi bukannya teori lagi, tetapi adalah suatu aksioma yang tidak perlu diragukan kebenarannya, dan oleh karenanya tidak perlu diperdebatkan lagi “.

Sistem klasifikasi dalam periode ini berupaya untuk mengadakan penggolongan tumbuhan yang sekaligus mencerminkan urutan – urutan golongan itu dalam sejarah perkembangan filogenetiknya dan demikian juga menunjukan jauh dekatnya hubungan kekerabatan yang satu dengan yang lain. Jadi dalam klasifikasi ini dasar yang digunakan adalah “filogeni” dan dari sini lahirlah nama “sistem filogenetik” kenyataanya, bahwa kemudian muncul sistem klasifikasi yang berbeda, membuktikan bahwa persepsi dan interpretasi para ahli biologi mengenai yang disebut filogeni itu masih berbeda – beda.

6. Sistem Klasifikasi Kontemporer

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dalam abad ke-20 ini pasti akan berpengaruh pula terhadap perkembangan ilmu taksonomi tumbuhan. Kecenderungan untuk mengkuantitatifkan data penelitian dan penerapan matematika dalam pengolahan data yang diperoleh telah menyusup pula ke dalam ilmu-ilmu sosial yang semula tak pernah atau belum memanfaatkan matematika serta belum mempertimbangkan pula kemungkinan-kemungkinan yang dapat di capai dengan penerapan pendekatan kuantitatif matematik.

Perkembangan teknologi, khusus nya di bidang elektronika yang dalam abad nukluer maju dengan pesat ini, telah pula menjamah bidang taksonomi tumbuhan, yang sejak beberapa dasawarsa belakangan ini juga sudah di jalari “penyakit” penerapan metode penelitian kuantitatif yang pengelohan datanya memanfaatkan jasa-jasa komputer pula. Kumputer telah digunakan secara luas dalam pengembangan metode kuantitatif dalam klasifikasi tumbuhan, yang melahirkan bidang baru dalam taksonomi tumbuhan yang dikenal sebagai taksonomi numerik,taksometri atau taksonometri.

Pengolahan data secara elektronik (EDP—Elektronic Data Processing), juga sudah diterapkan untuk berbagai prosedur dalam penilitian taksonomi antara lain dalam penyimpanan dan pengambilan laporan-laporan atau informasi.

BAB III

PENUTUP

 A.    Kesimpulan

Dari pemahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa :

  1. Klasifikasi adalah penyusunan tumbuhan secara teratur ke dalam suatu herarki.
  2. Klasifikasi bertujuan untuk menyederhanakan objek studi yaitu mencari keanekaeragaman dalam keseragaman. Kesamaan – kesamaan atau keseragaman itulah yang nantinya akan menjadi dasar dalam pengklasifikasian jadi suatu takson atau suatu unit mempunyai sejumlah kesamaan – kesamaan sifat.
  3. sistem klasifkasi dibedakan menjadi 4 sistem berdasarkan cara pemilihan sifat dalam menyusun klsifikasi, antara lain :
  4. Sistem artifisial (sistem buatan)
  5. Sistem natural (sistem alam)
  6. Sistem filogenetik
  7. Sistem kontemporer
    1. B.     Saran

makalah ini dapat dimanfaatkan oleh pembaca sebagai bahan untuk menunjang pengetahuan, jika ada kesalahan diharapkan kritik dan saran pembaca. Gunakan juga buku penuntun lain dalam memepelajari tentang klasifikasi dan sistem klasifikasi.

DAFTAR PUSTAKA

Lumowa, sonja V.T. 2012 . bahan ajar botani tingkat tinggi. Universitas mulawarman:samarinda

file://localhost/E:/tugas%20klpk%203/klasifikasi-tanaman.html

http://blog.re.or.id/konsep-dasar-sistem-klasifikasi-sistem.htm

http://deceng.wordpress.com/2007/11/08/klasifikasi-mahluk-hidup/

http://id.wikipedia.org/wiki/Klasifikasi_ilmiah

http://pdpt.unesa.ac.id/portofolio/handout/3476/1859/12-kekerabatan

About these ads

~ by Hae_RyN's on April 18, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: