I Can’t Forget Ur Luv (2nd Chapter)

Chapter   2

^Tae Min Nie POV^

Ku buka mataku dengan perlahan dan menatap langit-langit apartmentku dengan pasrah. Rasanya malas sekali untuk beranjak dari kasur dan pergi kerja. Tiba-tiba aku teringat minho. Apa dia masih tidur disana ? membayangkannya membuatku tersenyum sendiri.

Sambil mengucek-ngucek mata yang masih mengantuk, aku melirik ke arah jam dan langsung berhambur turun dari tempat tidur, berlari menuju kamar mandi. “aku kesiangan…”

Selesai berpakaian, tanpa babibu lagi aku langsung berlari menuju halte bus terdekat, meninggalkan kamar dan apartmentku yang berantakan. Tidak ada waktu untuk membereskan semuanya. Berdandanpun ala kadarnya. Turun dari bis aku berlari lagi kerumah sakit untuk absen dan meneruskan lariku ke kamar minho.

“ selamat pagi minho..hah…hah..hah…” berlari membuat nafasku tersengal-sengal. Aku membungkuk didepan pintu karena kelelahan sambil mengatur nafasku agar normal kembali.

Rupanya minho sudah bangun, dia duduk bersandar dibantalnya. Sepertinya dia sudah mambasuh mukanya karena minho terlihat terlalu rapi untuk orang yang baru bangun tidur.

“ kau terlambat, apa yang terjadi ?”

Ngg? Badanku yang tadi terbungkuk karena rasa lelah kini tegak kembali. Tumben minho memperhatikan jam datangku. Biasanya dia cuek sekali, membalas salamku saja tidak. Apa dia menungguku ??

“aku bangun kesiangan..”

“lalu kenapa penampilanmu berantakan sekali ?”

“eh…? benarkah ?” karena tidak percaya aku berjalan menuju cermin kecil yang mengantung didinding dekat toilet. “hwuuah” benar, minho sangat benar.. rambutku berantakan sekali. Karena bangun terlambat tadi pagi aku hanya menata rambutku sekenanya. Pasti rusak waktu berlari tadi. Mau tidak mau aku harus menatanya kembali agar terlihat lebih rapi. Jadi aku mengurainya sebentar.

“ternyata rambutmu tidak terlalu panjang..”celetuk minho tiba-tiba.

Aku menolehkan kepalaku pada minho. Ternyata dari tadi dia sedang memperhatikan garak-gerikku “ yah memang.. lagi pula aku tidak punya waktu untuk merawat rambut yang panjang”

“kau akan menyisir rambutmu sekarang ?”

Aku kembali menatap kecermin dan bersiap-siap menata rambutku “ tentu saja “

“boleh aku yang melakukannya ?”

Kepalaku menoleh lagi kebelakang, melirik minho  yang sedang duduk ditepi tempat tidurnya. Aku menatapnya dengan curiga. Apa lagi yang akan dilakukannya padaku kali ini.

Minho membalas tatapanku, dia mengangkat tangan kanannya yang memegang sebuah sisir. Dari mana dia mendapatkan benda itu ? “ayolah… hanya menyisir..”

Aku minbang-nimbang permintaan minho sejenak. Mata minho masih terpaku padaku “baiklah..”

~~~~~~~

Dengan malas minho mengangkat sendok yang berisi makanan dan  mengunyahmya perlahan “apa menu makanan dirumah sakit ini tidak pernah berubah ?”

“tentu saja berubah, tapi hanya itu menu makanan yang bisa kau makan”

“ck. membosankan sekali.” Minho mulai menggerutu lagi. Bukankah dia sudah menikmati makanan itu sejak bertahun-tahun yang lalu, kenapa baru mengeluh sekarang?.

Sekarang sikap minho padaku sudah mulai sedikit berubah. Dia lebih banyak bicara dibanding waktu pertama bertemu. Meski kata-kata yang keluar selalu seenaknya dan menyebalkan, tapi itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.

“sudah, dimakan saja. Jangan mengeluh”

Sementara minho melahap makan siangnya dengan penuh keluhan, aku berkonsentrasi membentuk potongan-potongan apel ditanganku menjadi kelinci apel ala jepang (kalian tau kan maksudku?). sangat menyenangkan melakukan hal ini.

“ternyata memang berbeda ya…”celetuk minho tiba-tiba.

“apanya…?”

Minho memalingkan wajahnya kearahku “kupikir siapapun pemiliknya rambut itu akan sama saja. Tidak kusangka kalau rambut perempuan itu jauh lebih halus”

‘deg’

Tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat. Aku jadi teringat akan jemari lembut minho yang menyentuh tiap helai rambut dan sedikit meraba tengkukku. Kenapa aku jadi berdebar-debar ya ?

“AAAhhh…” karena detak jantung yang tidak terkontrol aku jadi susah berkonsentrasi saat berurusan dengan pisau yang tadi kugunakan memotong apel hingga mendapat luka sayatan kecil yang lumayan menyakitkan.

“ada apa ?”

“darah…”gumamku pelan sambil memperhatikan tetesan darah yang mengalir perlahan dengan wajah pasrah.

“kau ini ada-ada saja, cepat ambil peralatan P3K yang ada dilemari disamping cermin itu”

Aku menurut dan segera berjalan ketempat yang minho perintahkan. Lalu kembali ketempat duduk yang ada disamping tempat tidur minho sambil membawa kotak P3K. Aku hendak mengurus lukaku, tapi minho lebih dulu meraih peralatan P3K itu lalu menarik tanganku yang terluka “sini.. biar aku saja”

Dengan lihai minho menghapus darah yang mengotori tanganku. Minho mengambil sejumput kapas dan melumurinya dengan alkohol lalu mengoleskan kapas itu ditangan kiriku yang terluka. “sakit ?”

Aku menggeleng, aku memang tidak merasakan apapun selain panas yang menyerang mukaku. Lagi-lagi jantungku berdetak dengan cepat. Apa karena minho menyentuh tanganku ?

Tangan minho yang kurus masih bergerak-gerak dengan luwesnya. Kini minho membalut lukaku dengan plester penutup luka.“ nah..selesai..”

“te, terimakasih..” kuambil paksa kotak P3K yang ada didekat minho. Membereskan semua peralatan yang tadi dipakai minho untuk mengobatiku dan mengembalikan kotak itu di tempatnya. Rasanya aku tidak sanggup melihat muka minho. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa malu. Dari mana datang nya rasa malu ini ?

Masih dalam posisi membelakangi minho, aku manarik nafas dalam-dalam.. berusaha bersikap senormal mungkin. Saat aku hendak berbalik tiba-tiba terdengar suara seperti pintu yang dibuka.

Dari balik pintu itu muncul dua orang paruh baya dan salah satu dari mereka langsung berteriak “hallo minho…bagaimana kabarmu ?”

 

^Choi Min Ho POV^

Sejak kedatangan taemin beberapa minggu yang lalu memang membawa perubahan dalam  hidupku. Setidaknya aku tidak terlalu merasa bosan seperti yang selalu kurasakan dulu. Dengan taemin  aku jadi bisa melakukan dan merasakan hal-hal yang tidak pernah ku dapatkan sebelumnya. Misalnya kemarin taemin mengajakku jalan-jalan ketaman dan memaksaku tersenyum. Dia juga memelukku karena aku meminum obat yang dibawanya, aku saja tidak ingat kapan terakhir kali aku dipeluk oleh ibuku. Dan  hari ini, Berkat taemin aku dapat menyisir rambut seorang perempuan. Sekarang aku tahu kalau rambut wanita lebih lembut dari pada rambut laki-laki, atau setidaknya lebih halus dibanding rambut yang tumbuh dikepalaku.

Taemin terduduk diam sementara aku terus menyisir rambutnya. Mukanya agak tertunduk sedikit tapi itu tidak menghalangi mataku untuk melihat kontur tulang rahang dan pipinya yang tampak tirus.

‘deg’

Lagi-lagi jantungku berdetak kencang. Apa sakit jantungku kumat ? aku juga merasakan ini saat taemin seenaknya memeluk diriku  kemarin. Kuletakkan tangan kananku didadaku bagian kiri atas, berharap jantungku yang lemah tidak mendapatkan masalah karena bekerja terlalu cepat. Tapi kalau dipikir-pikir aku sering berdebar-debar kalau berada disamping suster aneh ini. Apa aku menyukainya ?

~~~~~~~

Dokter Min memang menyarankan agar aku tidak memakan makanan yang terlalu asin atau terlalu manis, tapi bukan berarti aku harus makan bubur hambar ini setiap hari kan ? memang menunya tidak selalu sama tiap harinya, namun rasanya tetap sama. Hambar.

Aku melahap makanan yang tersaji didepanku dengan malas. Diam-diam kulirik manusia yang sedang asyik membentuk potongan buah apel menjadi kelinci bertelinga merah. Taemin terlalu serius dengan pisau dan apel yang ada ditangannya, sampai-sampai tidak mengajakku bicara. Padahal biasanya dia selalu berisik. Hah… membosankan sekali. Aku harus mencari topik pembicaraan.

“ternyata memang berbeda ya…”

“apanya…?” mata taemin masih terpaku pada apel.

Akupun terang-terangan menatap taemin “kupikir siapapun pemiliknya, rambut itu akan sama saja. Tidak kusangka kalau rambut perempuan itu jauh lebih halus.”

“AAAhhh…”

“ada apa ?” Kenapa anak ini tiba- tiba berteriak ?

Taemin mengangkat jempol kirinya yang mulai mengeluarkan darah. Sepertinya dia terkena pisau. Taemin  menjawab dengan lirih “darah…”

Taemin hanya menatap darah yang keluar dari lukanya tanpa bertindak apa-apa. Aku jadi gemas melihat tingkanya yang mirip orang bodoh itu. “kau ini ada-ada saja, cepat ambil peralatan P3K yang ada dilemari disamping cermin itu”

Gadis itu menurut dan segera mengambil benda yang kuminta. Karena tingkahnya yang benar-benar mirip orang bodoh, langsung saja kurebut kotak P3K dan menarik tangannya yang terluka.“sini.. biar aku saja”

Meski lukanya kecil tapi darahnya yang keluar cukup banyak. Sebenarnya siapa sih pasien disini, kanapa malah aku yang mengurus suster ini. dengan hati-hati kuoleskan kapas beralkohol dijempolnya “sakit ?”

Taemin tidak menjawab, dia hanya mengelengkan kepalanya. Kulirik sedikit muka taemin, ada rona merah dipipinya yang putih. Apa lukanya sesakit itu sampai dia mau menangis ? ternyata selain bodoh dia juga suster yang cengeng. “ nah..selesai..”

“te, terima kasih”

Dengan setengah kasar taemin membereskan kotak P3K yang tergeletak disamping pahaku dan buru-buru mengembalikan kotak yang tidak bersalah itu ketempatnya semula. Lama dia berdiri didepan lamari itu. Apa sih yang dia lakukan disana ? aku ingin menegurnya, tapi tidak jadi karena pintu kamarku tiba-tiba dibuka dari luar.

“hallo minho…bagaimana kabarmu ?”

Aku menatap orang-orang yang datang itu dengan tatapan tidak percaya. Apa yang mereka lakukan dikorea ?

“ ayah ? ibu ?”

~~~~~~~~

Tanpa diduga-duga dan tidak memberi kabar sama sekali, tiba-tiba orang tuaku menunjukkan batang hidung mereka didepanku setelah 4 bulan lebih tidak bertemu. Apa yang mereka lakukan disini ?

“Kenapa tidak bilang kalau mau datang ?”

“masa itu kata yang kau katakan setelah lama tidak bertemu ibu? Apa kau tidak kangen pada kami minho ?”

Aku menatap mereka dengan malas. Jujur saja aku hampir lupa kalau punya orang tua. Untung perkataan taemin kemarin bisa membuatku berfikir kalau salah satu alasan mereka bekerja di jepang adalah aku, walaupun alasan lainnya karena orangtuaku merupakan pasangan workahiloc.

“mana suster jung ? siapa suster muda itu minho ?” Ayahku yang workahiloc sejati itu melempar pandangannya ke seluruh ruangan. Taemin sudah pergi meninggalkan kamarku setelah menjamu orang tuaku dengan minuman yang dibawanya dari cafetaria rumah sakit.

“suster jung dipindahkan kebagian lain, dan suster itu yang menggantikannya”

Ibu melemparkan senyumnya kepadaku. Aku tahu kalau sebentar lagi mereka akan mengodaku habis-haisan “suster itu cantik ya..”

“minho, cepatlah sembuh agar kau bisa segera mengencani gadis itu. Kau suka padanya kan?” timpal ayah. Kenapa untuk urusan yang tidak penting mereka kompak sekali ?

“sudah, hentikan…” aku mulai jengah dengan godaan yang dilontarkan oleh ayah dan ibuku. Selain itu aku malu, bagaimana kalau taemin sampai mendengar omongan ngawur mereka ini. “ jadi apa yang membuat ayah dan ibu kembali kekorea, sampai kapan kalian ada disini ?”

“biasa, ada pekerjaan yang harus diselesaikan di sini. Jadi kami sekalian mampir untuk menjengukmu”

“ lalu kapan kembali ke jepang ?”

“ karena semuanya urusan sudah selesai, mungkin malam ini kami akan langsung terbang ke jepang”

Yah… aku sudah menduga semuanya. Lagipula aku tidak berharap mereka bisa berlama-lama disini, karena itu sangat mustahil. Tidak mungkin pasangan penggila kerja ini tahan berlama-lama menganggur di korea.

~~~~~~

Malam sudah larut, tapi sampai sekarang aku tidak bisa menutup mataku untuk pergi tidur. Orang tuaku sudah lama pergi, mungkin sekarang sudah berada di pesawat yang membawa mereka kembali kejepang. Taemin juga sudah pulang. Tatapan mata taemin yang menatap orang tuaku saat mengantar mereka pulang terus terngiang-ngiang dikepalaku. Apa dia teringat akan orang tuanya ?

Meski diwajahnya tersungging senyum, tapi matanya tidak bisa berbohong kalau dia ingin merasakan hangat pelukan dari orang tua kandungnya yang meninggalkanya dipanti asuhan. Untuk pertama kalinya aku merasa jadi orang yang lebih beruntung darinya. Aku jadi tidak enak hati pada taemin.

 

^Tae Min Nie POV^

“ kau baik-baik saja minho ?”

“aku tidak apa-apa.. uhuk..uhuk..”

Aku kurang yakin dengan apa yang dikatakan minho kalau dia baik-baik saja. Sejak kedatangan kedua orang tuanya seminggu yang lalu, kesehatan minho mulai menurun. Dia jadi tidak nafsu makan dan batuk yang menyerangnya tidak juga kunjung reda. Wajahnya juga lebih pucat dari biasanya.

aku semakin cemas melihat keadaannya yang tidak juga mambaik.“sebaiknya kita tidak usah keluar hari ini”

“sudah kubilang, aku tidak apa-apa. Aku bisa mati bosan kalau terus terkurung disini” sudah tiga hari ini minho terus merengek-rengek memintaku membawanya keluar, tapi aku tidak pernah mengizinkannya.

Batuk yang menyerangnya benar-benar mambuatku khawatir, takut kalau paru-parunya mengalami masalah serius. Sejak melakukan tes kesehatan saat kesehatannya menurun, Minho terus menolak ketika kuminta melakukan tes lanjutan. Saat ku tanya bagaimana hasil tesnya, minho hanya bilang kalau batuknya adalah reaksi alergi dari serbuk sari bunga. Awalnya aku tidak percaya, tapi ketika kutanyakan pada petugas yang menangani minho waktu menjalani tes dan dokter min, jawaban mereka pun sama. Alergi serbuk sari.

Benarkah ? kalau memang karena alergi, kenapa dokter tidak memberi obat pereda alergi tapi malah memberi obat penahan rasa sakit ? karena penasaran aku pergi menemui suster jung, dan kalian tau apa yang dia bilang ?

“sudah, berikan saja minho obat yang disarankan oleh dokter. Dokter min tau dengan pasti apa yang terbaik bagi pasiennya. Kau juga tidak perlu mencari tahu untuk apa obat penahan sakit itu diberikan pada minho”

oh… sempurna.

“kenapa diam saja.. ayo kita pergi”

“iya.. iya.. baiklah” kudorong kursi roda minho dengan tidak bersemangat memasuki lift yang akan membawa kami turun kelantai dasar. Ditaman, bunga-bunga mekar dengan indahnya. Aku jadi makin khawatir dengan kondisi minho, tapi dia menolak saat aku memintanya memakai masker.

Ditaman, kami duduk dikursi yang menghadap kearah kolam. Jaraknya hanya lima meter dari mulut kolam itu. Saat ini taman sedang ramai oleh suara teriakan pasien anak-anak yang berlarian dipinggir kolam. Selama berada ditaman Kami tidak banyak bicara dan lebih memilih untuk berdiam. Minho menengadahkan  kepalanya menatap langit, matanya perlahan tertutup seolah ingin merasakan oksigen yang dia hirup disetiap hela nafasnya. Sedangkan aku hanya sibuk memandangi wajah minho yang terlihat begitu tenang.

“ ayo kita kembali kekamarmu” ajakku ketika melihat minho yang nyaris tertidur dikursi  taman.

“ sebentar lagi… udara disini nyaman sekali” kepalanya masih saja menghadap ke langit.

Aku menghela nafas panjang, bingung harus berbuat apa. Minho sudah terlalu lama berada diluar, Itu tidak baik untuknya. Tapi aku juga tidak tega memaksanya untuk kembali kedalam.

“ taemin”

“hmm ?”

“kau bawa hp bukan ?”

“ iya,, kenapa ?”

“bisa tolong fhoto kan bunga teratai untukku ?”

Hah ? untuk apa ? keusilan minho kumat lagi ya ?. Memang mau dipakai untuk apa foto itu ? minho ada-ada saja.

Minho kembali menatap bumi, dia memalingkan wajahnya ke padaku yang enggan bergerak dari tempat dudukku “ kau tidak mau ?”

Hhhh…… tidak ada yang bisa ku lakukan selain menuruti permintaanya “ iya, akan ku fhotokan”

Dengan malas kugerakkan kaki untuk melangkah ketepi kolam yang jaraknya sama sekali tidak jauh itu. Entah kenapa rasanya aku enggan sekali melakukannya. Ku ambil hp dari salah satu kantung diseragam kerjaku.

Sesempainya ditepi kolam aku mencari sudut yang bagus untuk difhoto. Setelah mendapatkannya lansgung kubidikkan camera dari hp untuk mengabadikan bunga teratai itu. Yak… dapat.

Aku hendak mengambil fhoto dari sudut yang lain saat kurasakan seorang anak kecil yang berlarian menyenggol bagian belakang tubuhku dengan keras sehingga membuat badanku oleng ke arah kolam, mana tidak ada seseuatu yang bisa kujadikan pegangan. Sudahlah, pasrah saja.

Saat aku merasa tidak ada harapan lagi untuk selamat dari jatuh kekolam, tiba-tiba seseorang menarik tanganku dan sepersekian detik berikutnya terdengar suara sesuatu yang besar tercebur kekolam.

BYUUUUR…

 

~~~~~~

“tidak bisa ku percaya… bagaimana kau bisa seceroboh itu suster tae min nie” bentak dokter min saat aku tiba diruangannya. Diruangan itu juga ada suster jung yang sudah tiba sebelum aku datang. Aku hanya bisa menunduk sambil menahan air mata.

“lihat apa yang kau lakukan pada minho. Bukan hanya berlari, tapi dia juga jatuh kekolam. Apa ingin membunuhnya ?” bentak dokter min lagi. Terlihat sekali kalau dia benar-benar marah kepadaku.

Wajar kalau dokter min marah, bahkan bisa dibilang kalau saat ini dokter min sangat-sangat murka. Sekarang minho sedang tidak sadarkan diri di ICU karena berusaha menyelamatkan aku. Aku tidak bisa berkata apa selain menerima bentakan dan teriakan yang dilontarkan dokter min padaku.

“aku tidak bisa mempercayakan minho padamu lagi. Kau hanya akan mendekatkannya pada kematian.” Dokter min menurunkan sedikit nada bicaranya.

“Suster jung, ambil alih tugas suster tae min nie untuk merawat minho.” Lanjut dokter min kepada suster jung dan dibalas anggukan oleh suster jung “baik dokter..”

“dan kau suster tae min nie, kau dipindahkan kebagian anak mengantikan suster jung” tambah dokter min lagi.

“tunggu dokter min.. tolong beri saya kesempatan sekali lagi”

“ untuk apa? Untuk membuat keadaan minho semakin parah ?”

“tidak.. bukan begitu…” aku tidak jadi melanjutkan kalimatku saat menyadari dokter min sedang menatapku dengan tajam, kurasa bukan saatnya membela diri sekarang. Membela diri hanya akan memperburuk keadaan.

“maaf suster, aku tidak bisa mempercayakan minho padamu”

Aku melirik suster jung, berharap dia akan membantuku menyelasaikan masalah ini. Tapi suster jung hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Seolah dia berkata.. ‘sudah, menyerah saja’

“baik dokter… tapi setidaknya, tolang berikan saya kesempatan untuk merawat minho sampai dia sadar”

Dokter min menghela nafasnya dengan berat.. “baiklah..tapi hanya sampai minho sadar”

 

^Author POV^

4 hari. 4 hari sudah minho terbaring tidak berdaya diruang ICU. Banyak kabel yang terhubung dibadannya. Dadanya terlihat naik turun, seperti kesulitan mengambil oksigen diudara hingga pihak rumah sakit harus memakaikankan selang oksigen dihidung minho untuk membantunya bernafas. Suara yang dikeluarkan oleh mesin pendeteksi detak jantung terus menggema keseluruh ruangan.

Setiap malam taemin selalu menemani minho, walau dia tahu ada perawat lain yang sudah melakukannya, dan ini sudah bukan tugasnya lagi. Tapi taemin tidak bisa membiarkannya begitu saja.

Mata taemin menatap minho yang terbaring lemah dengan miris. Digenggamnya dengan erat tangan minho yang terbebas dari selang infus yang mensuflai nutrisi ketubuh minho lalu menempelkan punggung tangan minho dipipinya yang putih.

“cepatlah buka matamu minho…”

Itulah kata yang selalu dibisikkan taemin ditelinga minho setiap hari . Tapi tidak pernah ada reaksi dari sang pemilik tangan dingin yang terus taeemin genggam itu. Tidak juga malam ini.

“ mau sampai kapan kau mau tertidur seperti ini ? aku merindukanku minho… aku…..      aku suka pada mu…” taemin menitikkan air matanya, dia sangat berharap dengan menyatakan perasaannya, minho akan merespon dan membuka mata. Tapi ternyata nihil.

Dihari berikutnya taemin juga melakukan hal yang sama, berharap keajaiban akan terjadi..dan benar. Akhirnya minho menggerakkan kelopak matanya yang sudah lama terpejam. Perlahan tapi pasti matanya mulai terbuka. Cahaya silau dari lampu yang menerangi ruang ICU membuat mata  minho yang baru terbuka menutup kembali.

Tidak beberapa lama, mata minho yang sudah mulai terbiasa dengan keadaan ruangan yang terang mulai terbuka lagi. Minho melempar pandangannya keseluruh ruangan dengan tatapan linglung lalu menarik salah satu sudut bibirnya dan tersenyum kecut.

“ cih.. ruang ICU lagi”

Minho ingin meregangkan ototnya yang sedikit kaku karena terlalu lama tidur tapi dia kesusahan saat mau menggerakkan tangan kirinya. minho  memiringkan sedikti kepalanya dan memastikan benda  apa yang sedang menindih tangannya itu. Dilihatnya kepala seseorang yang tertidur diatas punggung tangan kirinya dan minho bisa menebak siapa pemilik kepala yang ditumbuhi rambut yang tidak terlalu panjang itu.

“ taemin..” gumam minho pelan. Dengan sudah payah diangkatnya tangan kanannya yang terhubung dengan selang infus. Ada rasa nyeri saat minho menggangkat tangan itu tapi tidak dihiraukannya. Dia terus menggerakkan tangannya hingga bisa membelai kepala taemin yang tertidur disampingnya.

Merasa  ada yang meraba-raba kepalanya, Taemin langsung terbangun dari tidurnya yang tidak pernah nyenyak selama lima hari terakhir ini. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih mengantuk tapi tak lama kemudian dengan cepat taemin memalingkan wajahnya kearah minho yang sedang menatapnya.

“ minho…? “ taemin langsung berdiri dari posisi duduknya yang sambil tertidur “kau sudah bangun ?”

“ hai taemin, apa aku membangunkan mu ?”

Melihat minho yang sudah terjaga dari tidur panjanganya, tangis taemin langsung pecah. Rasa lega langsung menjalari tubuhnya. Lega karena minho masih bisa membuka mata dan bicara padanya. Tapi taemin langsung teringat kalau ada yang harus dia lakukan begitu minho sadar. “ aku panggil dokter min dulu..”

 

~~~~~~

“sudahlah, jangan menangis lagi.. dokter min juga bilang kalau aku baik-baik saja..”

“ kau bodoh minho.. kenapa kau tidak biarkan saja aku jatuh di kolam waktu itu ?” air mata taemin tidak bisa berhenti sejak minho siuman sore tadi. Air matanya Malah jatuh semakin deras “ kau membuatku takut setengah mati”

Minho yang hanya bisa berbaring ditempat tidur kebingungan bagaimana menghadapi  taemin yang terus menangis. Yang bisa dia lakukan saat ini hanya mengelus kepala taemin dengan lembut. Berharap tangisan gadis itu dapat mereda.

“ aku takut kau akan meninggalkanku salamanya”  ujar taemin disela isak tangisnya.

Minho benar-benar bingung memikirkan bagaimana caranya agar air mata taemin itu bisa berhenti. Dia tidak tega melihat gadis yang duduk disamping tempat tidurnya itu terus-terusan menangis. “taemin, bisa kau dekatkan telingamu padaku”

“ un, untuk apa ?” taemin masih terisak.

“ ada yang ingin kukatakan padamu, kemarilah..”

Tanpa banyak bertanya, teamin menuruti permintaan minho untuk mendekatkan telinganya ke arah minho. Saat telinga taemin benar-benar dekat dengan wajah minho, sebuah kecupan kecil mendarat dengan mulus dipipi milik taemin.

Karena kaget dengan ciuman mendadak yang dilakukan minho, taemin menarik kepalanya keposisi semula dan air matanya yang tadi mengalir deras kini sudah berhenti dengan seketika.

“ tenang saja, aku tidak akan mati semudah itu” hibur minho sambil tersenyum. Ya, sebuah senyum yang baru pertama kali minho perlihatkan didepan taemin.

 

….TBC….

~ oleh Hae_RyN's pada Mei 19, 2012.

Satu Tanggapan to “I Can’t Forget Ur Luv (2nd Chapter)”

  1. You have noted very interesting points! ps decent internet site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: