DIVERSITAS

 

1. Indeks Diversitas/Keanekaragaman

Kekayaan species dan kesamaannya dalam suatu nilai tunggal digambarkan

dengan Indeks Deversitas. Indeks diversitas mungkin hasil dari kombinasi kekayaan

dan kesamaan species .Ada nilai indeks diversitas yang sama didapat dari komunitas

dengan kekayaan yang rendah dan tinggi kesamaan kalau suatu komunitas yang sama

didapat dari komunitas dengan kekayaan tinggi dan kesamaan rendah . Jika hanya

memberikan nilai indeks diversitas, tidak mungkin untuk mengatakan apa pentingnya

relatif kekayaan dan kesamaan species . Diversitas dipresentasikan oleh Hill (1973 b)

dengan lebih mudah secara ekologi. Indeks keanekaragaman dapat digunakan untuk menyatakan hubungan

kelimpahan species dalam komunitas.

Keanekaragaman terdiri dari 2 komponen yakni :

  • Jumlah total spesies.
  • Kesamaan (Bagaimana data kelimpahan tersebar diantara banyak spesies itu).

 

Keanekaragaman spesies terdiri dari 2 komponen:

  • Jumlah species dalam komunitas yang sering disebut kekayaan species
  • Kesamaan species. Kesamaan menunjukkan bagaimana kelimpahan

species itu (yaitu jumlah individu, biomass, penutup tanah, dan

sebagainya) tersebar antara banyak species itu.

 

Contohnya : pada suatu komunitas terdiri dari 10 species, jika 90% adalah 1

species dan 10% adalah 9 jenis yang tersebar, kesamaan disebut rendah. Sebaliknya

jika masing-masing species jumlahnya 10%, kesamaannya maksimum. Beberapa

tahun kemudian muncul penggolongan indeks atas indeks kekayaan dan indeks

kesamaan. Setelah itu digabungkan menjadi Indeks Keanekaragaman dengan variable

yang menggolongkan struktur komunitas:

1)      Jumlah species

2)      Kelimpahan relatif species (kesamaan)

3)      Homogenitas dan ukuran dari area sample

 

2. Indeks Kekayaan

Indeks kekayaan species (S), yaitu jumlah total species dalam satu komunitas. S

tergantung dari ukuran sampel (dan waktu yang diperlukan untuk mencapainya), ini

dibatasi sebagai indeks komperatif (Yap,1979) . Karena itu, sejumlah indeks

diusulkan untuk menghitung kekayaan species yang tergantung pada ukuran sampel.

Ini disebabkan karena hubungan antara S dan jumlah total individu yang diobservasi ,

n, yang meningkat dengan meningkatnya ukuran sampel.

  • Indeks Margalef (1958) R1 = S – 1

In (n)

  • Indeks Menhirick (1964) R2 = S

Ön

 

3. Suksesi

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam komunitas dapat dengan mudah diamati dan seringkali perubahan itu berupa pergantian satu komunitas oleh komunitas lain. Dapat kita lihat misalnya pada sebidang kebun jagung yang setelah panen ditinggalkan dan tidak ditanami lagi. Disitu akan bermunculan berbagai jenis tumbuhan gulma yang membentuk komunitas. Apabila lahan itu dibiarkan cukup lama, dalam komunitas yang terbentuk dari waktu ke waktu akan terjadi pergantian komposisi jenis.
Pada masa awal dapat saja komunitas yang terbentuk tersusun oleh tumbuhan terna seperti badotan, rumput pahit, rumput teki, dan sebagainya. Tetapi beberapa tahun kemudian di tempat yang sama, yang terlihat adalah komunitas yang sebagian besar tersusun oleh tumbuhan perdu dan pohon seperti kirinyu, senduduk, laban, dan sebagainya, atau dapat pula hanya terdiri atas alang-alang. Bila tidak terjadi gangguan apa pun selama proses tersebut berjalan akan terlihat bahwa perubahan itu berlangsung ke satu arah.

Proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah secara teratur disebut suksesi. Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem yang disebut klimaks. Dikatakan bahwa dalam tingkat klimaks ini komunitas telah mencapai homeostatis. Ini dapat diartikan bahwa komunitas sudah dapat mempertahankan kestabilan internalnya sebagai akibat dari tanggap (respon) yang terkoordinasi dari komponen-komponennya terhadap setiap kondisi atau rangsangan yang cenderung mengganggu kondisi atau fungsi normal komunitas. Jadi bila suatu komunitas telah mencapai klimaks, perubahan yang searah tidak terjadi lagi

Dengan adanya artikel ini nantinya akan mengkaji lebih mendalam tentang konsep suksesi, seperti pengertian suksesi, jenis-jenis suksesi dan bagaimana konseps terjadinya klimaks pada suksesi

Suksesi vegetasi adalah: urutan proses pergantian komunitas tanaman di dalam satu kesatuan habitat, sedangkan menurut Salisbury adalah kecenderungan kompetitif setiap individu dalam setiap fase perkembangan sampai mencapai klimaks, dan menurut Clements adalah proses alami dengan terjadinya koloni yang bergantian, biasanya dari koloni sederhana ke yang lebih kompleks.  Adanya  pergantian komunitas cenderung mengubah lingkungan fisik sehingga habitat cocok untuk komunitas lain sampai keseimbangan biotik dan abiotik tercapai.

Suksesi tumbuhan adalah penggantian suatu komunitas tumbuh-tumbuhan oleh yang lain. Hal ini dapat terjadi pada tahap integrasi lambat ketika tempat tumbuh mula-mula sangat keras sehingga sedikit tumbuhan dapat tumbuh diatasnya, atau suksesi tersebut dapat terjadi sangat cepat ketika suatu komunitas dirusak oleh suatu faktor seperti api, banjir, atau epidemi serangga dan diganti oleh yang lain. perkembangan ekositem atau apa yang lebih sering disebut sebagai suksesi ekologi dapat ditakrifkan dari 3 parameter berikut ini:

1)   Suatu proses perkembangan komunitas yang teratur yang meliputi perubahan-perubahan dalam struktur jenis dan proses-proses komunitas dengan waktu;hal ini agak terarah dan karenanya dapat diramalkan

2)   Diakibatkan oleh perubahan lingkungan fisik oleh komunitas;yakni suksesi itu dikendalikan komunitas walaupun lingkungan fisik menentukan polanya, laju perubahan dan sering menetapkan batas-batas seperti misalnya berapa jauh perkembangan itu dapat berlangsung.

3)   Masalah itu memuncak dalam ekosistem yang dimantapkan dalam mana biomas maksimum (atau kandungan informasi yang tinggi) dan fungsi secara simbiotik antara makhluk dipelihara persatuan arus yang tersedia

Jenis-jenis suksesi

Berdasarkan kondisi habitat pada awal proses suksesi, suksesi dibedakan menjadi dua macam yaitu:

1. Suksesi primer:

Suksesi yang terjadi belum ada vegetasinya atau di daerah yang tadinya sudah ada vegetasi, kemudian terganggu (misalnya terbakar), sehingga daerah tersebut menjadi kosong sama sekali. Pada habitat tersebut tidak ada lagi organisme dan komunitas asal yang tertinggal sehingga pada substrat yang baru ini akan berkembang suatu komunitas yang baru pula.

2. Suksesi sekunder:

Suksesi yang terjadi pada habitat yang pernah ditumbuhi vegetasi kemudian mengalami gangguan, tetapi gangguan

tersebut tidak merusak total organisme sehingga dalam komunitas tersebut, substrat lama dan kehidupan masih ada. Perbedaan suksesi sekunder dan primer terletak pada kondisi habitat awal. Proses kerusakan komunitas disebut denudasi. Denudasi dapat disebabkan oleh api, pengolahan, angin kencang, hujan, gelombang laut dan penebangan hutan

  1. Suksesi dengan urutan normal. yang berasal dari adanya pengaruh terhadap vegetasi yang terus menerus dan cepat. Misalnya vegetasi rumput yang selalu terinjak-injak ternak, di mamah biak, dijadikan tempat beristirahat ternak, atau tempat berguling-guling ternak. Kondisi vegetasi akan mengalami Fasa perubahan selama ternak tetap berada di tempat itu.
  2. Suksesi dengan urutan berirama, yang berasal dari gangguan berulang-ulang, mungkin siklis tetapi mempunyai interval waktu antara satu gangguan dengan gangguan berikutnya. Misalnya terjadi pada perubahan vegetasi karena adanya proses rotasi dalam pemanfaatan lahan pertanian.
  3. Suksesi dengan urutan katastrofik, yang menjadi secara hebat dan tiba-tiba, tidak berirama, seperti meletusnya gunung berapi, gempa bumi, kebakaran, penebangan, pengeringan habitat akuatika, yang kesemuanya ini bisa menimbulkan dampak katastrofik pada komunitas tumbuhan, yang kemudian cepat atau lambat akan diikuti oleh suatu proses suksesi tumbuhan.

Clements (1974) membedakan 6 sub komponen dalam proses suksesi yaitu:

  1. Nudasi         : terbukanya lahan, bersih dari vegetasi
  2. Migrasi        : tersebarnya biji
  3. Eksesis         : proses perkecambahan, pertumbuhan dan reproduksi
  4. Kompetisi    : adanya pergantian spesies
  5. Reaksi          : perubahan habitat karena aktivitas spesies
  6.  Klimaks       : komunitas stabil

Suksesi merupakan proses yang menyeluruh dan kompleks dengan adanya permulaan, perkembangan dan akhirnya mencapai kestabilan pada fase klimaks. Klimaks merupakan fase kematangan yang final, stabil memelihara diri dan berproduksi sendiri dari suatu perkembangan vegetasi dalam suatu iklim.Ada beberapa macam tipe suksesi yaitu:

1. Hidrosere:

Tipe suksesi yang berkembang di daerah (habitat) perairan yang biasanya disebut Hidrarch. Vegetasi yang sering berganti dalam hidrarch disebut hidrosere. Tipe suksesi ini tidak memerlukan komunitas aquatik untuk menuju ke perkembangan komunitas daratan. Jika air yang ada itu dalam jumlah cukup besar dan sangat dalam atau jika air selalu bergerak kuat (beratus atau bergelombang) atau adanya kekuatan fisik lain, suksesi menghasilkan suatu komunitas aquatik yang stabil dan sukar mengalami pergantian. Jadi suksesi ini hanya terjadi jika kolonisasi komunitas tumbuhan menempati kolam buatan yang kecil dan dangkal, serta diikuti terjadinya erosi tanah di tepi danau, sehingga batas (tubuh) air akan semakin kecil dan hilang setelah waktu yang lama, Sebagai pelopor adalah tumbuhan air yang terendam, kemudian dirusak tumbuhan terapung seperti eceng gondok, kemudian rumpur rawa, rumput daratan, semak dan akhirnya pohon.

Pada kolam, eceng gondok berangsur-angsur akan menutup permukaan air, kemudian akumulasi seresahnya baru menumpuk di dasar kolam dan lama kemudian mengubah kolam menjadi rawa dengan jenis tumbuhan baru yang mematikan jenis tumbuhan sebelumnya. Secara berangsur-angsur kemudian habitat yang lebih kering dengan aerasi yang lebih baik yang akhirnya akan terjadi tanah yang cukup matang dan tebal

2. Halosere:Suksesi yang dimulai pada tanah bergaram atau air asin.

3. Xerosere: Suksesi vegetasi yang berkembang dalam daerah xerik atau kering, biasanya disebut xerarch. Ada dua macam yaitu: Psammosere : suksesi vegetasi yang dimulai pada daerah berpasir. Lithosere     : suksesi vegatasi yang dimulai pada batuan.

Suksesi xerik biasanya terjadi pada lahan yang tinggal batuan induknya saja. Dengan demikian tumbuhan yang mampu hidup disitu harus tumbuhan yang tahan kering dan mampu hidup di tanah miskin. Tumbuhan yang biasanya merupakan pioner adalah lumut kerak (Lichenes) dalam bentuk lapisan kerak. Dalam proses respirasi Lichenes akan mengeluarakan CO2 dan akan bereaksi dengan H2O sehingga menjadi H2CO3. Asam karbonat ini akan bereaksi dengan bahan-bahan dari batuan induk sehingga melepaskan ikatan partikel batuan. Partikel batuan yang lepas itu akan bereaksi dengan sisa-sisa Lichenes yang mengalami pembusukan, mengikat N yang terbawa oleh air hujan. Kondisi seperti itu tidak sesuai lagi bagi lumut kerak sehingga lumut kerak mati. Setelah itu akan muncul vegetasi jenis lain yaitu Thallus (Thallophyta). Begitu seterusnya vegetasi pertama akan memberikan pengaruh pada habitat yang tidak cocok untuk vegetasi kedua. Urut-urutan terjadinya proses ini:

Lumut kerak——-lumut kerak berdaun——–lumut ——— rumput-rumputan (herbaceus) ——— semak-semak (shrubs) ——- pohon-pohonan.

Tidak semua proses suksesi xerik seperti di atas. Kalau habitat permukaannya merupakan pasir maka akan dimulai oleh rumput tahan kering, baru kemudian semak dan pohon-pohonan

Penyebab Suksesi

  1. Iklim. Tumbuhan tidak akan dapat teratur dengan adanya variasi yang lebar dalam waktu yang lama. Fluktuasi keadaan iklim kadang-kadang membawa akibat rusaknya vegetasi baik sebagian maupun seluruhnya. Dan akhirnya suatu tempat yang baru (kosong) berkembang menjadi lebih baik (daya adaptasinya besar) dan mengubah kondisi iklim. Kekeringan, hujan salju/air dan kilat seringkali membawa keadaan yang tidak menguntungkan pada vegetasi.
  2. Topografi. Suksesi terjadi karena adanya perubahan kondisi tanah, antara lain: Erosi:  Erosi dapat terjadi karena angin, air dan hujan. Dalam proses erosi tanah menjadi kosong kemudian terjadi penyebaran biji oleh angin (migrasi) dan akhirnya proses suksesi dimulai. Pengendapan (denudasi): Erosi yang melarutkan lapisan tanah, di suatu tempat tanah diendapkan sehingga menutupi vegetasi yang ada dan merusakkannya. Kerusakan vegetasi menyebabkan suksesi berulang kembali di tempat tersebut.
  3. Biotik. Pemakan tumbuhan seperti serangga yang merupakan pengganggu di lahan pertanian demikian pula penyakit mengakibatkan kerusakan vegetasi. Di padang penggembalaan, hutan yang ditebang, panen menyebabkan tumbuhan tumbuh kembali dari awal atau bila rusak berat berganti vegetasi

Proses suksesi Menuju Klimaks

Suksesi tanaman merupakan perubahan keadaan tanaman. Suksesi yang menempati habitat utama disebut Sere. Sedangkan variasi yang terjadi diantaranya disebut Seral. Komunitas yang timbul pada susunan itu disebut Komunitas Seral. Biasanya komunitas seral itu tidak tampak dengan jelas, mereka kenal hanya karena beberapa spesies tanaman dominan tumbuh diantaranya. Tumbuhan pertama yang tumbuh di habitat yang kosong disebut tanaman Pioner.

Lazimnya suksesi tanaman tidak menunjukkan suatu seri tingkat-tingkat atau tahap-tahap tetapi terus menerus dan merupakan pergantian yang lambat dan kompleks. Penempatan individu vegetasi ini individu per individu, dan tidak merupakan loncatan-loncatan dari suatu komunitas dominan ke komunitas dominan yang lain. Spesies dominan dari suatu komunitas akan tetap stabil dalam jangka waktu yang lama. Kemudian akan bercampur dengan vegetasi baru. Vegetasi baru ini mungkin menggantikan vegetasi yang telah ada tetapi mungkin juga tidak (bila komunitas yang baru itu tidak menghendaki kondisi yang diciptakan menjadi dominan terutama dari segi kondisi pencahayaan).

Jika habitat menjadi ekstrem tidak memenuhi syarat untuk tumbuhnya tanaman-tanaman maka timbul tanaman dari komunitas berikutnya yang sesuai dengan lingkungan yang baru, kemudian tanaman ini menjadi dominan. Setelah beberapa kali mengalami pergantian semacam itu, suatu saat habitat akan terisi oleh spesies-spesies yang sesuai dan mampu bereproduksi dengan baik. Sehingga proses ini mencapai Komunitas Klimaks yang matang, dominan, dapat memelihara dirinya sendiri dan selanjutnya bila ada pergantian, maka pergantian itu relatif sangat lambat.

Karena iklim sendiri menentukan pembentukan klimaks maka dapat dikatakan bahwa klimaks klimatik dicapai pada saat kondisi fisik di sub stratum tidak begitu ekstrem untuk mengadakan perubahan terhadap kebiasaan iklim di suatu wilayah. Kadang-kadang klimaks dimodifikasi begitu besar oleh kondisi fisik tanah seperti topografi dan kandungan air. Klimaks seperti ini disebut klimaks edafik. Secara relatif vegetasi dapat mencapai kestabilan lain dari klimatik atau klimaks yang sebenarnya di suatu wilayah. Hal ini disebabkan adanya tanah habitat yang mempunyai karakteristik yang tersendiri.

Fasa klimaks ini mempunyai sifat-sifat tertentu dan yang terpenting adalah:

  1. Fasa klimaks merupakan sistem yang stabil dalam keseimbagannya antara lingkungan biologi dengan lingkungan non-biologinya
  2. Komposisi jenis pada fasa klimaks relatif tetap atau tidak berubah
  3. Pada fasa klimaks tidak ada akumulasi tahunan berlebihan dari materi organik, sehingga tidak ada perubahan yang berarti
  4. Fasa klimaks dapat mengelola diri sendiri atau mandiri

Contoh Suksesi

Beberapa contoh di bawah ini akan menggambarkan proses suksesi, baik hidrosere maupun xerosere, dan memperlihatkan bagaimana terjadinya perubahan struktur dan komposisi komunitas dari sederhana ke bentuk yang lebih kompleks.

1. Danau Gatun di Terusan Panama, Amerika Tengah (Hidrosere)

  • Komunitas tumbuhan air terapung, terdiri dari saliva Auriculata, pistiastratioites, Utricularia mixta, Jessieua natans
  • Komunitas teratai, Nymphaeampla bercampur dengan jenis-jenis diatas
  • Komunitas tumbuhan air menjulang, yang terbanyak adalah Typha angsutifollia, Acrostychum danaeifolium, Crinum erubescens, Hibiscus sorius, dan Sagitaria lancifolia
  • Komunitas rawa buluh, terdiri dari Cyperus giganteus, Scirpus cubensis dan jenis-jenis Cyperaceae lainnya.bersama-sama dengan rumput besar seperti Phraqmites communis dan Gynerium sagittatum, yag juga terdapat Jussieuasuffruticosa
  • Komunitas rawa belukar, terdiri dari Dalberqia ecastophyllaMontrichardia arborescens (herba dikotil) dan paku-pakuan. dan keladi tinggi

2. Danau Victoria di Afrika Timur (Hidroserea)

  • Vegetasi tumbuhan terapung dan terendam. Nymphaea ceratophyllum, Trapa dan lain-lain
  • Komunitas paku-pakuan dan Cyperaceae merupakan campuran antara paku-pakuan, Cyperaceae, Poaeceae dan herba
  • Rawa Lymnophyton dikuasai oleh Cyperus papyrus dan rumput Mischanthidium violaceum dengan Lymnophyton obtusitolium sebagai subdominan
  • Rawa papyrus, yang dominan hanya Cyperus papyrus disertai oleh jenis lainnya sebagai tambahan
  • Rawa palm Phoenix, banyak pohon-pohon yang tingginya 6-9 m diantaranya Phoenix reclinata dan Mitraqyna stipulosa
  • Hutan hujan

 

 

Sumber       :    Lumowa, sonja V.T. 2012 . Bahan Ajar Botani Tingkat Tinggi. Universitas mulawarman:samarinda

http://3gggue.blogspot.com/2012/04/interaksi-spesies-dan-konsep-komunitas.html

http://sriwidoretno.staff.fkip.uns.ac.id/ekologi-tumbuhan/

http://duniagil.wordpress.com/2011/03/06/suksesi/

http://ovyrachmasari.blogspot.com/2011_09_01_archive.html

http://earthhour.wwf.or.id/tentang.php

 

 

 

 

 

~ oleh Hae_RyN's pada April 26, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: