Selaginella remotifolia

Selaginella remotifolia

A.  Tujuan

Untuk mengidentifikasikan tumbuhan tingkat rendah yang terdapat di Kebun Raya Universitas Mulawarman Samarinda.

B.  Dasar TeoriI.    

Pteridopytha

Tumbuhan paku (Pteridophyta) adalah divisi dari kingdom Plantae yang anggotanya memiliki akar, batang, dan daun sejati, serta memiliki pembuluh pengangkut. Tumbuhan paku sering disebut juga dengan kormofita berspora karena berkaitan dengan adanya akar, batang, daun sejati, serta bereproduksi aseksual dengan spora. Tumbuhan paku juga disebut sebagai tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta) karena memiliki pembuluh pengangkut.

1.    Ukuran dan bentuk tubuh

Tumbuhan paku memiliki ukuran yang bervariasi dari yang tingginya sekitar 2 cm, misalnya pada tumbuhan paku yang hidup mengapung di air, sampai tumbuhan pak u yang hidup di darat yang tingginya mencapai 5 m misalnya paku tiang (Sphaeropteris). Tumbuhan paku purba yang telah menjadi fosil diperkirakan ada yang mencapai tinggi 15 m. Bentuk tumbuhan paku yang hidup saat ini bervariasi, ada yang berbentuk lembaran, perdu atau pohon, dan ada yang seperti tanduk rusa.

Tumbuhan paku terdiri dari dua generasi, yaitu generasi sporofit dan generasi gametofit. Generasi sporofit dan generasi gametofit ini tumbuh bergantian dalam siklus tumbuahan paku. Generasi sporofit adalah tumbuhan yang menghasilkan spora sedangkan generasi gametofit adalah tumbuhan yang menghasilkan sel gamet (sel kelamin). Pada tumbuhan paku, sporofit berukuran lebih besar dan generasi hidupnya lebih lama dibandingkan generasi gametofit. Oleh karena itu, generasi sporofit tumbuhan paku disebut generasi dominan. Generasi sporofit inilah yang umumnya kita lihat sebagai tumbuhan paku.

2.      Struktur dan fungsi tubuh tumbuhan paku generasi sporofit       

           Tumbuhan paku sporofit pada umumnya memiliki akar, batang, dan daun sejati. Namun, ada beberapa jenis yang tidak memiliki akar dan daun sejati. Batang tumbuhan paku ada yang tumbuh di bawah tanah disebut rizom dan ada yang tumbuh di atas permukaan tanah. Batang yang yang tumbuh di atas tanah ada yang bercabang menggarpu dan ada yang lurus tidak bercabang. Tumbuhan paku yang tidak memilki akar sejati memilki akar berupa rizoid yang terdapat pada rizom atau pangkal batang. Tumbuhan paku ada yang berdaun kecil (mikrofil) dan ada yang berdaun besar (makrofil).

Tumbuhan paku yang berdaun kecil, daunnya berupa sisik. Daun tumbuhan paku memiliki klorofil untuk fotosintesis. Klorofil tumbuhan paku yang tak berdaun atau berdaun kecil terdapat pada batang.

Tumbuhan paku sporofit memiliki sporangium yang menghasilkan spora. Pada jenis tumbuhan paku sporofit yang tidak berdaun, sporangiumnya terletak di sepanjang batang. Pada tumbuhan paku yang berdaun, sporangiumnya terletak pada daun yang fertil (sporofil). Daun yang tidak mengandung sporangium disebut daun steril (tropofil). Sporofil ada yang berupa helaian dan ada yang berbentuk strobilus. Strobilus adalah gabungan beberapa sporofil yang membentuk struktur seperti kerucut pada ujung cabang. Pada sporofil yang berbentuk helaian, sporangium berkelompok membentuk sorus. Sorus dilindungi oleh suatu selaput yang disebut indisium. Sebagian besar tumbuhan paku memiliki pembuluh pengangkut berupa floem dan xilem. Floem adalah pembuluh pengangkut nutrien organik hasil fotosintesis. Xilem adalah pembuluh pengangkut senyawa anorganik berupa air dan mineral dari akar ke seluruh bagian tumbuhan. Spora yang menghasilkan sporofit akan tumbuh membentuk struktur gametofit berbentuk hati yang disebut protalus atau protaliaum.

3.    Struktur dan fungsi tubuh tumbuhan paku generasi gametofit

Gametofit tumbuhan paku hanya berukuran beberapa milimeter. Sebagian besar tumbuhan paku memiliki gametofit berbentuk hati yang disebut protalus. Protalus berupa lembaran, memiliki rizoid pada bagian bawahnya, serta memiliki klorofil untuk fotosintesis. Protalus hidup bebas tanpa bergantung pada sporofit untuk kebutuhan nutrisinya. Gametofit jenis tumbuhan paku tertentu tidak memilki klorofil sehingga tidak dapat berfotosintesis. Makanan tumbuhan paku tanpa klorofil diperoleh dengan cara bersimbiosis dengan jamur.

Gametofit memilki alat reproduksi seksual. Alat reproduksi jantan adalah anteridium. Anteridium menghasilkan spermatozoid berflagelum. Alat reproduksi betina adalah arkegonium. Arkegonium menghasilkan ovum. Gametofit tumbuhan paku jenis tertentu memiliki dua jenis alat reproduksi pada satu individu. Gametofit dengan dua jenis alat reproduksi disebut gametofit biseksual. Gametofit yang hanya memiliki anteridium saja atau arkegonium saja disebut disebut gametofit uniseksual. Gametofit biseksual dihasilkan oleh paku heterospora (paku yang menghasilkan dua jenis spora yang berbeda).

4.    Cara Hidup dan Habitat Tumbuhan Paku

Tumbuhan paku merupakan tumbuhan fotoautotrof. Tumbuhan paku ada yang hidup mengapung di air ( misalnya Azolla pinnata dan Marsilea crenata). Namun, pada umumnya tumbuhan paku adalah tumbuhan terestrial (tumbuhan darat).

5.    Reproduksi

Tumbuhan paku berkembang biak secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual dan seksual pada tumbuhan paku terjadi seperti pada lumut. Reproduksi tumbuhan paku menunjukkan adanya pergiliran antara generasi gametofit dan generasi sporofit (metagenesis). Pada tumbuhan paku, generasi sporofit merupakan generasi yang dominan dalam daur hidupnya.

Generasi gametofit dihasilkan oleh reproduksi aseksual dengan spora. Spora dihasilkan oleh pembelahan sel induk spora yang terjadi di dalam sporangium. Sporangium terdapat pada sporofit (sporogonium) yang terletak di daun atau di batang. Spora haploid (n) yang dihasilkan diterbangkan oleh angin dan jika sampai di tempat yang sesuai akan tumbuh menjadi protalus dan selanjutnya menjadi gametofit yang haploid (n).

Gametofit memiliki dua jenis alat reproduksi, yaitu anteridium dan arkegonium, atau satu jenis alat reproduksi, yaitu anteridium saja atau arkegonium saja. Arkegonium menghasilkan satu ovum yang haploid (n). Anteridium menghasilkan banyak spermatozoid berflagelum yang haploid (n). Spermatozoid bergerak dengan perantara air menuju ovum pada arkegonium. Spermatozoid kemudian membuahi ovum. Pembuahan ovum oleh spermatozoid di arkegonium menghasilkan zigot yang diploid (2n). Zigot membelah dan tumbuh menjadi embrio (2n). Embrio tumbuh menjadi sporofit yang diploid (2n). Metagenesis tumbuhan paku dapat dilihat melalui bagan metagenesis tumbuhan paku, sebagai berikut :

a.   Paku Homospora,

Paku Homospora yaitu jenis tumbuhan paku yang menghasilkan satu jenis spora yang sama besar. Contohnya adalah paku kawat (Lycopodium)

b.      Paku Heterospora

Paku heterospora merupakan jenis tumbuhan paku yang menghasilkan dua jenis spora yang berbeda ukuran. Spora yang besar disebut makrospora (gamet betina) sedangkan spora yang kecil disebut mikrospora (gamet jantan). Contohnya adalah paku rane (Selaginella)

dan Semanggi (Marsilea).

c.    Paku Peralihan

Paku peralihan merupakan jenis tumbuhan paku yang menghasilkan spora dengan bentuk dan ukuran yang sama, serta diketahui gamet jantan dan betinanya. Contoh tumbuhan paku peralihan adalah paku ekor kuda (Equisetum).

II.  Genus Selaginella

Bangsa Selaginellales (paku rane, paku lumut) hanya terdiri atas satu suku Selaginellaceae dengan satu marga Selaginella yang seluruhnya meliputi kira-kira 700 jenis. Sporofit dari Selaginellales dalam beberapa hal menunjukkan persamaan dengan Lycopodiales. Ada jenis yang berukuran kecil mirip dengan lumut hati yang berdaun dan tumbuh diantara tumbuhan lumut, sehingga sering dinamakan juga paku lumut.

1.    Klasifikasi

  • Kingdom         :  Plantae (Tumbuhan)
  • Subkingdom    :  Pteridophyta   (Tumbuhan   berpembuluh)
  • Divisi               :  Lycopodiophyta
    Kelas               : Lycopodiopsida
  • Ordo                : Selaginellales
  • Genus              : Selaginella
  • Spesies            : Selaginella sp.

 2.   Deskripsi Morfologi Organ

  1. a.    Akar

Terdapat rizofora (pendukung akar) yang terletak di dekat percabangan batang. Rizofora berbentuk seperti batang, tidak berdaun , dan tidak berwarna. Rizofora tumbuh ke bawah menuju  tanah dan pada ujungnya tumbuh akar.

b. Batang

Habitus bangsa Selaginellales  ini hampir bersamaan dengan Lycopodiinae. Sebagian mempunyai batang berbaring dan sebagian berdiri tegak, bercabang-cabang menggarpu anisotom, tidak memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder. Ada yang tumbuhnya membentuk rumpun, ada yang memanjat dan tunasnya dapat mencapai panjang sampai beberapa meter

Selaginella memiliki batang merayap (prostrate) dan menjalar yang bercabang-cabang pada jarak pendek. Percabangannnya monopodial (yaitu titik tumbuh yang sama secara tetap merupakan titik tumbuh utama) walaupun dekat titik tumbuh itu tampaknya dikotomi. Batang memiliki banyak daun kecil-kecil yang dipisahkan oleh ruas yang jelas pada bagian yang lebih tua, tetapi berkelompok pada ujung pertumbuhan.

c.    Daun

Pada batang terdapat daun-daun kecil yang tersusun dalam garis spiral atau berhadapan dan tersusun dalam 4 baris. Cabang-cabang seringkali mempunyai susunan dorsoventral. Dari 4 baris daun itu yang dua baris terdiri atas daun-daun yang lebih besar dan tersusun ke samping, yang dua baris lagi terdiri atas daun-daun yang lebih kecil terdapat pada sisi atas cabang-cabang dan menghadap ke muka. Daun-daun itu hanya mempunyai tulang tengah yang tidak bercabang dan jarang-jarang memperlihatkan diferensiasi dalam jaringan tiang dan jaringan bunga karang.

Pada bagian bawah sisi atas daun terdapat suatu sisik yang dinamakan lidah-lidah (ligula). Lidah-lidah ini merupakan alat penghisap air (misal tetes air hujan), dan seringkali dengan pperantaraan suatu trakeida mempunyai hubungan dengan batas-batas pembuluh pengangkutan.

3.    Sistem Reproduksi

Selaginella adalah tumbuhan paku heterospor. Tumbuhan jenis ini menghasilkan mikrospora, yang dibentuk oleh mikrosporangium, dan megaspore dibentuk di dalam megasporangium. Kedua jenis sporangium tersebut terdapat pada sporofil yang berbeda, yaitu mikrosporofil dan megasporofil. Sporangium tunggal, terletak pada ketiak sporofil, yaitu diantara suatu sumbu dengan ligula. Umumnya kedua jenis sporofil tersebut bersama-sama tersusun pada sebuah strobilus (strobilus sporangiat). Spora berkembang secara endosporik, yaitu gametofit berkembang dibatasi oleh dinding spora.

Reproduksi seksual dari paku lumut dan pinus tanah diikuti oleh produksi dari sporangia. Tetapi paku lumut sporangia berkembang menjadi mikrosporofil dan makrosporofil  menghasilkan mikrosporangia yang berisi beberapa mikrosporofit yang menjalani  meiosis , memproduksi  mikrospora yang tipis. Megasporangia dari megasporofil  biasanya  berisi megasporofit yang sesudah meiosis terbagi menjadi empat megaspore besar.

Masing-masing mikrospora dapat menjadi gametofit jantan terdiri dari anteridium bulat dikelilingi selubung steril (antheredium) dari sel tanpa dinding mikrospora. Masing-masing sel sperma dengan flagella diproduksi dalam masing-masing  antheredium. Megaspora yang besar berkembang menjadi gametofit betina yang juga strukturnya sederhana. Selanjutnya gametofit sempurna dan  matang,   meskipun itu terdiri dari banyak sel yang telah diproduksi  di dalam mega spora . Dengan meningkatnya ukuran,  akhirnya pecah dan menebalkan dinding spora dan memproduksi beberapa arkegonia dalam kantong tertutup . Perkembangan dari keduanya,  gemetofit jantan dan betina sering dimulai sebelum spora muncul dari kotak sporangia. Fertilisasi dan perkembangan sporofit baru adalah sama pada pinus tanah lainnya.

4.    Siklus Hidup

Yang pertama inti spora membelah secara bebas menjadi banyak, yang lalu tersebar dalam plasma pada bagian atas spora.  Baru kemudian mulai terbentuk dinding – dinding sel  yang meluas kebawah, sehingga akhirnya seluruh spora terisi dengan sel sel protalium. Bersamaan dengan itu sel- sel membelah-belah terus menjadi sel sel kecil, dan pada bagian atas protalium mulai  terbentuk beberapa arkegonium. Akhirnya dinding makrospora pecah, dan protalium yang terdiri dari sel-sel kecil dan tidak berwarna tersembur keluar,dan membentuk 3 rizoid pada 3 tempat.

Setelah satu atau beberapa  arkegonium dibuahi, mulailah perkembangan embrionya yang biasanya bersifat  endoskopik. Untuk membebaskan diri dari protalium, Embrio yang endoskopik membelok seperti pada Lycoodium. Calon akar baru di bentuk kemudian. Pertumbuhan memanjang berlangsung dengan perantaraan suatu sel ujung sebagai sel pemulanya.

siklus dari sporofit selaginella secara sederhana, yakni megaspore dan mikrospora dibentuk dari proses miosis, kemudia megaspores menghasilkan gametofit betina yang merupakan arkegonium, dan dari arkegonium ini menjadi telur. Dan pada mikrospora yang dihasilkan dari gametofit jantan, gamet jantan atau antheredium, dari antheridium ini menghasilkan sperma yang berflagel.

Sporofit yang sudah matang akan menghasilkan sporangium dengan pembelahan meiosis sporangium ini menghasilkan spora kemudian spora ini berkembang dan terus berkembang menjadi gametofit muda dan gametofit ini menghasilkan antheridium dan arkegonium, pada arkegonium menghasilkan sel telur (egg), dan pada antheridium menghasilkan sperma kemudian sperma dan sel telur ini mengalami fertizasi yang dari fertlizasi ini menghasilkan zigot. Zigot mengalami pembelahan mitosis dan menghasilkan spora baru yang terdapat pada daun dan gamtofit pada akar.

Mikrospora berkembang menjadi mikrogametofit dengan membentuk Sembilan buah sel steril yang kemudian rusak, dan banyak spermatozoid yang biflagel. Megaspora berkembang menjadi megagametofit diawali dengan pembelahan inti bebas. Pemeblahan inti bebas adalah suatu peristiwa pembelahan yang dimulai dengan perbanyakan inti, baru kemudian diikuti dengan pembentukan dinding sel. Megagametofit dapat dibedakan menjadi daerah nutritif dan daerah gametofit. Pada daerah generative terdapat arkegonium, pada daerah ini terdapat rizoid. Arkegonium mempunyai sel saluran leher, sel saluran perut, dan sel telur masing-masing sebuah. Pada saat arkegonium masak, sel saluran leher dan sel saluran perut rusak, membentuk lendir, menyerapa air, menekan dinding, dan menyebabkan hubungan sel leher yang paling ujung merenggang.

Di tempat yang teduh biasanya daunnya menjadi kebiruan sehingga menambah indahnya tumbuhan ini. Perawakan maupun bentuknya serupa rane halus (Selaginella willdenowii). Hanya saja ukuran daun lebih lebar. Daunnya kecil-kecil dan tersusun melingkari batangnya. Berbeda dengan rane halus  (Selaginella willdenowii) daun-daun suburnya lebih lancip. Susunannya pun lebih rapat. Batangnya terletak di permukaan tanah dan kadang-kadang berakar membentuk tanaman baru. Di daerah yang cocok tumbuhan ini mencapai panjang 1m.

Di antara tumbuhan rasam yang tidak lebat di lereng-lereng bukit di Jawa Barat, sering dijumpai jenis paku lain yang disebut rane biru. Tumbuhan ini hanya terdapat di daerah yang lembap dan teduh.

5.      Manfaat

    1. Selaginella adalah bahan baku obat yang potensial, yang mengandung beragam metabolit sekunder seperti alkaloid, fenolik (flavonoid), dan terpenoid.
    2. Spesies ini secara tradisional digunakan untuk menyembuhkan beberapa penyakit terutama untuk luka, nifas, dan gangguan haid. Biflavonoid, suatu bentuk dimer dari flavonoid, adalah salah satu produk alam yang paling berharga dari Selaginella, yang meliputi sekurang-kurangnya 13 senyawa, yaitu amentoflavone, 2′,8”-biapigenin, delicaflavone, ginkgetin, heveaflavone, hinokiflavone, isocryptomerin, kayaflavone, ochnaflavone, podocarpusflavone A, robustaflavone, sumaflavone, dan taiwaniaflavone.
    3. Secara ekologis, tumbuhan menggunakan biflavonoid untuk merespon kondisi lingkungan seperti pertahanan terhadap hama, penyakit, herbivora, dan kompetisi, sedangkan manusia menggunakan biflavonoid secara medis terutama untuk antioksidan, anti-inflamasi, dan anti karsinogenik.
    4. Selaginella juga mengandung trehalosa suatu disakarida yang telah lama dikenal untuk melindungi dari pengeringan dan memungkinkan bertahan terhadap tekanan lingkungan hidup yang keras. Senyawa ini sangat berpotensi sebagai stabilizer molekul dalam industri berbasis sumberdaya hayati.
    5. Ekstrak etil asetat bagian aerial Selaginella plana mengandung senyawa metabolit sekunder golongan flavonoid

 

C.    Alat Dan Bahan

    1. Alat
      1. Pisau/Cutter
      2. Kantong Plastik Kecil
      3. Kantong Plastik Besar
      4. Kamera
      5. Buku Taksonomi Tumbuhan
    2. Bahan                                                                                                                                                                                                                                 Selaginella remotifolia

 

D.    Prosedur Kerja

  1. Berjalan ke lokasi pengambilan specimen secara berkelompok
  2. Mengamati specimen yang ditemukan.
  3. Mengambil gambar specimen yang ditemukan pada tempat melekatnya atau substrat dengan kamera.
  4. Mencabut spesimen dengan hati-hati menggunakan alat seperti pisau atau cutter agar akarnya tidak rusak dan ikut tercabut.
  5. Memasukkan specimen seperti jamur, lumut dan tumbuhan paku ke dalam kantung plastik.
  6. Pengidentifikasian
  7. Mengumpulkan semua specimen yang ditemukan.
  8. Membuka  buku/ atlas/ gambar tumbuhan paku, lumut, dan jamur yang dimiliki, kemudian  mencocokkan dengan specimen yang ditemukan untuk identifikasi nama.Spesimen yang telah teridentifikasi nama spesiesnya, kemudian  segera menyusun klasifikasinya.

 

 E.Hasil Pengamatan

Klasifikasi:

Regnum   : Plantae

Divisi       : Pteridophyta

Classis      : Lycopodiacea

Ordo        : Selaginellales

Family      : Selaginellaceae

Genus      : Selaginella

Spesies     : Selaginella remotifolia

 

 

F.   Pembahasan

1.    Selaginella remotifolia

Selaginella ini memiliki batang berbaring dan sebagian berdiri tegak, bercabang-cabang menggarpu dan tidak meperlihatkan pertumbuan sekunder.  Dimana ia memiliki akar-akar yang keluar dari bagian-bagian batang yang tidak  memiliki daun dan  dinamakan pendukung akar. Habitatnya pada tanah atau ia dapat epifit pada bebatuan.

Memiliki protalium yang amat kecil yang merupakan suatu bulir tunggal atau bercabang, biasanya berbentuk  radial jarang sekali dorsiventral.  Sporangium membuka dengan  mekaisem kohesi dan telah mengikuti garis yang telah ditentukan. Dengan membukanya sporangium maka spora akan  terlempar keluar spora dan sporangium akan mengalami perkembangan membentuik protalium. Dimana dalam setiap protalium hanya terdapat satu anteredium saja yang terletak dipusat. Anteredium ini  yang akan mebelah lagi membentuk sel-sel yang membulat yang disebut sel-sel induk spermatozoid.

Protalium betina tidak mengalami reduksi perkembangan. Protalium betina berkembang dalam makrospora dimana inti spora akan  membelah secara bebas dan tersebar dalam plasma pada bagian atas spora, dimana pada akhirnya dinding makrospora akan pecah dan protalium yang terdiri atas sel-sel kecil yang tidak berwarna tersembul keluar dan membentuk tiga rizoid pada tiga tempat setelah satu atau bebrapa arkegonium dibuahi, mulailah perkembangan embrionya yang dimana  biasanya  embrio ini bersifat endoskopik.

 

G. Kesimpulan  Dan Saran

1.    Kesimpulan

Salah satu tumbuhan tingkat rendah yang terdapat di kebun raya unversitas mulawarman samarinda (KRUS) adalah Selaginella remotifolia.

Selaginella ini memiliki batang berbaring dan sebagian berdiri tegak, bercabang-cabang menggarpu dan tidak meperlihatkan pertumbuan sekunder.  Dimana ia memiliki akar-akar yang keluar dari bagian-bagian batang yang tidak  memiliki daun dan  dinamakan pendukung akar. Habitatnya pada tanah atau ia dapat epifit pada bebatuan.

2.    Saran

Sebaiknya kita sebagai mahasiswa dan juga sebagai masyarakat dapat menjaga dam memelihara kelestarian hutan agar kelestarian tumbuhan tingkat rendah tumbuhan paku, jamur, dan tumbuhan tingkat rendah yang lain tetap terjaga.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://ayrinz-keea-selaginella.blogspot.com/

http://dian-niezz.blogspot.com/2009/05/tumbuhan-paku-pteridophyta-tumbuhan.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Tumbuhan_paku

http://volcadot02.blogspot.com/SelaGinellA_Qeez

http://www.edukasi.net/index.php?mod=script&cmd=Bahan%20Belajar/Materi%20Pokok/view&id=349&uniq=3525

http://www.inforedia.com/2009/11/pteridophyta-atau-tumbuhan-paku.html

~ oleh Hae_RyN's pada April 6, 2012.

3 Tanggapan to “Selaginella remotifolia”

  1. very good submit, i definitely love this web site, carry on Selaginella remotifolia Hae_RyN's Blog

  2. My brother recommended I would possibly like this website. He was once entirely right. This submit actually made my day. You can not believe simply how much time I had spent for this info! Thank you!

  3. visit
    Possibly you have watched that brand-new film Grownup?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: