I Can’t Forget Ur Luv (Last Chapter)

Last Chapter    

^Tae Min Nie POV^

Sesuai janji yang kubuat bersama dokter min, aku hanya merawat minho sampai dia sadar dan kini aku pindah ke bagian anak. Sejak minho dipindahkan kekamar inap yang biasa ditempatinya, aku tidak pernah mengunjunginya lagi. Sudah dua bulan aku tidak melihat minho dari jarak dekat. Aku hanya bisa melihatnya yang berdiri menatap keluar jendela dari arah taman. Dokter min melarangku bertemu minho secara langsung dan dia tidak memberitahukan alasan kenapa aku harus melakukan itu.

Pertama kali dalam hidup aku merasa kehampaan dihatiku. Karena pindah kebagian anak, kini aku bekerja secara normal layaknya perawat lainnya. Bekerja sesuai sift dan masuk kerja 7 jam dalam sehari, kadang aku juga menghabiskan waktu dirumah seharian karena mandapatkan jatah libur yang sebelumnya tidak pernah aku dapatkan ketika bertugas menjaga minho. Dan hari ini yang bisa kulakukan hanyalah bermalas-malasan ditempat tidur karena kebetulan hari ini adalah hari liburku.

Hampir saja aku terlelap saat merasa getaran yang berasal dari tepi kasurku. Hpku yang sejak tadi tidak tersentuh kini bergetar-getar karena ada panggilan masuk dan memaksa minta diangkat. Kuraih hp yang jaraknya cukup jauh dariku dan membuka flat hp itu dengan malas. Tidak tertera nama si penelpon dilayarnya, hanya ada deretan nomor-nomor asing yang tidak ku kenal.

“ hallo?” sapaku pada si penelpon diseberang sana.

“ suster tae min nie, ini aku dokter min”

“ dokter… min ?” untuk apa dia menelponku saat ini?

“benar, maaf tiba-tiba menelponmu..”

“ tidak apa-apa, ada apa dokter ?”

“kudengar hari ini kau libur, tapi bisakan kau menemuiku sekarang ?”

“untuk apa ?”

“ada yang ingin ku bicarakan denganmu..”

Dokter min, ingin bicara denganku ? soal apa? Apa ini berhubungan dengan minho ? apa yang terjadi ? apa dia baik-baik saja ?

“ aku kesana sekarang” aku segera turun dari tempat tidurku. Tanpa berpikir panjang dan mengganti baju lagi langsung saja aku melesat pergi kerumah sakit. Hal bodoh yang baru aku lakukan adalah hanya membiarkan semua pertanyaan itu berputar-putar dikepalaku tanpa menanyakannya langsung pada dokter min. Karenanya dengan langkah cepat aku berlari menelusuri lorong putih yang berhubungan dengan ruangan dokter min. Karena tidak sabar aku membuka pintu diruangan dokter min dengan kasar hingga menimbulkan suara yang lumayan berisik.

“kau sudah datang suster Tae Min Nie ?” dokter min yang melihat kedatanganku yang membabi buta hanya bisa melontarkan sebuah senyum yang susah diartikan. Kenapa dia malah tersenyum ?

“duduk lah…”

Akupun menurut lalu menarik salah satu kursi yang ada di depan meja dokter min “ada apa  dokter ?”

“mulai besok kembalilah bekerja dibagian penyakit dalam, aku menugaskanmu kembali untuk merawat minho”

“haah ?” apa aku tidak salah dengar ? bukannya dokter sendiri yang melarangku untuk menemui minho. Kenapa sekarang tiba-tiba memanggilku kembali ?

“apa kau bisa ?”

“i,iya… tapi kenapa tiba-tiba ?”

Dokter min memutar-mutar ballpoint dijari-jarinya yang tidak terlalu panjang “aku lelah terus mendengar rengekan yang selalu minho keluarkan jika bertamu denganku, jadi kuputuskan untuk menarikmu kembali kesini, apa mau melakukannya ?”

Mendengar penjelasan dokter min yang kurasa agak kurang masuk akal membuatku menatap wanita berjas putih yang duduk tegak dihadapanku itu dengan tatapan bingung. Bohong kalau aku bilang tidak mau merawat minho lagi, karena aku sangat merindukan celetukan pedas yang keluar dari mulutnya dan ingin melihat senyum minho sekali lagi. Tapi disisi lain aku terus terngiang-ngiang akan kata-kata dari dokter min yang bilang aku hanya akan mendekatkan minho dengan kematian. “apa tidak apa-apa ?”

Dokter menghela nafasnya dengan berat. “ karena minho sendiri yang memintanya, kurasa semua akan baik-baik saja”

~~~~~

Sudah sepuluh menit aku berdiri didepan pintu kamar inap milik minho, tapi sampai sekarang aku masih enggan untuk membukanya. Aku bingung harus bersikap bagaimana bila berada didepan minho karena sudah dua bulan kami tidak bertemu, dan aku sama sekali tidak berusaha untuk bertemu dengan minho karena terhalang janji yang terlanjur ku buat dengan dokter min.

Setelah beberapa kali menghela nafas panjang akhirnya Kusentuhkan tanganku pada knop pintu yang terasa dingin, memutarnya perlahan hingga pintu bercat abu-abu itu terbuka. Ruangan yang selalu dihuni oleh minho masih sedikit gelap. Minho sendiri masih terlelap ditempat tidurnya, bahkan tirai yang tergantung dijendela juga masih tertutup rapat. Karena tidak bisa tidur, Aku jadi datang kesini terlalu pagi.

Dengan langkah pelan kumasuki ruangan supaya minho tidak terbangun karena kedatanganku. Kutarik tirai yang tergantung pasrah itu sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara berisik yang bisa membangunkan minho dan membuka daun-daun jendela yang ada didepanku. Membiarkan angin pagi yang dingin menyeruak masuk dari sela-sela jendela yang terbuka.

Kurasakan semilir angin menyapu wajahku dengan lembut. Tatapan mataku terpaku pada taman yang masih dihiasi beberapa bunga, hampir seluruh taman itu berwarna hijau karena saat ini kami memasuki awal musim panas. Sudah lama aku tidak melihat taman itu dari jendela ini. Rasanya kangen sekali.

“ taemin..?”

Aku terhenyak mendengar suara yang memanggilku. Minho sudah bangun. Bagaimana ini? Dengan perlahan kupalingkan wajahku kearah minho sambil tersenyum “ pagi minho, kau sudah bangun ?”

Minho mengerjap matanya beberapa kali, tampak sekali kalau dia masih mengantuk. “ jam berapa ini ?”

Aku berjalan mendekati tempat tidur minho, menarik selimutnya yang sedikit terturun dari tubuh minho lalu berbisik ditelinganya“ sekarang masih jam 7 pagi, maaf aku sudah membangunkanmu. Kembalilah tidur”

Minho tidak menjawab. Tangan  kirinya meraih salah satu tanganku yang menyentuh tepi tempat tidurnya, minho kembali memejamkan matanya kemudian bergumam pelan.             “ jangan pergi lagi taemin….”

~~~~~~

Sedikit demi sedikit cahaya matahari pagi mulai memasuki kamar minho yang terletak dilantai 3. Minho terus menggenggam tanganku hingga aku tidak bisa beranjak darinya. Sekarang sudah jam 9 pagi, minho masih terlelap dalam tidurnya. Kini cahanya matahari telah membuat ruangan menjadi ini lebih terang. Tadi memang tidak terlihat jelas, tapi sekarang aku bisa melihat perubahan yang dialami tubuh minho dengan sangat jelas.

Badan minho kini menjadi lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya sebelum aku dipindahkan kebagian lain. Ada lingkar kehitaman yang berada disekitar matanya. Dan Tangannya yang sejak tadi menggenggam erat tanganku kini hampir terlihat seperti tulang. Apa yang terjadi padamu minho ?

Kurasakan gerakan ringan dari ujung jemari tangan minho yang hingga kini masih berada diatas punggung tanganku. Perlahan matanya yang tampak sedikit hitam mulai terbuka. Bidak bola matanya yang hitam melirik kearahku. Aku tersenyum menyambutnya yang baru terbangun “ selamat pagi minho-ssi. Apa tidurmu nyenyak ?”

Minho membalas senyumku dengan sebuah senyuman manis yang jarang kulihat. Sesaat aku sempat terhentak melihat senyumnya itu. Karena itu adalah hal langka yang bisa kutemukan dimuka minho yang selalu tampak masam. “ kuambilkan sarapan untukmu ya..”

Sesuap demi sesuap bubur hambar yang aku suapkan masuk kedalam mulut minho. Terlihat sekali kalau makanan itu rasanya sangat tidak enak tapi minho sama sekali tidak mengeluh atau protes seperti yang selalu dilakukannya saat tiba waktu makan. Tubuh minho yang kurus membuat dirinya makin terlihat lemah.

Kuperhatikan kotak obat yang berada disalah satu tepi baki makanan yang sedang aku pangku. Selain 5 jenis obat yang sejak dulu selalu diminum oleh minho, kini jenisnya bertambah menjadi tujuh dan ditambah obat pereda rasa sakit yang diminum oleh minho ketika dia mengalami alergi serbuk sari dua bulan yang lalu. Sejak bangun tidur tadi, sampai sekarang aku tidak melihat minho batuk sekali pun. Sepertinya batuknya sudah sembuh. Tapi kenapa dia masih meminum obat ini ?

Tanpa disuruh, minho langsung menegak obat-obat itu setelah dia selesai sarapan. Aku menatapnya dengan heran, Menurutku itu hal yang aneh. karena dulu aku selalu mengancamnya dan melakukan berbagai cara agar minho mau meminum obatnya.

“ bagaimana kalau sekarang kita keluar ?” ajaku sambil meletakan baki makanan diatas meja. “matahari diluar sedang bagus”

Minho menggelengkan kepalanya tanda tidak mau. “ aku mau disini saja bersamamu”

“eh ? apa kau merasa tidak enak badan ?”

“ tidak..”

“ lalu kenapa tidak mau keluar ?”

Minho terdiam, kemudian matanya menatapaku. Sebuah senyum tersungging  lagi dibibirnya. “baiklah… ayo kita keluar”

~~~~~

Aku menatap minho dengan heran, sekarang dia jadi banyak bicara dan rajin tersenyum.  dia hampir menyebutkan nama ‘taemin’ disemua kalimat yang diucapkannya. Bukannya tidak senang, tapi ini semua terlalu aneh. Ada apa dengannya ? kenapa bisa berubah drastis seperti itu ? “ tidak bisakah kau tidak memanggilku ‘taemin’ ? kau bisa memanggilku dengan minnie. ?”

“kenapa dengan nama taemin, ku rasa itu nama yang bagus” lagi-lagi minho tersenyum.

“ memang, tapi aku tidak terlalu menyukainya” aku mengalihkan mataku dari wajah minho dan manatap ke tempat lain. Suasana taman ini sama saat aku terakhir kali membawa minho keluar. Banyak anak-anak kecil yang berlarian kesana-kemari. Aku sengaja mencari kursi taman yang jaraknya cukup jauh dari kolam, masih ada rasa trauma dihatiku. Seorang  anak lelaki gembul yang pernah menjadi pasienku saat dibagian anak tiba-tiba berlari didepan mataku dan dengan suara lantang dia berteriak menyapaku “ selamat pagi suster TAEMIN…”

Seketika suara gelak tawa terdengar ditelingaku… aku menoleh kearah sumber suara tawa yang berada disampingku. Kulihat Minho sedang tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya dengan kedua tangannya. Melihat minho yang tertawa mulutku langsung ternganga lebar. Benarkah makhluk yang ada disampingku ini sedang tertawa ? apa aku bermimpi ?

“ tidakkah kau tau, biarpun kau tidak suka dengan nama itu tapi orang-orang disekitarmu selalu memanggilmu dengan sebutan ‘taemin’.. , terima sajalah..hahaha” minho kembali tertawa, memperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih dicelah bibirnya yang terbuka. aku tidak menyahuti kata-kata yang keluar dari mulut minho barusan. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat.

Tawa minho perlahan berhenti saat dia sadar dengan tingkah bodohku lalu dia menjentikkan jarinya dijidatku yang tertutup poni. “berhentilah menganga seperti itu, kau makin terlihat bodoh dimataku”

Aku mengarahkan jari telunjukku ke arahnya “kau…tertawa ?”

Tawa  minho benar-benar sudah berhenti sekarang, tapi seutas senyum masih terlihat dibibirnya “ ada apa denganmu.. tentu aku tertawa”

“Tapi kau tidak pernah tertawa sebelumnya..”

“ sudahlah, Sekarang berikan hp-mu padaku. ayo kita rayakan kembalinya dirimu dengan berfoto bersama”

~~~~~~~

” kau ini bodoh sekali, kenapa kau tidak bisa tersenyum dengan wajar ?” protes minho saat melihat hasil fhoto yang baru saja terambil oleh kamera dihp milikku. Tidak tahu kenapa, minho tiba-tiba ingin berfoto bersamaku. Sejak tadi dia terus menempelkan kepalanya dikepalaku dan selalu mengeluhkan foto yang hasilnya tidak bagus karena ekspresiku yang kaku.

Aku berusaha menjauhkan kepalaku yang sudah merasa sedikit pegal karena barada dalam posisi miring yang cukup lama, tapi dengan cepat minho menarikku hingga kepala kami bersentuhan kembali. “ awas kalau kali ini gagal lagi”

Ck.. orang ini, kenapa keras kepala sekali sih. Aku Mencoba bersikap wajar didepan kamera, semakin cepat mendapatkan foto yang sesuai dengan keinginan minho, semakin cepat juga pemotretan ini selesai. Leherku sudah pegal. Dengan malas kusunggingkan senyum lebar di wajahku, menunggu minho mengambil gambar kami. tapi tak lama menunggu, aku merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh pipiku.

Jepret..

Aku diam tak bergerak saat mengetahui benda apa yang menyentuh pipiku itu.  Minho tersenyum puas melihat hasil fhoto yang baru saja diambilnya, kemudian diperlihatkan kepadaku. “ wah, ternyata bagus juga., lihat ini taemin.”

Melihat gambar yang terpampang pada layar hp didepanku, tidak ada yang bisa kulakukan selain menatapnya tidak percaya sambil menutup mulutku yang terbuka dengan jari-jari dikedua tanganku . Difoto itu terlihat minho sedang mengecup pipiku dengan mesra. Kyaaa………. minho menciumku lagi. Ini sudah kedua kalinya  dia lakukan kepadaku. Aku harus bagaimana ???? aku malu sekaliii

Minho yang melihat tingkahku hanya terkekeh menertawakanku. Aku yakin dia sangat sadar dan sengaja melakukan itu padaku. aku melirik kearahnya dan  minho balas menatapku.  “ini kenang-kenangan dariku. Awas kalau kau berani menghapusnya, Aku tidak akan pernah memaafkanmu”

Wajah tidak berdosa minho membuatku bingung harus berkata apa. Orang ini sangat pintar membuatku gila dengan semua tingkahnya. Sebelum dia berhasil membuatku benar-benar tidak waras, sebaiknya aku bawa dia kembali kekamar saja “ iya.. iya.. ayo kita kembali kekamarmu ”

“tunggu dulu..”

“ ada apa ?”

“tolong fhotokan aku sendiri,”

Deg..

Seketika perasaan tidak enak menyergap hatiku. Detak jantungku menjadi tidak karuan. Ada apa ini ? dengan susah payah ku enyahkan perasaan aneh yang menyelimuti hatiku saat ini dan berjalan sedikit menjauh dari minho lalu bersiap-siap mengambil gambar minho yang sedang duduk sendiri dikursi taman. Kulihat dari layar hp minho sedang memasang wajah yang sedang tersenyum manis. Senyum yang benar-benar manis dan terlihat hangat.

Deg…

Perasaan  aneh itu datang lagi. Kali ini tanganku sedikit bergetar. Jangan katakan suatu hal yang buruk akan terjadi. Lagi-lagi ku coba mengenyahkan semua pikiran buruk dari kepalaku dan kembali fokus pada minho. Yak.. sebuah gambar minho yang sedang tersenyum manis sukses tersimpan didalam memory hp milikku.“ oke. Sekarang ayo kita kambali kekamarmu”

^Choi Min Ho POV^

Aku tidak tahan melihat pipi putih taemin yang berada sangat dekat denganku. Sejak mencium pipi taemin yang sedang menangis saat berada berada diruang ICU dua bulan yang lalu, aku jadi ingin terus merasakan kelembutan dari pipi itu. Dan ketika kesempatan itu datang aku tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja.

Sejak kembali dari taman, taemin tidak mengatakan apa-apa. Sikapnya jadi aneh setelah mengambil gambarku yang duduk sendiri dikursi taman dan jadi tidak banyak bicara. Sekarang  dia malah sibuk mengupas  apel. Aku terus memperhatikan wajah taemin yang sedikit tertunduk. Melihat taemin yang ada didepanku, untuk pertama kalinya aku ingin hidup lebih lama dan bisa bersama dengan gadis manis yang sedang mengupas apel itu. Tapi aku jadi ingat perkataan dokter tentang penyakitku yang semakin memburuk.

Setelah melakukan tes kesehatan  yang perintahkan taemin, aku tahu ada sesuatu yang terus mengerogoti tubuhku dari dalam. Tapi aku tidak pernah atau lebih tepatnya tidak ingin melakukan perawatan lanjutan. Karena aku tahu kalau itu hanya sia-sia. Pada akhirnya kematianlah yang akan datang padaku.

^Tae Min Nie POV^

“minho, berhentilah menatap langit dan kembali ketempat tidurmu. Sekarang waktumu istirahat.”

minho memutar kepalanya, menatapku sejenak lalu kembali menatap langit “ tapi hari ini langit sangat indah, sayang kalau disia-siakan. Lihatlah bulan putih itu, hampir bulat sempurna. Apa nanti malam bulan purnama ?”

“mungkin saja..”

Sekarang minho benar-benar membalikkan tubuhnya, wajahnya terlihat sumringah “taemin, ayo kita keluar malam ini”

Mataku terbelalak mendengar permintaan minho yang membuatku sedikit takut, aku langsung teringat saat dimarahi dokter min  dan aku tidak ingin merasakan hal itu lagi.        “ apa? Apa kau gila ? tidak boleh..”

“ ayolah taemin, aku ingin melihat bulan itu ditaman”

Aku mendengus “ tidak harus ketaman hanya untuk melihat bulan, kau bisa melihatnya dari jendela kamarmu”

Minho masih tersenyum dan  berjalan mendekatiku. Dia Mengambil tempat disampingku lalu mendekatkan wajahnya yang tampan kearahaku sambil menatapku dengan lekat “ tapi aku ingin melihatnya ditaman bersamamu”

Perlahan ku mundurkan kapalaku darinya. Apa-apaan orang ini, jangan lihat aku seperti itu ! aku tidak kuat dengan tatapan itu. Menjauhlah sebelum jantungku meledak.. “ iya..iya aku mengerti, tapi kau harus tidur sekarang juga.”

“baiklah..” minho langsung berdiri dan beranjak ke tempat tidurnya. Dia membaringkan tubuhnya diatas kasur yang empuk lalu memejamkan matanya. Lima menit kemudian terlihat dada minho sudah bergerak naik turun secara teratur menandakan kalau minho sudah mulai tertidur.

Sementara minho tidur, kuputuskan untuk menemui dokter min, dokter yang sudah merawat minho sejak kecil dan meminta izin atas permintaan minho tadi. Setidaknya aku harus meminta izin terlebih dahulu sebelum membawa kabur anak orang bukan ? aku tidak ingin dokter min mendampratku lagi karena bertindak ceroboh.

Sampai didepan ruang kerja dokter min yang bisa aku lakukan adalah mengambil nafas panjang berulang-ulang. Sudah menjadi kebiasaanku sejak dulu, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan untuk menenangkan hatiku yang panik atau ragu. Ini dia saatnya.

Setelah tanganku mengetuk pintu, kedua telingaku mendengar sahutan dari dalam yang menyuruhku untuk segera masuk. Begitu masuk, senyum ramah dokter langsung menyambutku, dan beliau mempersilakan aku duduk. Aku pun menarik salah satu kursi kosong yang ada didepanku.

“ada apa suster..?”

Aku menelan ludah dengan susah payah berusaha melicinkan tenggorokanku yang kering. Kenapa sulit sekali mengatakan satu kata saja. Benar-benar menyebalkan. Aku menatap dokter min dengan ragu. Dan orang yang sedang kutatap hanya menunggu kalimat dari mulutku dengan sabar .

“ begini dokter, minho ingin ketaman malam ini. Dia bilang ingin melihat bulan dari taman. Kurasa, aku harus minta izin dulu pada dokter sebelum membawanya keluar. Apa kami boleh melakukannya ?”

Akhirnya bisa juga aku mengatakannya. Sekarang tinggal menunggu komentar dari dokter min saja. Terdengar suara decitan pelan dari kursi kerja yang diduduki oleh dokter min. Sepertinya beliau sedang menyandarkan punggungnya di sandaran kursi itu lebih dalam. Aku sama sekali tidak berani menatap dokter min lagi. Kapalaku tertunduk dalam, sambil menutup mata bersiap-siap menerima bentakan dan teriakan dokter min yang bisa merusakkan gendang telinga orang yang mendengarnya. Tapi aku salah.

“lakukan saja apa yang diminta oleh minho”

Tidak percaya dengan sistem pendengaranku, kepalaku yang tadi tertunduk seketika terangkat. Mataku menatap dokter yang duduk didepanku ini dengan sangat sangat sangat tidak yakin. “tadi dokter bilang apa ?”

Dokter min tersenyum lagi. Senyum yang susah diartikan maknanya “minho boleh jalan-jalan keluar malam ini”

Mendengar kata-kata dokter barusan membuatku memiringkan kepala, apa benar dokter min tadi bilang ‘boleh’ ? aku masih tidak mempercayai pendengaranku saat ini. Karena tidak ada yang inginku bicarakan lagi, aku pun segera permisi dan pergi meninggalkan ruang kerja dokter min.

Bukankan ini terlalu mudah ? kupikir aku harus mendengar teriakan dan omelan pedas dari dokter dulu sebelum beliau mengizinkan aku membawa minho ketaman. Apa semua baik-baik saja ?

^Author POV^

Minho memandang keluar jendela dengan wajah senang dan senyuman terus terpasang diwajahnya. Sinar remang-remang bulan yang menyapu wajah minho membuatnya tampak menawan.“ ayo kita pergi…”

taemin menghela nafasnya lagi. Entah untuk yang keberapa kali. Dia masih tidak yakin dengan semua ini. Apa semuanya akan baik-baik saja ?. “ya.. akan kusiapkan kursi rodamu..”

“aku tidak mau memakai kursi roda. Aku mau berjalan saja”

“tapi…” sebelum sempat taemin menyelesaikan kalimat, minho sudah menyelanya terlebih dahulu.

“aku baik-baik saja taemin..” minho langsung melangkahkan kaki keluar kamarnya, meninggalkan taemin  yang masih berdiri terpaku ditempat. Sadar minho sudah menghilang dibalik pintu taemin langsung mengejarnya. Taemin  memelankan larinya saat berada dibelakang minho, dia sama sekali tidak berniat menyamakan langkahnya  dengan langkah kaki minho.

Tiba-tiba langkah minho berhenti, seketika itu juga langkah taemin pun ikut berhenti. Minho membalikkan tubuhnya hingga saling berhadapan dengan taemin. Wajahnya sedikit menunduk saat matanya menatap mata gadis yang ada didepannya karana tubuh  taemin  yang lebih pendek darinya. Lalu minho mendecakkan lidahnya. “ ck.. kau ini, kenapa lambat sekali. Cepatlah sedikit”

Minho menarik tangan kanan taemin hingga tubuh mereka benar-benar dalam posisi sejajar. Dia terus menggenggam tangan taemin sambil lurus menatap kedepan. Bagi taemin ini Bukan hal mengejutkan, karena minho baru saja melakukan hal yang lebih mengejutkan dari pada menggandeng tangannya. Sepanjang jalan minho menyapa dan melambaikan tangan kanannya yang bebas pada semua orang yang berpapasan dengan mereka, tidak peduli itu dokter, perawat atau pasien yang sedang kebetulan lewat. Taemin  sampai melongo melihat pemandangan aneh itu. Padahal biasanya minho tidak pernah melakukan itu. Sedangkan orang yang disapa minho hanya bisa membalas dengan wajah yang kebingungan.

Minho membuka pintu pembatas antara begian dalam gedung rumah sakit dengan taman luas yang ada diluar sana dengan sangat bersemangat. Langkahnya semakin lebar saat menapaki rumput hijau yang tumbuh ditaman. “ wah.. bulannya besar sekali..”

Tanpa minho sadari kalau sekarang ini dia sedang berlari kecil. taemin yang mencemaskan keaadan minho segera menahannya. “minho..”

Minho memutarkan wajahnya lalu menatap taemin dengan mata berbinar. Bukankah itu aneh ? taemin jadi semakin cemas melihatnya. “apa kau tidak apa-apa?”

Minho masih menatap taemin dan dengan mantap dia menjawab “ aku baik-baik saja”.

Minho melanjutkan lari kecilnya lagi. Langkahnya baru berhenti saat mereka  tiba di salah satu kursi taman. Minho menghempaskan tubuhnya dikursi itu lalu menyandarkan punggungnya disandaran kursi, sedangkan kepalanya dia sandarkan di bagian atas sandaran kursi hingga posisi wajahnya mengarah kelangit. Matanya terpejam dan Dadanya bergerak naik turun tidak beraturan. Sepertinya minho sangat kesulitan menarik nafas hingga sedikit terbatuk.

“kau yakin aku tidak apa-apa ? batukmu….”

Minho masih memejamkan matanya “tenang saja, batukku memang kumat dimalam hari”

Melihat minho yang bersikukuh mengatakan dia baik-baik saja, taemin hanya bisa menarik nafas. Dia benar-benar bingung menghadapi makhluk yang sampai saat ini terus menggenggam tangannya.

Saat nafas minho sudah mulai teratur, dia membuka matanya yang langsung berhadapan dengan langit delap yang sangat luas. Langit malan ini sangat cerah. Sama sekali tidak ada awan yang menghalangi pemandagan. Bintang-bintang yang berhamburan dilangit malam tampak seolah-olah sedang menjaga sang bulan agar tetap berada ditempatnya. Suasana yang sangat romantis untuk sepasang kekasih. “indah…”

“ sangat indah..” taemin menimpali.

Minho tersenyum mendengar taemin yang mengoreksi katanya barusan, dia terus menatap keatas. “taemin..”

“hmmm ?”

“ berjanjilah padaku, apapun yang yang terjadi dimasa depan kau harus tetap tersenyum.”

Taemin langsung memalingkan wajahnya kearah minho yang masih melihat keatas sambil tersenyum. “apa maksudmu ?”

Minho balas menatap taemin, dia tahu ada kecemasan tersirat dibalik matanya yang indah. Dia mengubah posisi duduknya hingga lebih leluasa menatap taemin yang duduk sebelahnya lalu melanjutkan kalimatnya yang belum selesai “Jatuh cintalah pada laki-laki yang sehat, buatlah keluarga yang bahagia lalu lahirkan anak-anak yang sehat”

“aku tidak mengerti maksudmu minho..”

Batuk minho semakin lama tampak semakin parah, membuatnya sulit bernafas. Warna Bibirnya yang tadi cerah sekarang berubah pucat. Minho memegangi dadanya yang mulai terasa sakit dengan telapak tanggannya yang terbebas sedangkan tangannya yang lain meramas tangan kanan taemin dengan kuat. “kelak kau akan mengerti maksudku taemin..”

Taemin yang melihat kondisi minho yang mulai memburuk merasa kalau dia harus membawa minho kembali kekamar sebelum keadaanya semakin memburuk. “ batukmu semakin parah minho.. ayo kembali kedalam”

Minho tidak juga beranjak dari duduknya meski taemin memaksanya kembali kekamarnya, dia malah meremas tangan taemin semakin kuat dan disela nafasnya terengah-engah minho berusaha mengeluarkan suaranya “ a,aku.. suka padamu taemin”

Air mata taemin seakan tidak bisa terbendung saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut minho dan turun begitu saja dipipi taemin “ aku juga suk… emphh”

Minho menyentuhkan bibirnya yang pucat di bibir taemin dan menguncinya hingga taemin tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Taemin yang kaget hanya bisa diam menerima ciuman lembut dari minho sampai taemin merasa tangan minho yang menggenggam tangannya mulai merenggang dan kian melonggar. Minho melepaskan ciumannya lalu menatap taemin dengan susah payah, sempat terucap kata ‘maaf’ dari mulut minho sebelum dia jatuh tidak sadarkan diri dipelukan taemin.

^ Tae  Min Nie POV^

Entah sudah berapa lama aku berdiri disini, menatap sebuah batu berbentuk persegi yang berada tepat didepanku. Mataku yang basah tidak mampu lagi melihat dengan jelas pahatan huruf-huruf yang terukir diatas batu tersebut karena air mata yang hampir jatuh. Meski terlihat kabur, tapi aku tahu dengan pasti nama siapa yang tertera di sana. Kurasakan seseorang menepuk pundakku pelan. Aku tidak menoleh kearah orang yang dengan sengaja menepuk bahuku itu tapi hanya meliriknya sedikit dari ujung mataku.

Terlihat seorang wanita paruh baya sedang berdiri disampingku sambil menatap batu nisan yang ada didepan kami. air mata tidak tampak lagi dimatanya. Wanita paruh baya yang tidak lain adalah suster jung mengalihkan pandangannya kearahku.

“ berhentilah menangis taemin, ini semua bukanlah salahmu..”

Benarkah ini bukan salahku ? andai waktu itu aku tidak menuruti permintaan minho, Andai saja aku punya kekuatan yang lebih besar hingga minho bisa cepat mendapatkan penanganan medis, tentu sekarang minho masih berada dikamarnya dan bisa  bertingkah sesukanya. Tapi kini, minho sudah pergi. Dia tidak akan pernah membuka matanya lagi untuk selamanya. Minho meninggal setelah dua hari berada dalam keadaan koma. Dia bahkan tidak sempat mengucapkan kata selamat tinggal. Hanya kata maaf yang terakhir kali keluar dari mulutnya.

“janganlah menangis lagi, aku yakin minho tidak suka melihat kau menangisinya seperti ini.”

Kata-kata menghibur dari suster jung membuat tubuhku bergetar hebat. Bibirku terus bergetar berusaha menahan agar tangisku tidak semakin pecah. Tapi aku sama sekali tidak kuasa menahannya. Seketika itu juga air mataku langsung turun dan membasahi pipiku. Kutundukkan kepalaku lebih dalam lagi, memejamkan mata dan menutup mulutku dengan telapak tanganku agar suara isak tangisku tidak terdengar memilukan.

Suster jung mengarahkan matanya kembali pada nisan yang tidak akan pernah beranjak dari tempatnya. “ ini adalah jalan yang minho pilih. Dia sendiri yang memutuskan untuk  tidak melakukan kemotheraphy-nya”

Mendengar kalimat terakhir suster jung, aku menangkap satu kata yang aneh. Aku tidak pernah mendengar tentang kemotheraphy itu sebelumnya. Perlahan kapalaku menoleh dan menatap suster jung dengan sisa air mata. “ kemo… theraphy ?”

Suster jung kembali menatapku,dia menepuk pundakku lagi kemudian menghela nafasnya “ maaf kalau selama ini kami tidak membari tahumu, tapi minho memohon padaku dan dokter min agar merahasiakan darimu kalau dia mengidap kanker paru-paru”

Kan…ker ?? tunggu… aku belum bisa menangkap kata-kata suster jung. Aku tidak mengerti dengan apa yang sedang aku dengar. minho mengidap kanker? kenapa aku bisa tidak tahu. Karena itukah batuknya tidak juga kunjung sembuh ? itukah sebabnya dokter min selalu memberinya obat rasa sakit ?

“kanker ?”

Suster jung melepas telapak tangannya dari pundakku, dia mengubah posisi berdirinya hingga bisa menatapku dengan leluasa. Matanya sedikit berputar seolah-olah memilih kata-kata yang tepat untuk disampaikannya kepadaku. “ kami mengetahuinya saat minho melakukan tes kesahatan untuk mengetahui penyebab batuknya. Minho sama sekali tidak kaget saat mendengar ada kanker bersarang diparu-parunya. Dia menolak melakukan kemotheraphy yang bisa menghambat penyebaran sel kankernya dan dokter min menghormati keinginannya tersebut. Kemudian minho memintaku dan dokter min untuk merahasiakan masalah ini padamu, hanya padamu..”

Itukah ? itukah yang membuat tubuhmu semakin kurus minho ? kanker kah yang sudah membuatmu kian melemah. tapi kenapa kau tetap bersikap ceria didepanku ?

“ minho menolak kemotheraphy karena dia tidak ingin terlihat buruk didepanmu taemin..”

Bagai banjir bah yang menghancurkan tembok,air mataku keluar dengan derasnya. Tangisku pecah. Tidak ada yang bisa menghentikannya, bahkan aku sendiri. Mendengar perkataan suster jung, aku benar-benar merasa telah menjadi manusia paling bodoh didunia. Kenapa selama ini aku bisa tidak menyadarinya ? kenapa ?

Kau bodoh minho, kenapa kau tetap bersikap bodoh hingga disaat terakhir. Kenapa kau tidak malakukan kemotheraphy itu. Inikah maksud dari kata ‘maaf’ yang kau katakan waktu itu ? maaf karena selama ini kau terus menipuku ? maaf karena kau tdak bisa lebih lama menemani ku ?

Oh minho… maafkan aku yang selama ini tidak pernah memahami keadaanmu….

~~~~~~~

7 years later..

Langit memang tampak kelam dimalam hari, seakan-akan hitamnya langit malam bisa menelanmu begitu saja. Tapi kelamnya langit akan segera tersamarkan oleh taburan ribuan bintang-bintang yang berkelap-kelip.

Kusandarkan punggungku disebuah kursi kayu. Menatap keatas sambil merasakan deraan angin malam yang menyapu wajahku. Minho, apa kau disana ? apa kau sedang melihatku dibalik bintang-bintang itu ?

“taemin..” panggil seorang pria yang suaranya sudah sangat ku kenal. Pria itu melemparkan senyum manisnya dan mengambil tempat duduk disampingku.

Akupun membalas senyumannya kemudian menyandarkan kepalaku dipundak pria itu . “apa Shin Bie dan  Shin Hyuk sudah tidur ?”

pria itu mengecup puncak kepalaku dengan sangat lembut. “ya.. wajah mereka sangat lucu kalau sedang tidur”

Kau lihat minho, sesuai janjiku kini aku hidup bahagia. Tuhan telah mempertemukan aku dengan seorang pria yang kini telah menjadi suamiku. Ya, orang yang saat ini duduk disampingku adalah suamiku tersayang. Orang yang mencintaiku apa adanya. Tuhan menghadiahkan kami sepasang anak kembar (perempuan dan laki-laki) bernama Shin Bie dan  Shin Hyuk yang sekarang berusia 4 tahun.

Dengan kepala yang masih bersandar, kudongakkan sedikit wajahku untuk melihat bulan yang tampak besar diatas sana. “ bulan itu indah bukan ?”

Pria yang duduk disampingku itu ikut mendongakkan kepalanya ke arah langit. Tangannya yang tadi terkulai kini tengah merangkul bahuku. “ memang indah… tapi aku tidak mengerti kenapa ku selalu menatap bulan purnama dimusim panas ?”

“karena cahaya bulan dimalam musim panas mengingatkan aku pada cinta pertamaku. Meski singkat, tapi menakjubkan. Aku tidak bisa melupakan cintanya..”

“hmm..” orang yang dari tadi duduk disampingku segera melepaskan rangkulan tangannya dari bahuku. Aku menoleh kearahnya, dan pria itu sedang menekuk wajahnya. Apa dia cemburu ?? oh.. lucunya suamiku.

Akupun berinisiatip untuk mengecup pipinya dengan mesra dan melanjutkan kalimatku“ tapi sekarang aku telah menemukan cinta sejatiku, karena itu jangan mati dulu sebelum aku..”

Senyum kembali tergurat diwajah polos pria itu disusul dengan tawa kecil darinya . dengan lembut tangan pria itu mengenggam tanganku“ kalau begitu, ayo sekarang kita masuk”

Dia pun menarik tanganku, menuntun langkahku masuk kedalam rumah, rumah yang hangat dan penuh dengan kebahagiaan didalamnya. Apa disana kau juga bahagia minho ??

THE END

hai…hai… sampe juga diujung cerita.. bagaimana ? gaje ya ? hahahahaha…. harap maklum… tapi terima kasih teman2 udah suka dan relan mau baca cerita yangga jelas ini…gomawo…😀

~ oleh Hae_RyN's pada Mei 19, 2012.

4 Tanggapan to “I Can’t Forget Ur Luv (Last Chapter)”

  1. Greeting from over the sea. detailed post I will return for more.

  2. Real good info can be found on this blog.

  3. Ff nya keren …🙂
    tapi kenapa minho nya mati sih ..😦
    kan kasian sama taemin
    lainkali bikin yang key sma onew nde .. !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: