LAPORAN PRAKTIKUM BTT “Calamus sp.”

LAPORAN PRAKTIKUM BTT

“Calamus sp.”

(Rotan)

 A.  Tujuan

Untuk mengidentifikasikan tumbuhan tingkat tinggi yang terdapat di Bukit Bangkirai, Samboja.

B.  Dasar teori

1.    Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati atau biodiversitas (biodiversity) adalah suatu istilah pembahasan yang mencakup semua bentuk kehidupan, yang secara ilmiah dapat dikelompokkan menurut skala organisasi biologisnya, yaitu mencakup gen, spesies tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme serta ekosistem dan proses-proses ekologi dimana bentuk kehidupan ini merupakan bagiannya. Dapat juga diartikan sebagai kondisi keanekaragaman bentuk kehidupan dalam ekosistem atau bioma tertentu. Keanekaragaman hayati seringkali digunakan sebagai ukuran kesehatan sistem biologis.

Keanekaragaman hayati tidak terdistribusi secara merata di bumi, wilayah tropis memiliki keanekaragaman hayati yang lebih kaya, dan jumlah keanekaragaman hayati terus menurun jika semakin jauh dari ekuator. Ledakan keanekaragaman hayati  begitu cepat, namun secara periodik dan eventual juga terjadi kepunahan secara besar-besaran akibat aktivitas bumi, iklim, dan luar angkasa.

Indonesia dikaruniai kekayaan keanekaragaman hayati sangat tinggi dengan memiliki sekitar 90 tipe ekosistem, 40.000 spesies tumbuhan dan 300.000 spesies hewan. Keanekaragaman hayati itu mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia karena menjadi sumber penyediaan bahan pangan, sandang, papan, obat-obatan dan juga berfungsi sebagai penyedia sumber air, udara bersih dan untuk kepentingan pariwisata. Selain itu, tambahnya, keanekaragaman hayati juga menghasilkan devisa bagi sumber keuangan Negara seperti pada sektor industri, pertanian, kehutanan dan kesehatan, tambahnya. Keanekaragaman hayati juga membuka peluang besar pada industri, dan  tanaman industri adanya kecenderungan perubahan pasar dunia terhadap tanaman industri dan industri yang mulai beralih kepada tanaman tropis. Rotan menjadi salah satu perhatian.

2.    Famili Arecaceae (palma)

Famili ini merupakan famili tertua diantara tumbuhan berbunga. Hal ini berdasarkan penelitian fosil, anggota famili palmae telah dijumpai lebih kurang 120 juta tahun tang lalu. Batang berpenampang silindris denganbuku-buku yang pendek. Ada spesies yang batangnya mencapai 60 meter. Ada anggota famili ini yang memanjat, biasanya batangnya ramping dengan buku-buku yang panjang. Pada genus nypa, batangnya sangat pendek dan berada dibawah permukaan tanah. Bunganya mejemuk berupa malai atau butir yang bercabang-cabang yang biasanya disebut spadix yang diselimuti oleh seludang yang berkayu. Bung biasanya kecil, biseksual atau uniseksual. Perhiasan bunga biasanya terdiri dari segmen-segmen dalam dua lingkar. Benang sari biasanya 6 dalam dua lingkaran. Bakal buah diatas, biasanya 1-3 ruang dan setiap ruang mempunya sati bakal biji.

Famili ini mempunyai berupa pohon yang tertinggi, pemenjat kayu atau liana yang terbesar, mempunyai daun yang terbesar, mempunya bung majemuk yang terbesar,mempunyai biji yang terbesar diantara tumbuhan monokot lainnya. Anggota famili ini Tumbuhan ini merupakan terpenting ketiga setelah anggoya famili graminae dan leguminosae bagi kehidupan manusia. Banyak anggota dari famili ini yang dibudidayakan orang sebagai bahan makanan, minyak, serat, perabotan,banguna, tanaman hias, dan lain-lain.

  •  Rotan

Rotan adalah sekelompok palma dari kelompok Calameae yang memiliki habitus memanjat, terutama Calamus, Daemonorops, dan Oncocalamus. Kelompok Calameae sendiri terdiri dari sekitar enam ratus anggota, dengan daerah persebaran di bagian tropis Afrika, Asia dan Australasia. Ke dalam kelompok ini termasuk pula marga Salacca (misalnya salak), Metroxylon (misalnya rumbia/sagu), serta Pigafetta yang tidak memanjat, dan secara tradisional tidak digolongkan sebagai rotan. Sebagian besar rotan berasal dari hutan di Indonesia, seperti Sumatra, Jawa, Borneo, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Indonesia memasok 70% kebutuhan rotan dunia. Sisa pasar diisi dari Malaysia, Filipina, Sri Lanka, dan Bangladesh.

Rotan dalam struktur dunia tumbuh-tumbuhan termasuk Divisio Spermatophyta, sub divisio Angiospermae, class Monocotyledonae, Ordo Spacadiciflorae dan Famili/suku Palmae, dimana sampai saat ini sudah dikenal sebanyak 15 suku yaitu : Calamus, Daemonorops, Khorthalsia, Plectocomia, Ceratolobus, Plectocomiopsis, Myrialepis, Calospatha, Bejaudia, Cornera, Schizospatha, Eremospatha, Ancitrophylum dan Oncocalamus.

Dari jumlah suku yang telah ditemukan tersebut, telah diketahui sebanyak 9 suku dengan jumlah jenisnya, yaitu : Calamus (370 spp/jenis), Daemonorops (115 spp/jenis), Khorthalsia (31 spp/jenis), Plectocomia (14 spp/jenis), Ceratolobus (6 spp/jenis), Plectocomiopsis (5 spp/jenis), Myrialepis (2 spp/jenis), Calospatha (2 spp/jenis), dan Bejaudia (1 spp/jenis).

Di Indonesia sampai saat ini ditemukan sebanyak 8 jenis, yaitu Calamus, Daemonorops, Khorthalsia, Plectocomia, Ceratolobus, Plectocomiopsis, Myrialepis, dan Calospatha. Dari 8 suku tersebut total jenisnya di Indonesia mencapai tidak kurang dari 306 jenis penyebarannya di pulau Kalimantan sebanyak 137 jenis, Sumatera sejumlah 91 jenis, Sulawesi menyebar sebanyak 36 jenis, Jawa sejumlah 19 jenis, Irian 48 jenis, Maluku 11 jenis, Timor 1 jenis dan Sumbawa 1 jenis.

Sampai saat ini jumlah yang benar-benar diketahui memiliki sifat dan memenuhi syarat serta kualitas yang dipersyaratkan untuk berbagai penggunaan berjumlah 50 jenis dari jumlah tersebut yang benar-benar memiliki nilai komersial tinggi dan banyak dipungut dan diperdagangkan berkisar 27 jenis saja. Berikut ini akan disajikan informasi tentang habitus dan sifat-sifats 40 jenis rotan terpenting berdasarkan daya gunanya dan telah banyak diperdagangkan secara komersil. 40 Jenis rotan terpenting di Indonesia tersebut adalah :

Rotan Jernang besar ( Daemonorops draco Blume),Rotan Dahanan ( Korthalsia flagellaris Miq), Rotan Semambu ( Calamus scipionum Loue), Rotan Jermasin ( Calamus leocojolis ), Rotan Buyung ( Calamus optimus Becc), Rotan Mantang ( Calamus ornatus Blume), Rotan Dandan ( Calamus Schistolantus Blume), Rotan Inun ( Calamus scabridulus Becc), Rotan Tohiti, ( Calamus inops Becc), Rotan Manau ( Calamus manan Miq), Rotan Irit ( Calamus trachycoleus ), Rotan Taman ( Calamus caesius Blume), Rotan Lilin ( Calamus javensis Blume), Rotan Korod ( Calamus heteroides), Rotan Balukbuk ( Calamus burkianus ), Rotan Pelah ( Daemonorop rubra), Rotan Kirtung (Myrialepsis scortechinii), Rotan Pulut Merah ( Calamus Sp.), Rotan Getah ( Daemonorops angustifolia), Rotan Umbul ( Calamus simphysipus), Rotan Sega Ayer ( Calamus axillaris), Rotan Saloso ( Calamus sp.), Rotan Manau Riang ( Calamus oxleyanus), Rotan Loluo ( Calamus Sp), Rotan Batang ( Daemonorops robustus), Rotan Seel ( Daemonorops melanochaetes), Rotan Udang Semut (Korthalsia scaphigera Mart), Rotan Dahan (Korthalsia rigida Blume), Rotan Meiya (Korthalsia echinometra Becc.), (Plepcotniopsis geminiflorus Becc.), Rotan LowaRotan Sabut (Daemonorops hystrix (Griff) Mart,),R (Daemonorops periacantha Miq.), Rotan Pakak, Rotan Uwi Koroh (Daemonorops geniculata (Griff.) Mart.), Rotan Duduk (Daemonorops longipes (Griff.) Mart), Rotan Ulur (Calamus ulur Becc.), Rotan Manau Tikus (Calamus tumindus Furtado), Rotan Manau Padi (Calamus marginantus Mart.), Rotan Tunggal (Calamus laevigatus Mart.), Rotan Dago Kancil (Calamus conirostris Becc.) dan Rotan Lita (Daemonorops lemprolepis Becc), Rotan Manau (Calamus manan Miq)

Rotan secara umum memiliki warna batang kuning lansat, dengan diameter batang yang sudah dirunti berkisar 25 mm, panjang ruasnya 35 cm dengan total panjang batang bila merambat dewasa mencapai 40 meter.

Tempat tumbuhnya secara alami adalah didaerah Thailand, Semenanjung Malaya, Pulau sumatera dan Kalimantan. Kondisi iklim yang disukai adalah daerah beriklim basah, dan hidup baik ada ketinggian 50 – 600 meter diatas permukaan laut.

Tumbuh batangnya merambat di antara batang dan ranting pohon, tumbuhnya tunggal tidak berumpun, sehingga untuk pembudidayaanya hanya melalui biji.

Daunnya rotan manau majemuk menyirip, tiap daun terdiri dari kurang lebih 40 pasang anak daun. Bentuk anak daun bervariasi dari bentuk lanset sampai bulat telur lanset sunsang. Pelepah dan tangkai daunnya diselimuti duri yang tajam dan rapat. Rotan manau memiliki bungannya tersusun dalam tandan berbentuk malai, perbungaan tersebut berukuran panjang dan letaknya menggantung. Sedangkan rotan manau memiliki buah yang tidak terlalu besar, panjang kurang lebih 3 cm bersisik dan berbentuk lonjong.

Karena bentuk diameter batangnya yang besar, kuat dan kokoh, maka sebagian besar hasil akhir dari produknya dipakai bagi keperluan pembuatan rangka kursi, meja, tempat tidur, sofa, dan keperluan rangka furnitur lainya.

Batang rotan biasanya langsing dengan diameter 2-5cm, beruas-ruas panjang, tidak berongga, dan banyak yang dilindungi oleh duri-duri panjang, keras, dan tajam. Duri ini berfungsi sebagai alat pertahanan diri dari herbivora, sekaligus membantu pemanjatan, karena rotan tidak dilengkapi dengan sulur. Suatu batang rotan dapat mencapai panjang ratusan meter. Batang rotan mengeluarkan air, jika ditebas dan dapat digunakan sebagai cara bertahan hidup di alam bebas.

Rotan cepat tumbuh dan relatif mudah dipanen serta ditransprotasi. Ini dianggap membantu menjaga kelestarian hutan, kaerna orang lebih suka memanen rotan daripada kayu. Suatu batang rotan dapat mencapai panjang ratusan meter. Batang rotan mengeluarkan air jika ditebas dan dapat digunakan sebagai cara bertahan hidup di alam bebas. Badak jawa diketahui juga menjadikan rotan sebagai salah satu menunya. Rotan cepat tumbuh dan relatif mudah dipanen serta ditransprotasi. Ini dianggap membantu menjaga kelestarian hutan, karena orang lebih suka memanen rotan daripada kayu.

  • Rotan Taman (Calamus caesius Blume)
    • Rotan Taman,

wirotan Sega Hu, dan Sesah adalah nama yang diberikan untuk rotan Taman yang tumbuh di derah Kalimantan, nama rotan ini kalau tumbuh di daerah lainnya adalah Rotan Sega ( Aceh), rotan Segeu (Gayo), rotan Sego ( Sumatera Barat), rotan Sega benar/Segabuah ( Malaya).

Ciri-cirinya adalah :

  • Tempat tumbuhnya yang alami adalah di daerah yang kering, dataran rendah yang kering sampai berbukit-bukit. Jenis ini juga sudah sejak lama dibudidayakan oleh masyarakat Kalimantan Tengah yang berdiam didaerah sungai Mentaya, sungai Katingan, sungai Kahayan, dan daerah lainnya. Tumbuhnya berumpun, dan dalam setiap rumpunya bisa mencapai 100 batang dengan panjang setiap batang yang sudah dewasa mencapai 50 meter atau lebih.
  • Batangnya berwarna hijau kekuningan dan berubah menjadi kuning telur dan mengkilap apabila sudah dirunti dan kering. Diameter batangnya antara 4 – 11 mm, panjang ruas 15 – 30 cm.Daunnya berbentuk majemuk menyirip, dengan anak daun berbentuk lanset memanjang dan warna permukaan bawah anak daunnya yang khas putih kapur dan bagian atasnya hijau mengkilat. Selain itu bagian ujung anak daunnya melengkung keatas.
  • Panjang daun berikut cirrus 0.5 – 1,25 m. Seludang ditumbuhi duri berbentuk segitiga agak pendek.Buahnya berbentuk lonjong, panjang mencapai 1,5 cm, kulit buahnya bersisik, berwarna hijau dan akan berubah menjadi coklat kekuning-kuningan bila sudah masak.
  • Bunga rotan terbungkus seludang. Biasanya bunga jantan dan bunga betina berumah satu, tetapi ada juga yang berumah dua. Karena itu proses penyerbukan bunga dapat berlangsung dengan bantuan angin atau serangga penyerbuk.
  • Sama halnya dengan rotan Irit, maka rotan Taman merupakan bahan baku bagi keperluan pembuatan lampit rotan dan bahan baku dalam pembuatan anyaman.

Secara sosio-kultural, rotan telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari bagi orang Dayak.Orang Dayak seperti Masyarakat Dayak Benuaq-Tonyoi di Kalimantan Timur, banyak menggunakan rotan dalam kegiatan ritual upacara-upacara adat dan kehidupan sehari-hari, Kebun rotan merupakan salah satu sistem agroferestry yang tertua di Indonesia.

Rotan ditanam bersamaan atau hampir bersamaan dengan musim tanam padi. Yang unik dari system agroforestry kebun rotan adalah pola penanaman tidak diatur dengan jarak tanam tertentu seperti kebun karet.

3.    Manfaat Rotan

Dunia mengenal Indonesia sebagai negara penghasil rotan terbesar di dunia. Indonesia memasok 70% kebutuhan rotan dunia. Sisa pasar diisi dari Malaysia, Filipina, Sri Lanka, dan Bangladesh.Sekitar 300dari 600 jenis rotan dunia berasal dari Indonesia. Sebagian besar rotan berasal dari hutan di Malesia, seperti Sumatra, Jawa, Borneo, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.Sebagian kecil sudah dibudidayakan oleh masyarakat lokal. Mereka adalah Masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah dan KalimantanTimur.

Rotan yang umum dipergunakan dalam industri tidaklah terlalu banyak. Beberapa yang paling umum diperdagangkan adalah Manau, Batang, Tohiti, Mandola, Tabu-Tabu, Suti, Sega, Lambang, Blubuk, Jawa, Pahit, Kubu, Lacak, Slimit, Cacing, Semambu, serta Pulut. Beberapa rotan mengeluarkan getah (resin) dari tangkai bunganya. Getah ini berwarna merah dan dikenal di perdagangan sebagai dragon’s blood (“darah naga”). Resin ini dipakai untuk mewarnai biola atau sebagai meni.

Pemanfaatan rotan terutama adalah sebagai bahan baku mebel, misalnya kursi, meja tamu, serta rak buku. Rotan memiliki beberapa keunggulan daripada kayu, seperti ringan, kuat, elastis / mudah dibentuk, serta murah. Kelemahan utama rotan adalah gampang terkena kutu bubuk “Pin Hole”. Batang rotan juga dapat dibuat sebagai tongkat penyangga berjalan dan senjata. Berbagai perguruan pencak silat mengajarkan cara bertarung menggunakan batang rotan. Di beberapa tempat di Asia Tenggara, rotan dipakai sebagai alat pemukul dalam hukuman cambuk rotan bagi pelaku tindakan kriminal tertentu.

Pembukaan kawasan hutan alam bagi keperluan pemukiman penduduk, perkebunan besar, pertanian dan lain sebagainya, dapat mengakibatkan rotan semakin sulit diperoleh. Oleh karena itu sudah waktunya untuk melestarikan rotan melalui gerakan penanaman rotan di lahan-lahan milik masyarakat dan upaya perlindungan sumber-sumber genetika rotan yang masih tersisa di dalam kawasan hutan negara. Maksud pembudidayaan rotan adalah untuk meningkatkan kelestarian rotan, baik potensi maupun kwalitasnya. Tujuannya adalah dengan meningkatkan potensi sumber daya rotan, maka terpenuhinya bahan baku industri rotan dalam upaya peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya para petani rotan.

Oleh karena itu keberadaan rotan terutama yang digunakan sebagai bahan baku industri yang mampu menguasai pangsa pasar industri dunia mesti dijaga. Spesies-spesies rotan yang dimanfaatan harus tetap dikontrol keberadaannya sehingga bisa ditangani agar spesies tersebut tidak tergolong dalam kelompok spesies yang rentan untuk kepunahan. Keanekaragaman hayati dari rotan ini berperan dalam kehidupan bangsa. Dengan adanya rotan masyarakat asli (Suku Anak dalam/ dayak) lebih jarang menebang pohon, karena mereka bisa memanfaatkan rotan. Selain itu, kreatifitas masyarakat tersebut dapat dibentuk dengan membuat industri yang berasal dari rotan. Hal ini tentunya akan menunjang nilai ekonomimasyarakat asli disekitar hutan.

Kebiasaan masyarakat asli Indonesia yakni memanfaatkan rotan sebagai kebutuhan utama hidup mereka. Ada yang menjadikan rotan sebagai bahan pangan. Ada yang mengolahnya menjadi bahan untuk tempat tinggal mereka, baik itu menjadi dinding, atap ataupun alas (tikar) rumah mereka.

Rotan memiliki peranan yang sangat berarti bagi masyarakat dan bangsa. Selain menjadi kebutuhan sendiri. Hasil yang diciptakan dari industri rotan mampu menjadi salah satu daya saing bangsa kita di pangsa pasar dunia. Sudah banyak trobosan industri masyarakat yang berbahan baku rotan menembus pasar dunia, dan hasil karyanya dicintai oleh masyarakat dunia. Pastinya rotan berperan dalam kelangsungan hidup bangsa. Banyak matapencaharian yang terbentuk dari industri rotan. Berkurangnya penebangan pohon oleh suku anak dalam karena masih adanya rotan, sehingga kelestarian hutan masih terjaga.

Rotan yang umum dipergunakan dalam industri tidaklah terlalu banyak. Beberapa yang paling umum diperdagangkan adalah Manau, Batang, Tohiti, Mandola, Tabu-Tabu, Suti, Sega, Lambang, Blubuk, Jawa, Pahit, Kubu, Lacak, Slimit, Cacing, Semambu, serta Pulut.

Setelah dibersihkan dari pelepah yang berduri, rotan asalan harus diperlakukan untuk pengawetan dan terlindung dari jamur Blue Stain. Secara garis besar terdapat dua proses pengolahan bahan baku rotan: Pemasakan dengan minyak tanah untuk rotan berukuran sedang /besar dan Pengasapan dengan belerang untuk rotan berukuran kecil.

Selanjutnya rotan dapat diolah menjadi berbagai macam bahan baku, misalnya dibuat PeelSanded Peel, dipoles /semi-poles, dibuat core, fitrit atau star core. Adapun sentra industri kerajinan dan mebel rotan terbesar di indonesia terletak di Cirebon (kupasan)

Pemanfaatan rotan terutama adalah sebagai bahan baku mebel, misalnya kursi, meja tamu, serta rak buku. Rotan memiliki beberapa keunggulan daripada kayu, seperti ringan, kuat, elastis / mudah dibentuk, serta murah. Kelemahan utama rotan adalah gampang terkena kutu bubuk “Pin Hole”.

Batang rotan juga dapat dibuat sebagai tongkat penyangga berjalan dan senjata. Berbagai perguruan pencak silat mengajarkan cara bertarung menggunakan batang rotan. Di beberapa tempat di Asia Tenggara, rotan dipakai sebagai alat pemukul dalam hukuman cambuk rotan bagi pelaku tindakan kriminal tertentu.

Beberapa rotan mengeluarkan getah (resin) dari tangkai bunganya. Getah ini berwarna merah dan dikenal di perdagangan sebagai dragon’s blood (“darah naga”). Resin ini dipakai untuk mewarnai biola atau sebagai meni.

Masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah memanfaatkan batang rotan muda sebagai komponen sayuran.

4.    Habitat Rotan

Rotan merupakan tumbuhan memanjat yang gigih dan hampir dapat tumbuh di setiap daerah seperti : Species Calamus manan dan C. ornatus, yang tumbuh di Hutan Primer dan species Plectocomiopsis geminiflora tumbuh dihutan sekunder karena membutuhkan banyak cahaya dalam perkembangan tumbuhnya.Habitat rotan pada umumnya pada daerah yang tinggi, tumbuh normal pada daerah yang tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering. Sedikit rotan yang mampu bertahan hidup pada daerah yang kering dan daerah yang tergenang air atau banjir berkepanjangan.

C.  Alat Dan Bahan

1.    AlatKantong Plastik Besar

  1. Kamera
  2. Buku Taksonomi Tumbuhan
  3. Tali rafia
  4. Pasak kayu
  5. 2.    Bahan

Calamus sp.

D.    Prosedur Kerja

    1. Berjalan ke lokasi tumbuhnya specimen secara berkelompok
    2. Menentukan lokasi pengamatan spesimen.
    3. Membuat plot berbentuk segiempat dengan ukuran 10×10 m.
    4. Mengamati specimen yang ditemukan didalam plot yang sudah dibuat.
    5. Mengambil gambar specimen yang ditemukan dengan kamera.
    6. Pengidentifikasian
      1. Mengumpulkan semua gambar specimen yang ditemukan.
      2. Membuka  buku/ atlas/ gambar tumbuhan paku, lumut, dan jamur yang dimiliki, kemudian  mencocokkan dengan specimen yang ditemukan untuk identifikasi nama.
      3. Spesimen yang telah teridentifikasi nama spesiesnya, kemudian  segera menyusun klasifikasinya.
  1. E.  Hasil Pengamatan

Klasifikasi   :     

Kingdom       : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom  : Tracheobionta (Tumbuhan    berpembuluh

Super Divisi           : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi            : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas             : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas      : Arecidae

Ordo             : Arecales

Famili           : Arecaceae (suku pinang-pinangan)

Genus           : Calamus

Spesies          : Calamus caesius

 

F.     Pembahasan

Rotan adalah sekelompok palma dari kelompok Calameae yang memiliki habitus memanjat. Rotan dalam struktur dunia tumbuh-tumbuhan termasuk Divisio Spermatophyta, sub divisio Angiospermae, class Monocotyledonae, Ordo Spacadiciflorae dan Famili/suku Palmae, dimana sampai saat ini sudah dikenal sebanyak 15 suku yaitu : Calamus, Daemonorops, Khorthalsia, Plectocomia, Ceratolobus, Plectocomiopsis, Myrialepis, Calospatha, Bejaudia, Cornera, Schizospatha, Eremospatha, Ancitrophylum dan Oncocalamus.

Rotan secara umum memiliki warna batang kuning lansat, dengan diameter batang yang sudah dirunti berkisar 25 mm, panjang ruasnya 35 cm dengan total panjang batang bila merambat dewasa mencapai 40 meter

Tempat tumbuhnya yang alami adalah di daerah yang kering, dataran rendah yang kering sampai berbukit-bukit.Kondisi iklim yang disukai adalah daerah beriklim basah, dan hidup baik ada ketinggian 50 – 600 meter diatas permukaan lautJenis ini juga sudah sejak lama dibudidayakan oleh masyarakat Kalimantan Tengah yang berdiam didaerah sungai Mentaya, sungai Katingan, sungai Kahayan, dan daerah lainnya. Tumbuhnya berumpun, dan dalam setiap rumpunya bisa mencapai 100 batang dengan panjang setiap batang yang sudah dewasa mencapai 50 meter atau lebih.

Batangnya berwarna hijau kekuningan dan berubah menjadi kuning telur dan mengkilap apabila sudah dirunti dan kering. Diameter batangnya antara 4 – 11 mm, panjang ruas 15 – 30 cm.Daunnya berbentuk majemuk menyirip, dengan anak daun berbentuk lanset memanjang dan warna permukaan bawah anak daunnya yang khas putih kapur dan bagian atasnya hijau mengkilat. Selain itu bagian ujung anak daunnya melengkung keatas.

Panjang daun berikut cirrus 0.5 – 1,25 m. Seludang ditumbuhi duri berbentuk segitiga agak pendek.Buahnya berbentuk lonjong, panjang mencapai 1,5 cm. Daunnya rotan majemuk menyirip, tiap daun terdiri dari kurang lebih 40 pasang anak daun. Bentuk anak daun bervariasi dari bentuk lanset sampai bulat telur lanset sunsang. Pelepah dan tangkai daunnya diselimuti duri yang tajam dan rapat kulit buahnya bersisik, berwarna hijau dan akan berubah menjadi coklat kekuning-kuningan bila sudah masak.

Bunga rotan terbungkus seludang. Biasanya bunga jantan dan bunga betina berumah satu, tetapi ada juga yang berumah dua. Karena itu proses penyerbukan bunga dapat berlangsung dengan bantuan angin atau serangga penyerbuk.

 

G. Kesimpulan dan Saran

1.    Kesimpulan

Salah satu tumbuhan tingkat tinggi yang ditemukan di bukit bangkirai adalah rotan dengan nama latin Calamus caesius. Tumbuhan rotan banyak ditemukan diwilaya kalimantan dan sulawesi. Cirinya yang dimiliki oleh rotan adalah batangnya yang  berduri, Biasanya bunga jantan dan bunga betina berumah satu, Diameter batangnya antara 4 – 11 mm, panjang ruas 15 – 30 cm.Daunnya berbentuk majemuk menyirip, dengan anak daun berbentuk lanset memanjang dan warna permukaan bawah anak daunnya yang khas putih kapur dan bagian atasnya hijau mengkilat. proses penyerbukan bunga dapat berlangsung dengan bantuan angin atau serangga penyerbukan. Serta sistem perakaran serabut.

2.    Saran

Sebaiknya kita sebagai mahasiswa dan juga sebagai masyarakat dapat menjaga dam memelihara kelestarian hutan agar tumbuhan tingkat tinggi  tetap terjaga. Sehingga kita dapat mempertahankan fungsi hutan sebagaimana mestinya.

DAFTAR PUSTAKA

Sudartani,Hartono.1996. Tumbuhan Monokotil.Penebar Swadaya:Jakarta

http://bhimashraf.blogspot.com/2010/10/rotan-keanekaragaman-hayati-indonesia.html

http://kebunrayaenrekang.com/rotan-calamus-rotang/.htm

http://wulandarijepara.blogdetik.com/2011/12/09/tanaman-rotan-solusi-radang-tenggorokan/

http://www.dephut.go.id/informasi/mki/07%20III/Artikel,%20Rotan.htm

http://www.ilmupengetahuan.net/tag/tumbuhan-rotan/

~ oleh Hae_RyN's pada Mei 13, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: