I Can’t Forget Ur Luv (1st Chapter)

Hhmmm… rasanya malu banget buat posting ini ff… sumpah, ini ff pertama yang berhasil hae buat setelah kisah-kisah lain yang biasanya nggak pernah ketemu garis finishnya.. tapi ga ada salahnya buat dipajang disini kan… semoga ada yang baca, hahahaha… buat teman2 yang baru berniat buat baca, sebelumnya hae mau minta maaf kalau cerita n alurnya agak sedikit aneh..harap maklum yah…

Cerita ini asli Cuma karangan belaka,  ga ada maksud menyindir atau menyinggung….. Dan sangat dinantikan jejak dari para pembaca.. sangat diharapkan commentnya , bashingpun nggak masalah.. yang penting nampak ‘sesuatu’ lah dikolom komment hae… Terima Kasih dan selamat membaca…

 

I Can’t Forget Ur Luv

Title : I Can’t Forget Ur Luv

Author : HaeRyn

Length : chapter        

Cast : 2Min

Genre : ??????

 

Chapter 1

^Tae Min Nie POV^

Kriiiiiiiiing….

Suara dering dari jam weaker yang ku pasang sudah berbunyi nyaring. Saatnya untuk bangun. Dengan malas kubuka mata dan menjulurkan tangan kananku untuk menghentikan suara bising yang memekikkan telinga itu. Jarum dijam telah menunjukan angka 6 pagi. Terlalu pagi memang, tapi aku harus segera bangun. Karena hari ini adalah hari pertama aku masuk kerja.

Ah.. maaf aku lupa memperkenalkan diri.

Namaku Tae Min Nie. Tapi orang-orang disekitarku selalu memanggilku dengan sebutan Taemin. Sebenarnya aku tidak terlalu suka dipanggil dengan nama itu, karena Taemin adalah nama seorang pria dan aku bukan pria. Aku lebih suka jika orang memanggilku dengan Minnie, seperti yang biasa dilakukan oleh ketua panti asuhan, tapi sayangnya hanya beliau yang memanggilku dengan nama itu.

Lahir tanpa orang tua mengharuskan aku untuk tinggal di panti asuhan (PA). Kata ketua PA, nama Tae Min Nie adalah nama pemberian orang tuaku, karena saat salah satu pengurus PA menemukan aku didekat pintu gerbang PA ada sehelai kertas terselip di lipatan bajuku yang isinya meminta mereka (pengurus PA)untuk menamaiku dengan nama yang menurutku sangat aneh itu.

Lupakan soal nama, itu sangat tidak penting. Sekarang aku sedang mematut diri didepan cermin besar yang berada dikamarku. Berputar kesana kemari Memperhatikan penampilan baruku yang mengenakan seragam berwarna putih kebiru-biruan, dengan sepatu kets ringan berwarna putih.

“sempurna..” gumamku masih berdiri didepan cermin. Kalau dilihat-lihat Seragam  ini membuat badanku yang pendek tampak semakin pendek. Tapi yah…biarlah, aku senang dan merasa bangga bila memakainya. Kini saatnya berangkat ketempat karja. Rumah sakit seoul, aku datang.

~~~~~~

Bangunan besar yang kini berdiri kokoh didepan hidungku membuat diriku sedikit ragu. Tapi keadaan memaksaku untuk melangkah maju. Sudah susah payah mendapatkan tempat kerja sebagus ini mustahil aku sis-siakan begitu saja. Sekarang bukan waktunya untuk ragu dan mundur seperti pengecut.  Aku menghirup udara sebanyak mungkin kemudian menghembuskannya kembali  “aku pasti bisa”

~~~~~

Sesuai  yang dikatakan saat aku melamar pekerjaan dua hari yang lalu, sekarang aku berjalan perlahan menuju ruang istirahat para perawat yang ada dilantai tiga rumah sakit ini untuk menemui seseorang yang bernama Jung Sung Mee(kantornya berada diruang istirahat). Orang-orang biasa memanggilnya suster Jung, Beliau adalah perawat senior di bagian penyakit dalam. Entah kenapa mereka menempatkan aku dibagian ini dan hanya akan merawat…. satu orang ?

“orang yang akan menjadi pasien tetapmu namanya Choi Min Ho. dia mempunyai jantung yang lemah dan kelainan pada paru-parunya, bawaan sejak lahir. Karenanya dia tidak bisa banyak beraktivitas” ujar suster Jung yang duduk di hadapanku.

Sekarang kalian bisa menebak pekerjaanku bukan ? benar, sejak aku lulus dari akademi keperawatan dua bulan yang lalu, kini aku resmi menjadi seorang perawat. Cita-citaku sejak dulu. Atas kebaikan ketua PA dan sedikit beasiswa yang berhasil ku dapatkan membuatku bisa meraih impianku, walau jalan yang ku tempuh tidak mudah. Karena alasan jarak yang jauh, sekarang aku lebih memilih untuk tinggal sendiri diapartmen kecil yang tidak jauh dari tempat kerjaku daripada di PA.

“minho sudah berada disini sejak dia masih kecil, orang tuanya terlalu sibuk untuk menjenguknya setiap hari. karena merasa ditinggalkan dia menjadi sedikit keras kepala. Tapi aku tau kalau dia sangat kesepian, karena itu kalau bisa kau harus selalu menemaninya. Kau boleh membantu perawat lain yang membutuhkan bantuanmu kalau kau sedang senggang” suster jung masih memberikan penjelasan tentang orang yang akan ketemui selanjutnya. Aku hanya diam mendengarkannya baik-baik.

Ditinggalkan ? aku pernah mengalami hal yang sama. Tapi aku tidak pernah merasa sepenuhnya ditinggalkan karena aku sama sekali tidak pernah melihat wujud dari orang tuaku, berusaha mencari tahu siapa merekapun tidak. Lebih baik seperti ini, terkadang mengetahui sesuatu bukanlah hal yang terbaik. Lagipula di PA aku punya teman dan orang-orang pengganti orang tua yang sayang padaku.

“minho harus minum obat setiap jam 12 siang dan jam 6 sore. Kau harus hati-hati jangan sampai melupakannya. Obatnya sudah aku siapkan, jadi kau tinggal mengambil dan mengantarnya pada minho. Kau mengerti?”

“ ya suster..”

“ aku tidak bisa memperkenalkan kau pada minho karena urusanku dibagian anak. Kau bisa kesana sendiri kan ? dia dirawat diruang VVIP nomor 1. Sebentar lagi waktunya untuk minum obat, kau boleh memulai pekerjaanmu”

“ kalau begitu saya permisi suster Jung” aku membungkuk sedikit kemudian berbalik hendak pergi, tapi  suster Jung menghentikan kakiku yang bahkan belum sempat melangkah.

“ah suster Tae Min Nie..aku lupa bilang, kalau kau kepayahan mengurus anak itu segera hubungi aku” ujar suster Jung lagi. Karena bingung aku memiringkan kepalaku sediki, tapi segera kukembalikan ke posisi semula.

“baik..” akupun pergi dari ruangan Suster Jung, menelusuri lorong putih mencari kamar inap orang yang bernama Choi Min Ho yang akan menjadi pasien pertama dan akan menjadi pasien tetapku.

Seperti apa Choi Min Ho itu sampai harus dirawat oleh perawat pribadi segala, kalau ku lihat sepertinya dia adalah Pasien kesayangan Suster Jung. Orang ini membuatku sedikit penasaran.

Tiba didepan pintu ruang yang kutuju, lagi-lagi aku merasa ragu. Tapi pengalaman yang ku dapat waktu magang ketika masih di akademi keperawatan kurasa bisa sedikit membantu. Dengan sangat pelan ku buka pintu pembatas antara aku dengan orang yang berada didalam sana. Begitu masuk aku melihat seorang laki-laki yang merupakan satu-satunya penghuni kamar VVIP ini sedang duduk bersandar diatas tempat tidurnya sambil membaca buku.

“selamat pagi minho-ssi…” sapaku berusaha tersenyum ramah.

“siapa kau ?” minho menatapku dengan tajam dan kurang bersahabat. Sudah kuduga kata itu yang akan keluar lebih dulu dari mulutnya.

“ aku Tae Min Nie, perawat baru dirumah sakit ini. Aku yang akan menjagamu mulai saat ini”

Minho menatapku dengan tatapan aneh, seperti menyelidik siapa diriku dan apa keinginanku “ aku tidak butuh kau. Panggilkan aku suster Jung” minho kembali menatap bukunya.

Aku mendesah. Ternyata Suster Jung benar, orang ini keras kepala, sepertinya dia orang yang susah dijinakkan. “ suster Jung dipindahkan ke bagian anak, dia memintaku untuk mengantikannya merawatmu. Kalau kau butuh sesuatu kau bisa bilang padaku”

Minho tidak menjawab, matanya tetap terpaku pada buku yang sedang dibacanya. Tangan panjangnya yang terlihat kurus bergerak pelan membalik lembar demi lembar buku yang dipegangnya.

“minho-ssi, bagaimana kalau sekarang kau minum obat ?” aku berusaha mencairkan suasana sambil menyodorkan 5 jenis obat yang harus diminum olehnya

“aku tidak mau”

“tapi minho-ssi..”

Prakk…

Minho menepis tanganku yang sedang menyodor obat dengan kasar hingga obat-obat itu berhamburan dilantai. Minho menatapku matanya yang  tajam seolah-olah berkata ‘jangan dekati aku’. Aku balas menatapnya lalu dengan malas memunguti satu persatu obat-obat yang berserakan dilantai kemudian keluar dari ruangan itu.

~~~~~~

Aku menyandarkan badanku dipintu. Berpikir keras apa yang harus aku lakukan. Tidak menyangka akan mendapatkan pasien pertama yang susah seperti minho. Terlebih lagi aku hanya bisa menghabiskan waktu bersamanya. Orang seperti itu bagai mana cara mendekatinya. Apa aku bisa merawatnya ya ?

“tidak kusangka kau akan memanggilku secepat ini suster Tae Min Nie..”suster jung sudah berdiri disampingku. Aku sama sekali tidak menyadari kedatangannya. segera kuperbaiki posisi badanku menjadi berdiri tegak.

“ suster Jung…”

“ kau sudah membawa obat yang baru?”

“iya.. ini obatnya”

Suster jung meraih obat-obatan yang ada ditangan kananku “tunggulah disini. Aku akan menjelaskan siapa dirimu pada minho”

“anu…”

“ada apa ?”

“maafkan saya…”

“bukan masalah… aku bisa maklum. Bukan kau seorang yang diperlakukan seperti itu oleh minho” suster jung pun segera menghilang dibalik pintu.

~~~~~~~

Choi Min Ho. Itulah nama seseorang yang sebenarnya sangat kesepian tapi berpura-pura tidak peduli. Hanya itu yang bisa kutangkap dari dalam diri choi min ho. Sudah beberapa minggu aku bekerja untuk mengurusnya, tapi sampai sekarang minho belum mau menerimaku sebagai perawatnya, sama sekali tidak ada perubahan. Bahkan dia masih tidak mau minum obatnya tanpa suster jung. Oh tuhan.. apa yang harus aku  lakukan ?

Saat ini minho sedang beristirahat siang, setelah berbincang-bincang sebentar dengan suster jung akhirnya minho terlelap ditempat tidurnya. Wajahnya yang kurus dan pucat terlihat begitu tenang. Meski terlihat sedikit pucat Tidak bisa dipungkiri kalau minho memiliki wajah yang cukup tampan, sangat tampan malah. Hanya sayang, dia tidak pernah tersenyum didepan orang lain kecuali dihadapan suster jung. Entah apa yang membuat minho dekat dengan suster jung. Jujur saja hal itu membuatku sedikit iri.

Minho hanya menghabiskan harinya yang panjang dengan membaca buku dan sesekali menatap keluar jendela sambil termenung. Terkadang aku penasaran dengan apa yang dipikirkannya.

Aku baru tahu kalau minho lebih tua dua tahun dariku. Kalau itu benar berarti sekarang dia berumur 23 tahun. Dan sejak kecil hidupnya hanya berada dirumah dan rumah sakit saja. Kelainan pada paru-parunya menyebabkan volume paru-parunya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan orang lain. Selain itu jantungnya juga sangat lemah. Dokter yang merawat minho mengatakan hal terlarang yang tidak boleh dilakukan minho adalah berlari, karena lari dapat membunuhnya seketika. Aku tidak bisa membayangkan bila aku hidup seperti itu. Tidak bisa melakukan apapun yang diinginkan pasti sangat membosankan.

Terlihat sedikit gerakan diMata minho. Perlahan tapi pasti mata kecilnya mulai terbuka, dengan sedikit mengerjap-ngerjap kini mata minho sudah menatap langit-langit kamarnya.

Aku yang dari tadi diam disofa mencoba beranjak mendekati minho yang baru saja terjaga dari tidurnya “ selamat sore minho. Tidurmu nyenyak ?”

Minho menolehkan wajahnya kearahku. Pandangannya tidak pernah berubah sejak pertama kali bertemu denganku, tetap saja dingin dan tajam. Tapi aku sudah mulai terbiasa menerima tatapannya yang tidak bersahabat itu. Sejak masih berada diapartmen tadi pagi aku sudah membulatkan tekat, Aku tidak boleh merepotkan suster jung lebih dari ini. Sekarang aku harus bisa membuatnya menurut padaku. “ karena kau sudah bangun, bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar?”

“aku tidak mau” minho berbalik membelakangiku.

“kenapa kau selalu berkata ‘tidak’ padaku ?” Minho tidak menggubris pertanyaanku. Dia tetap dia dalam posisinya. Dengan langkah besar aku berjalan kesisi lain tempat tidur minho “ayo bangun, kau bisa berjalan bukan ? ayo gerakan sedikit badanmu itu”

Minho menatapku dengan marah. “apa hakmu memerintahku seperti itu?”

“aku berhak karena aku adalah sustermu” aku sedikit berteriak saat mengucapkan kalimat itu dengan nada membentak. Minho terdiam menerima bentakanku. Meski sudah hilang aku sempat melihat wajah minho yang kaget. Tidak hanya dia yang kaget, akupun juga sangat shock karena telah berteriak didepan orang yang sedang sakit. Padahal hal itu sangat tabu dilakukan oleh seorang perawat sepertiku.

“jadi kau mau keluar apa tidak ?” tanyaku dengan sedikit menurunkan suaraku.

Minho menghela nafas panjang “ aku kalah… ayo kita keluar”

~~~~~~

Indahnya warna-warni bunga menghiasi hampir setiap pelosok taman rumah sakit seoul yang luas, sekarang memang sedang musim semi. Ditengah taman terdapat sebuah kolam yang ditumbuhi teratai berwarna pink keungu-unguan, cantik sekali. Jujur saja, ini pertama kalinya aku menelusuri taman ini. Biasanya aku hanya melihat taman ini dari jendela yang ada dikamar minho.

“kenapa kau diam saja ? kau marah padaku ?” aku terus mendorong kursi roda yang diduduki oleh minho. Minho sebenarnya bisa berjalan atau setidaknya masih sanggup berjalan dengan kaki-kakinya. Hanya saja aku tidak mau terjadi apa-apa pada makhluk yang sepertinya sangat rapuh ini.

“aku bosan melihat taman ini” celetuk minho dingin. Wajar saja kalau dia merasa bosan, sejak kecil hanya taman ini yang dapat dilihatnya sepanjang tahun meskipun musim terus berganti.

“jangan begitu…rasakanlah semilir angin yang lembut ini” aku berhenti mendorong kursi roda minho ketika melihat sebuah kursi taman yang kosong. Aku menempatkan minho disamping kursi itu agar kami bisa duduk sejajar “sepertinya kau tidak suka bicara..”

“apa yang harus aku bicarakan?” minho menatap lurus kolam yang ada didepannya.

“entahlah” aku mengikuti arah pandangan minho “hei ceritakan tentang dirimu”

“untuk apa ? kau pasti sudah mengetahuinya” minho masih menatap kearah kolam. Dia memang benar, aku sudah mengetahui tentang dirinya dan penyakitnya baik membaca datanya atau bertanya pada orang-orang rumah sakit yang pernah berhubungan dengan minho. “kau saja yang bercerita tentang dirimu”

Ck.. orang ini, sedikit sekali kata yang keluar dari mulutnya. Otakku berputar memikirkan dari mana aku harus memulai ceritaku. “aku seorang yatim piatu..”

minho yang sejak tadi hanya menatap kolam, sekarang memalingkan wajahnya kepadaku. Aku membalas tatapannya yang mengisyaratkan tanda tidak percaya lalu tersenyum kecil “kau tidak percaya?”

“siapa yang akan percaya padamu?”

“kau tahu.. aku tidak pernah melihat wajah kedua orang tuaku” minho masih menatapku, aku tersenyum lagi. “ meski aku lebih sehat.. tapi ku rasa kau lebih beruntung dariku”

“apa maksudmu ?”

“ walaupun jarang bertemu, setidaknya kau masih diberi kesempatan untuk mengenal mereka?” mataku mengarah ke kolam. Air Kolam yang tenang tanpa riak membuat hatiku ikut menjadi tenang. “meski kau terkurung disini, tapi ini adalah salah satu wujud cinta kasih ayah dan ibumu. Kalau mereka tidak sayang padamu, pasti sejak dulu mereka sudah membuangmu disungai”

Minho terdiam, tapi bidak matanya masih terarah padaku.

“kenapa kau tidak pernah tersenyum ?”tanyaku saat aku tiba-tiba teringat akan wajah kaku milik minho.

“tidak ada alasan bagiku untuk tersenyum”

“yah… untuk orang bodoh sepertimu, dunia ini memang kurang menarik”

“bodoh katamu?”

“hanya orang bodoh yang tidak pernah tersenyum, sekali-sekali senyumlah padaku” dengan seenaknya ku sentuhkan kedua ujung jari telunjukku disudut-sudut bibir minho. Menariknya keatas hingga membentuk lengkungan mirip senyum.

Refleks Kepala Minho bergerak mundur “ apa yang kau lakukan, perawat bodoh?”

“asal kau tahu, mukamu yang masam itu jadi sangat tampan kalau kau tersenyum. Dasar Pasien bodoh”

^Choi Min Ho POV^

Entah sudah berapa musim semi menyapaku dirumah sakit ini. Setiap tahun  selalu seperti ini. Selalu tampak sama.. sangat membosankan. Divonis mati muda oleh dokter yang merawatku dari kecil sudah menghancurkan semangat hidupku yang dari dulu memang sudah redup. Sebenarnya untuk apa aku terus berada disini kalau pada akhirnya akan tetap mati. Buang-buang waktu saja.

Entah sejak kapan aku mulai menutup diri. tidak keluar kamar dan tidak mempunyai teman. Hanya suster jung yang telaten merawatku yang selalu memberontak. Dia satu-satunya perawat yang berani memarahi orang yang sedang sakit dirumah sakit ini. Tapi karena itu juga lah yang membuatku nyaman berlama-lama dengannya. suster jung membuatku seperti berada dirumah. Tapi selebihnya kuhabiskan dengan kesendirian.

Menatap keluar jendela dan melihat taman yang dipenuhi orang sakit sebenarnya membuatku hatiku miris. Meski terlihat sakit tapi kelak mereka akan keluar lebih dulu dariku. Dan sedihnya lagi, mereka pasti bisa berlari. Tidak sepertiku, Kalau berlari itu sama saja mencoba bunuh diri. Sungguh menyedihkan.

“selamat sore minho, tidurmu nyenyak”

Ck.. perawat baru itu ternyata masih disini. Entah alasan apa suster jung dipindahkan kebagian anak dan digantikan oleh gadis yang usianya lebih muda 2 tahun dariku itu. Aku malas sekali menanggapi pernyataannya, paling dia sama saja dengan perawat yang lain. Dia Akan segera pergi begitu merasa tidak sanggup untuk mengurusku.

“ karena kau sudah bangun, bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar?” taemin tidak menyerah. Jalan-jalan keluar ? hheh.. aku saja tidak tahu kapan terakhir aku keluar dari bangunan rumah sakit.

“aku tidak mau” aku berbalik memunggunginya. Berharap dia akan segera pergi.

“kenapa kau selalu berkata tidak padaku ?”

Ternyata taemin ini tidak pergi juga. Menyebalkan sekali. Aku sedang tidak bersemangat bicara hari ini, lebih baik tidak dihiraukan saja. Nanti juga pergi sendiri.

“ayo bangun, kau bisa berjalan bukan ? ayo gerakan sedikit badanmu itu” taemin tahu-tahu sudah berada dihadapanku.

Apa-apaan orang ini seenaknya memerintah orang. “apa hakmu memerintahku seperti itu?”

“aku berhak karena aku adalah sustermu” ucap taemin setengah berteriak. Mendengar itu aku yakin sekali kalau wajahku menunjukan sedikit ekspresi kaget. Tidak ada orang yang pernah berteriak  padaku selain suster jung.

“jadi kau mau keluar apa tidak?” tanya taemin lagi. Tapi kali ini suaranya lebih rendah. Seperti dia baru sadar apa yang baru saja dia lakukan. Kalau dia ketahuan meneriaki pasien kan dia bisa dimarahi atasannya.

Tapi karena diteriaki olehnya, aku mulai merasa kalau dia berbeda dari perawat-perawat yang sudah pergi itu. Lagi pula dia tidak seperti yang lain, taemin selalu berada dikamarku hampir disetiap waktu, seperti suster yang tidak punya kerjaan saja. Aku menghela nafas, jalan-jalan keluar bukanlah ide yang buruk lagi pula sudah lama aku tidak melakukannya “aku kalah… ayo kita keluar”

~~~~~~

aku yatim piatu..” kalimat pertama yang dikeluarkan taemin waktu menceritakan tentang dirinya sukses membuat mataku berpaling padanya.

taemin.. yatim piatu ?

sungguh tidak bisa dipercaya. Memang aku sama sekali tidak tahu latar belakangnya, tapi memilih kata ‘yatim piatu’ hanya untuk sekedar berbohong aku rasa itu cukup keterlaluan. Taemin mengalihkan tatapannya padaku lalu dia tersenyum.

“kau tidak percaya ?”

“siapa yang akan percaya padamu…?”

bicara soal orang tua, sebenarnya sejak dulu aku selalu merasa diabaikan. Tahun ini saja aku bisa bertemu dengan ayah dan ibuku hanya 4 kali. Mereka terlalu sibuk bekerja diluar negri sampai tidak memeperdulikan aku. Aku berani bertaruh, kalau mereka pasti tidak tau aku masih hidup atau tidak.

Kalau kau bertanya soal teman hanya satu jawaban yang bisa kuberikan. Aku tidak pernah punya teman.

“kau tahu.. aku tidak pernah melihat wajah kedua orang tuaku. Meski aku lebih sehat.. tapi ku rasa kau lebih beruntung dariku” mata taemin menerawang menatap kolam.

“apa maksudmu ?”

“ walaupun jarang bertemu, setidaknya kau diberi kesempatan untuk mengenal mereka. meski kau terkurung disini, tapi ini adalah salah satu wujud cinta kasih ayah dan ibumu. Kalau mereka tidak sayang padamu, pasti sejak dulu mereka sudah membuangmu disungai”

Aku terdiam, mataku tidak bisa lepas dari wajah taemin. Menebak-nebak apakah taemin sedang berbohong atau tidak. Tapi aku tidak bisa berbohong kalau aku sedikit memikirkan kata-katanya barusan. Kalau dipikir-pikir, jika orangtuaku tidak peduli atau lupa padaku, sekarang aku pasti sudah mati dan tidak berada diruang VVIP yang kutempati sekarang.

“kenapa kau tidak pernah tersenyum ?”

Heh… kenapa tiba-tiba bertanya hal itu. Pertanyaan bodoh macam apa itu ?

“tidak ada alasan bagiku untuk tersenyum” jawabku sekenanya.

Taemin mendengus sedikit “yah… untuk orang bodoh sepertimu, dunia ini memang kurang menarik”

“bodoh katamu?”Beraninya dia bilang aku bodoh. Aku tidak bisa terima

“hanya orang bodoh yang tidak pernah tersenyum, sekali-sekali senyumlah padaku” Tiba-tiba dengan seenaknya tangan taemin menyentuh kedua ujung bibirku lalu Menariknya keatas hingga membentuk lengkungan mirip senyum.Karena kaget,Refleks Kepalaku bergerak mundur.

“ apa yang kau lakukan, perawat bodoh?”

Kedua jari telunjuknya masih mengambang diudara saat dia mulai berteriak lagi.“asal kau tahu, mukamu yang masam itu jadi sangat tampan kalau kau tersenyum. Dasar Pasien bodoh”

Aku tidak bisa berkutik. Aku tidak pernah diperlakukan seperti oleh siapapun sebelumnya.“a,aku mau kembali kekamar”

“hah… sudah mau kembali kekamar ?”

“aku bosan disini”

~~~~~~

Aku tidak akan pernah bertemu dengan orang yang kelakuannya seperti taemin meski aku mencarinya keseluruh sudut rumah sakit ini. Taemin adalah seorang perawat berumur 21 tahun yang sikafnya mirip anak SMP, terlalu kekanakan. Dia orang yang langka dan berbahaya, kalau boleh aku sarankan lebih baik dia disimpan dimusium saja.

“ayo minum obatnya” perintah taemin setelah kembali dari taman.

Sebenarnya Sejak awal aku tidak peduli siapa yang membawakan aku obat, hanya saja dari dalam hati aku ingin mengerjai orang yang bertubuh kurus dan kecil itu. Taemin bukan orang pertama yang aku kerjai, tapi dia satu-satunya orang yang bertahan dengan sikap dingin dan keraskepalaku selain suster jung. “aku tidak mau minum obat darimu”

“kau ini… memang apa bedanya aku dengan suster jung?  Kau tetap akan meminum obat yang sama siapapun yang membawanya” teriak taemin. Sekarang taemin makin sering berteriak karena ulahku. Taemin, dia adalah orang yang lucu. Mukanya manis sekali kalau sedang marah. Kurasa hidup tidaklah terlalu membosankan.

“pokoknya aku mau suster jung” keras kepalaku kumat. Muka taemin mulai memerah menahan emosi, sepertinya hari ini dia bertekat sekali akan membuatku minum obat dari tangannya, tanpa bantuan suster jung. Kenapa ya ? padahal biasanya dia akan memanggil suster jung jika aku tetap keras kepala.

“kau mau minum obat atau tidak ? kalau kau tidak mau, aku akan menyirammu dengan air” ancam tamin. Tidak seperti biasa, hari ini dia menggunakan cara mengancam. Tampaknya taemin sudah terbiasa dengan sikapku.

“kalau kau berani lakukan saja” tantangku balik. Paling dia hanya menggertak, tidak mungkin dia nekat menyiramku dengan air. Itu sama saja minta dipecat.

“baik…” taemin melangkah keluar dari kamarku, kepalaku bergerak mengikuti langkah taemin. Aku penasaran apakah dia sungguh-sungguh akan menyiramku.. Tidak lama kemudian taemin kembali dengan membawa ember berisi air ditangannya. Gawat, Ternyata dia sangat serius.

“jadi, kau mau minum obat itu… atau mau aku siram sekarang juga ?” taemin mengambil ancang-acang untuk menyimburku dengan air.

Mati-matian aku menahan tawa Melihat dia yang sudah repot-repot bertingkah seperti itu hanya untuk menyuruhku minum obat. Orang yang lucu.

“ ya baiklah.. mana obatnya”

^Tae Min Nie POV^

Susah sekali membuat minho yang keras kepala ini minum obat. Sampai-sampai aku harus mengancamnya dan bertindak bodoh seperti ini. Benar-benar memalukan. Minho memang tidak tertawa, wajahnya tetap datar seperti biasa tapi aku sangat yakin kalau saat ini dia sedang menahan tawanya.

“ ya baiklah.. mana obatnya” minho menengadahkan tangannya, menunggu ku berikan obat yang harus diminumnya.

Aku meletakkan obat-obat itu ditelapak tangan minho dengan ragu. Takut kalau dia sedang mengerjaiku dan akan membuangnya kelantai. Minho sering melakukan hal itu untuk mengerjaiku, membuatku senang karena merasa berhasil membuatnya minum obat tapi tak lama kemudian dia akan menjatuhkan hatiku ke bumi dengan membuang obat yang ku berikan hingga berserakan dilantai.

Tapi…

hei, minho meminumnya… minho memasukkan obat-obat itu kemulutnya dan menelannya.. wah.. sulit dipercaya. Horee… aku berhasil. Tanpa sadar tanganku sudah mengacak-ngacak rambut minho hingga berantakan dan memeluk badan kurusnya.

“waaa… minho, kenapa kau tidak melakukannya dari dulu… aku kan tidak perlu memanggil suster jung kemari” aku terus memeluknya sambil berteriak kegirangan.

“le..lepaskan”kurasakan tangan-tangan minho berusaha mendorong pinggangku.

Aku melepaskan pelukanku. Minho menatapku dengan sengit, tapi aku tidak peduli. Sekali lagi ku peluk tubuh kurus minho dan kembali mengacak rambutnya. “terimakasih minho..”

“kubilang lepaskan..!”bentak minho. Aku sempat tersentak kaget tapi langsung tersenyum kembali.

“jangan marah, aku memelukmu karena merasa sangat senang, ini kemajuan untukku”

Minho tidak berkata apa-apa, dia hanya diam sambil menatapku dengan tatapan aneh, aku tidak tau arti dari tatapan matanya itu dan yang pasti aku belum pernah melihat minho seperti itu

“hei.. kau baik-baik saja ?” aku jadi cemas karena dia tidak bicara apa-apa. Apa dia benar-benar marah ? atau pelukanku terlalu kuat sampai dia susah bernafas.

“aku baik-baik saja”

“ahh… syukurlah. Kalau begitu aku ambilkan makan malam untukmu ya..” tanpa menunggu jawaban dari minho aku langsung berbalik hendak pergi dan mengambil makan malamnya. Tapi minho memanggilku.

“taemin..” panggilan minho langsung membuat langkahku terhenti. Ini pertama kalinya minho memanggil manaku asliku, biasanya dia selalu menyebutku hei, heh, atau suster pendek. Tapi… oh, sempurna. Bahkan minho juga memanggilku dengan taemin. Tidak adakah orang yang ingin memanggilku dengan Minnie ?. Ah sudahlah, sayang kalau moment berharga ini dihiasi dengan marah-marah karena nama. Aku pun berbalik dan menatap nimho yang sedang duduk bersandar pada bantal diatas tempat tidurnya.

“ada apa ?”

“terimakasih..” kata minho pelan. Ada apa dengannya hari ini. Hari ini dia melakukan semua hal yang tidak pernah dilakukannya terhadapku sebelumnya.

“terima kasih…untuk apa ?”

“karena sudah membawaku jalan-jalan ketaman” aku langsung tersenyum lebar mendengar apa yang dikatakan minho barusan. Meski matanya tidak menatap kearahku, tapi aku tau kalau dia tulus.

“ bukan masalah, kalau kau mau kita bisa jalan-jalan setiap hari” aku berbalik lagi dan melangkah meninggalkan minho sendiri dikamarnya.

~~~~~

Sekarang pukul 10 malam, ini waktunya istirahat bagi semua pasien yang dirawat drumah sakit ini. Lampu kamarpun sudah dimatikan dan digantikan dengan lampu tidur yang berwarna kuning redup. Minho  telah terlelap, kini tiba waktuku untuk pulang.

Aku tidak perlu merawat minho dimalam hari karena sudah ada perawat yang bertugas malam. Biasanya perawat dirumah sakit ini diberikan 3 sift kerja. malam, pagi, dan sore. Setiap perawat mendapat sift itu secara bergiliran dan masa kerja selama 7 jam. Karena tugasku merawat minho dari pagi sampai minho tertidur dimalam hari, jadi aku dibebaskan dari pembagian sift kerja tersebut.

Perasaan senang terus membayangiku meski aku sudah sampai dirumah. Tanpa sadar aku terus memikirkan minho. Andai saja di terbuka sejak dulu, sekarang pasti kami sudah sangat dekat.

Satu-satunya yang ingin kulihat dari minho adalah senyumnya. Tadi dirumah sakit aku berteriak padanya kalau wajahnya terlihat sangat tampan saat tersenyum. Sebenarnya itu bohong, Karena sampai sekarang aku belum pernah melihat wajah minho dengan senyum dibibirnya. Tapi aku sangat yakin akan hal itu. Waktu cemberut saja wajahnya sudah tampan apalagi kalau tersenyum. Hahahaha…

Melihat kasur yang tidak terjamah selama seharian ini, aku langsung berlari dan merebahkan tubuhku yang lelah diatasnya “ah… empuknya kasurku…”

….TBC….

~ oleh Hae_RyN's pada Mei 19, 2012.

2 Tanggapan to “I Can’t Forget Ur Luv (1st Chapter)”

  1. Very wonderful info can be found on this weblog.

  2. Good Morning, I just stopped in to visit your site and thought I’d say thanks for having me.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: