Klasifikasi Vegetasi

 

Klasifikasi Vegetasi

 

 

A.  Klasifikasi Vegetasi

Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat klasifikasi vegetasi terdiri dari 7 macam diantaranya :

1.   Vegetasi Pantai

Vegetasi yang terletak di tepi pantai dan tidak terpengaruh oleh iklim serta  berada diatas garis pasang tertinggi. Salah satu tanaman yang terdapat di daerah pantai adalah kelapa, merupakan satu jenis tumbuhan dari keluarga Arecaceae.

2.   Vegetasi Mangrove/Rawa

Merupakan karakterisitik dari tanaman pantai,muara sungai atau delta yang berada di tempat yang terlindung di daerah pesisir pantai yang membentuk suatu ekosistem. Definisi menurut FAO (1982): adalah jenis tumbuhan maupun komunitas tumbuhan yang tumbuh pada daerah pasang surut.

 

Macam-macam Vegetasi Mangrove

a.    Vegetasi inti:

Jenis ini membentuk hutan mangrove di daerah yang mampu brtahan terhadap salinitas (garam) yang disebut sebagai Halophyta. Kebanyakan jenis mangrove mempunyai adaptasi khusus untuk tumbuh dan berkembang, toleransi terhadap garam tinggi, dapat bertahan pada perendaman pasang surut.

b.    Vegetasi marginal:

Pada mangrove yang berada di darat, di rawa musiman, pantai dan atau mangrove marginal.

c.    Vegetasi fakultatif marginal:

Daerah yang banyak ditumbuhi tanaman meliaceae dengan jenisnya Carapa guianensis. Jenis lain Raphia taedigera, dimana pengaruh iklim khatulistiwa sangat banyak, tumbuh jenis Melaleuca leucadendron rawa. Vegetasi yang tumbuh di daerah pantai berlumpur dengan jenis-jenis pohon diantaranya pohon bakau ( Rhizophora sp), Bruguiera sp., Sonneratia sp., Xylocarpus, Avicenia dan lain-lain. Terdapat di bagian barat kawasan yaitu di sekitar Sukadana dan Batu Barat.

 

3.   Vegetasi Payau

Adalah areal/bidang tanah yang berupa hutan lebat yang berawa-rawa, permukaan tanah tergenang selama enam bulan dan kumulatif dalam setahun dan pada kurin waktu tidak terjadi penggenangan (surut) tanah  senantiasa jenuh air. Vegetasi ini tumbuh di daerah pertemuan air sungai dan air laut yang terdapat di muara sungai. Jenis vegetasi di daerah payau adalah Bakau Rhizophora apiculata dan R. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. Sedangkan bakau R. stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur.

4.   Vegetasi Gambut

Lahan gambut mempunyai penyebaran di lahan rawa, yaitu lahan yang  menempati posisi peralihan diantara daratan dan sistem perairan. Lahan ini sepanjang tahun/selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (water logged) atau tergenang air. Tanah gambut terdapat di cekungan, depresi atau bagian-bagian terendah di pelimbahan dan menyebar di dataran rendah sampai tinggi. Yang paling dominan dan sangat luas adalah lahan gambut yang terdapat di lahan rawa di dataran rendah sepanjang pantai. Lahan gambut sangat luas umumnya menempati depresi luas yang menyebar diantara aliran bawah sungai besar dekat muara, dimana gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut. Jenis pohonnya antara lain ramin ( Gonystylus bancanus), dan jelutung ( Dyera sp).

5.   Vegetasi Dataran Rendah

Vegetasi yang tumbuh dibawah ketinggian 700 m di atas permukaan laut.  Vegetasi yang terdapat banyak dijumpai pada ketinggian hampir 0 meter diatas permukaan laut. Daerah ini banyak terdapat tanah aluvial. Vegetasi tanah aluvial secara umum merupakan habitat yang subur dan mempunyai keaneragaman jenis yang tinggi. Jenis pohonnya antara lain pohon belian/ kayu besi (Eusideroxilon zwageri).

6.    Vegetasi Dataran Tinggi

Vegetasi yang tumbuh di ketinggian antara 700 – 1500 m diatas  permukaan laut. Ekosistem pada daerah dataran tinggi dibentuk oleh kondisi lingkungan yang ekstrem, antara lain suhu malam hari yang sangat rendah, intensitas sinar matahari yang tinggi pada siang hari namun disertai masa fotosintesa yang pendek, kabut tebal, curah hujan tinggi, serta kondisi tanah yang buruk. Tanaman yang tumbuh pada daerah tersebut sifatnya sangat khusus karena harus bertahan untuk hidup pada kondisi sulit tersebut. Tanaman yang dapat tumbuh di daerah dataran tinggi diantaranya : cemara (tumbuhan berdaun jarum), ketela pohon, ubi jalar, kopi, cokelat, dan sebagainya.

7.    Vegetasi Pegunungan

Vegetasi yang tumbuh di ketinggian antara 1500 – 2500 m di atas  permukaan laut. Terdapat di bukit-bukit yang lebih rendah atau di lereng gunung. Salah satunya adalah tanaman teh dan bunga Eidelweis. Teh dihasilkan oleh perkebunan besar dan perkebunan rakyat, di daerah pegunungan yang subur dan banyak turun hujan. Selain itu tanaman kopi juga dapat tumbuh di daerah pegunungan. Tanaman tembakau dapat juga tumbuh di daerah ini namun hanya dapat pada musim kemarau.

B.   Klasifkasi Komunitas Tumbuhan

Komunitas vegetasi diklasifikasikan dalam beberapa cara menurut kepentingan dan tujuannya. Pada umumnya diklasifikasikan berdasarkan:

1.      Fisiognomi : merupakan kenampakan umum komunitas tumbuhan. Komunitas tumbuhan yang besar dan menempati suatu habitat yang luas diklasifikasikan ke dalam komponen komunitas sebagai dasar fisiognominya. Komponen komunitas yang menjadi dasar fisiognomi ini ialah yang berada dalam bentuk dominan. Sebagai contoh : Komunitas hutan, padang rumput, stepa, tundra , dan sebagainya.

2.      Habitat: Karena komunitas sering dinamik dengan kekhasan habitat maka habitat ini digunakan menjadi dasar pembagian komunitas. Pada umumnya dikaitkan dengan kandungan air tanah pada habitat yang bersangkutan. Pembagian itu antara lain :

a.    Komunitas lahan basah

b.    Komunitas lahan agak basah

c.    Komunitas lahan mesofit

d.    Komunitas lahan agak kering

e.    Komunitas lahan kering

3.      Komposisi dan Dominasi Spesies : Disini komunitas tumbuhan yang besar dibagi kedalam bagian-bagian yang kecil dengan dasar komposisi dan dominasi spesies. Klasifikasi seperti ini memerlukan isi spesies dalam komunitas itu frekuensinya, dominasinya dan lamanya spesies itu berada (fideling/kesetiaan). Komunitas diberi nama dengan spesies yang dominan atau yang memperlihatkan frekuensi tinggi, misalnya: Betula-Rhododendron-Magnolia assosiasi, Kruing-Kamper-Meranti-Jati.

Menurut Clements vegetasi dapat dianalisa ke dalam unit kelas-kelas berikut dalam urutan yang turun :

1.   Formasi

Menurut Clements unit vegetasi terbesar adalah formasi tumbuhan. Formasi tumbuhan merupakan unit vegetasi yang besar disuatu wilayah yang ditunjukkan oleh beberapa bentuk pertumbuhan yang dominan, misalnya hutan ditunjukkan dengan pohon-pohon.

Whittaker berpendapat bahwa formasi pertumbuhan tidak tegas dan nyata bahwa unit vegetasi ditentukan hanya oleh iklim, tetapi merupakan pengelompokkan komunitas secara abstrak dengan fisiognomi dan saling berhubungan dengan lingkungan.

2.   Assosiasi

Assosiasi adalah vegetasi regional, dalam formasi ini merupakan klimaks sub iklim dalam formasi umum. Sekarang konsep assosiasi ini sudah tidak dipakai lagi dan menempatkan komunitas kontinum yang populer.

3.   Fasiasi (Faciation)

Setiap Fasiasi dapat dihuni oleh 2 atau lebih dominan, tetapi jumlah total dominan dalam fasiasi akan kurang atau lebih kecil daripada assosiasi.

4.   Konsosiasi (Consociation)

Konsosiasi merupakan unit komunitas yang lebih kecil dengan dominan tunggal dan masih mempunyai bentuk pertumbuhan yang mencirikan formasi.

5.   Sosiasi

Assosiasi dan konsosiasi dapat dianalisis lebih jauh kedalam beberapa komunitas kecil (unit) yang di bawah pengaruh langsung variasi habitat lokal komunitas. Ini didominasi oleh satu atau dua spesies lain dari dominan pada assosiasi dan konsosiasi. Unit yang lebih kecil disebut sosiasi.

6.   Clans (klans)

Dalam setiap sosiasi dapat ditentukan dua atau lebih unit klimaks yang terkecil, ini yang disebut Clans. Setiap clans merupakan agredasi kecil satu individu tetapi sangat lokal dab spesies dominan yang tertutup.

Whittaker mengemukakan bahwa ada 3 konsep yang dapat diterapkan dalam mengamati pola komunitas.

a.    Gradasi komunitas, yaitu konsep yang dinyatakan dalam bentuk populasi.

b.    Gradasi lingkungan, yang menyangkut sejumlah faktor lingkungan yang berubah secara bersama – sama.

c.    Gradasi ekosistem, dalam hal ini komleks gradasi dan gradasi komunitas membentuk suatu kesatuan dan membentuk gradasi komunitas dan lingkungan.

 

  C.   Analisis Vegetasi

Para pakar ekologi memandang vegetasi sebagai salah satu komponen dari ekosistem, yang dapat menggambarkan pengaruh dari kondisi – kondisi factor lingkungan dari sejarah dan factor – factor itu mudah di ukur dan nyata. Dengan demikian analisis vegetasi secara hati – hati dipakai sebagai alat untuk memperlihatkan informasi yang berguna tentang komponen komponen lainnya dari suatu ekosistem. Ada dua fase dalam kajian vegetasi ini, yaitu mendeskrisipkan dan menganalisa, yang masing – masing menghasilkan berbagai konsep pendekatan yang berlainan. Metode manapun yang dipilih yang penting adalah harus disesuaikan dengan tujuan kajian, luas atau sempitnya yang ingin di ungkapkan, keahlian dari bidang botani dari pelaksana(dalam hal ini adalah pengetahuan dalam sistematik), dan variasi vegetasai secara alami itu sendiri.

Beberapa Metode Analisis Vegetasi

Dalam ilmu vegetasi telah dikembangakan berbagai metode untuk menganalisis dan juga sintesis sehingga akan sangat membantu dalam mendeskripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal metodologi ini sanagt berkembang sangat pesat sesuai dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tidak lupa pula diperhitungkan berbagai kendala yang ada. Secara garis besar metode analisis dalam ilmu vegetasi dapat dikelompokkan dalam dua macam:

1.    Metode destruktif

Metode ini biasanya dilakukan untuk memahami jumlah materi organic yang dapat dihasilkan oleh suatu komunitas tumbuhan. Variable yang digunakan bisa berupa produktivitas primer, maupun biomassa (jumlah total benda hidup dalam populasi tertentu organisme). Dengan demikian dalam pendekatan selalu harus digunakan penuaian atau berarti melakukan perusakan terhadap vegetasi tersebut. Metode ini umumnya dilakukan untuk bentuk – bentuk vegetasi yang sederhana, dengan ukuran luas pencuplikan antara satu meter persegi sampai lima meter persegi. Penimbangan bisa didasarkan pada berat segar materi hidup atau berat keringnya. Metode ini sangat membantu dalam menentukan kualitas suatu padang rumput terbuka dikaitkan dengan usaha pencarian lahan pengembalaan dan sekaligus menentukan kapasitas tampungnya. Pendekatan yang terbaik untuk metode ini adalah secara floristika, yaitu didasarkan pada pengetahuan taksonomi tumbuhan.

2.    Metode non destruktif

Metode ini dapat dilakukan dengan dua cara pendekatan, yaitu berdasarkan penelaahan organism hidup atau tumbuhan tidak didasarkan pada taksonominya, sehingga dikenal dengan pendekatan non floristika. Pendekatan lainnya adalah didasarkan pada penelaahan organisme tumbuhan secara taksonomi atau pendekatan floristika.

3.    Metode non destruktif non floristika

Metode non-floristiaka telah dikembangkan oleh banyak pakar vegetasi. Seperti Du Rietz (1931), Raunkiaer (1934), dan Dansereau (1951). Yang kemudian diekspresiakan oleh Eiten (1968) dan Unesco (1973). Danserau membagi dunia tumbuhan berdasarkan berbagai hal, yaitu bentuk hidup, ukuran, fungsi daun, bentuk dan ukuran daun, tekstur daun, dan penutupan. Untuk setiap karakteristika di bagi-bagi lagi dalam sifat yang kebih rinci, yang pengungkapannya dinyatakan dalam bentuk simbol huruf dan gambar. Bentuk hidup metode ini, klasifikasi bentuk vegetasi, biasanya dipergunakan dalam pembuatan peta vegetasi dengan skalakecil sampai sedang, dengan tujuan untuk menggambarkan penyebaran vegetasi berdasarkan penutupannya, dan juga masukan bagi disiplin ilmu yang lainnya. Untuk memahami metode non floristika ini sebaiknya kita kaji dasar-dasar pemiokiran dari beberapa pakar tadi. Pada prinsipnya mereka berusaha mengungkapkan vegetasi berdasarkan bentuk hidupnya, jadi pembagian dunia tumbuhan secara taksonomi sama sekali di abaikan, mereka membuat klasifikasi tersendiri dengan dasar-dasar tertentu.

4.    Metode non destruktif floristika

Metode ini dapat menentukan kekayaan floristika atau keanekaragaman dari berbagai bentuk vegetasi. Penelaahan dilakukan terhadap semua populasi spesies pembentuk masyarakat tumbuhan tersebut, jadi dalam hal ini pemahaman dari setiap jenis tumbuhan secara taksonomi adalah mutlak diperlukan. Dalam pelaksaannya sangat ditunjang dengan variable-variabel yang diperlukan untuk menggambarkan baik struktur maupun komposisi vegetasi

Menurut para pakar, analisis komunitas dari tumbuhan dibagi menjadi dua teknik analisi, antara lain :

1.   Analisis kualitatif komunitas tumbuhan

a.   Komposisi floristik / anggota spesies komunitas

Studi ini ialah pada spesies dari komunitas yang dianggap penting. Ini dapat dilakukan dengan koleksi yang periodik kemudian di identifikasi dengan waktu sepanjang tahun.

b.   Stratifikasi

Terjadi akibat terjadinya persaingan suatu jenis tertentu akan lebih dominan dari yang lainnya sehingga membentuk struktur vertikal disamping akibat perbedaan umur dan jenis vegetasi yang ditentukan berdasarkan tinggi vegetasi.

c.   Bentuk pertumbuhan

Sebagian besar kenampakan umum dan pertambahan spesies dalam komunitas dikelompokkan ke dalam klas bentuk pertumbuhan yang berbeda. Berdasarkan nilai persentase perbedaan klas bentuk pertumbuhan, habitat alami yang nyata dari komunitas dapat diketahui.

d.   Sosiabilitas

Menggambarkan keberadaan suatu spesies pada ruang yang ditempatinya.

Dalam komunitas tumbuhan, spesies secara individu tidak selamanya tersebar. Individu beberapa spesies tumbuhan dengan jarak yang lebar, sedang beberapa yang lain terdapat dalam bentuk rumpun atau menutup lahan. Beberapa individu spesies jika tumbuhan dalam rumpun akan baik dan mereka cenderung mengadakan kompetisi  yang hebat sehingga tidak dapat membentuk populasi yang besar. Berdasarkan itu meka dapat dikelompokkan dalam klas-klas:

Klas 1 : Pohon tumbuh individual (singly)

Klas 2 :Kelompok tersebar atau ikatan terbuka

Klas 3 : Menutup tanah dengan anak yang kecil dan terpencar

Klas 4 : Menutup tanah lebih luas lagi

Klas 5 : Seluruh lahan tertutup oleh lapisan vegetasi

e.   Assosiasi antarspesifik

Jika vegetasi mempunyai sampai dua spesies yang berbeda atau lebih dekat satu sama lain, mereka membentuk sebagai komunitas tipe asosiasi – asosiasi antar spesies ini dapat terjadi pada beberapa kemungkinan :

1)  Spesies – spesies dapat hidup dalam lingkungan yang sama

2)  Spesies –spesies mungkin mempunyai distribusi geografi yang sama

3)  Spesies – spesies mempunyai bentuk pertumbuhan yang berlainan (sehingga memperkecil kompetisi)

4)  Tumbuhan atau spesies yang lain saling berinteraksi yang menguntungkan salah satu atau keduanya, assosiasi ini mudah dilihat di lapang.

f.    Vitalitas

Menggambarkan tingkat kesuburan suatu spesies dalam perkembanganya sebagai respon terhadap lingkungan. Diperlukan untuk mengetahui keberhasilan hidup suatu spesies.

g.    Periodesitas

Periodesitas menyatakan keadaan yang ritmis dalam kehidupan tumbuh-tumbuhan. Keadaan ini dinyatakan dengan adanya daun, tunas, bunga, buah dan daun yang melakukan fotosintetis (atau tidak berdaun).

2.   Analisis kuantitatif komunitas

Untuk analisis ada beberapa metode pengambilan sampel, yaitu:

a.   Metode kuadrat (Quadrat methode)

Menurut Weaver dan Clements kuadrat adalah daerah persegi dengan berbagai ukuran. Bentuk petak sampel dapat persegi, persegi panjang, atau lingkaran.

Metode kuadrat juga ada beberapa jenis :

1.   Liat Quadrat : spesies diluar petak sampel dicatat.

2.   Count / list count quadrat : metode ini dikerjakan dengan menghitung jumlah spesies yang ada beberapa batang dari masing – masing spesies di dalam petak. Jadi merupakan suatu daftar spesies yang ada di daerah yang di selidiki.

3.   Cover quadrat (basal area kuadrat) : metode ini digunakan untuk memperkirakan berapa area yang di perlukan tiap – tiap spesies dan berapa total basal dari vegetasi di suatu daerah.

4.   Chart quadrat : penggambaran letak / bentuk tumbuhan disebut pantograf. Metode ini berguna dalam mereproduksi secara tepat tepi – tepi vegetasi dan menentukan letak tiap – tiap spesies yang vegetasinya tidak begitu rapat.

  D.   Pemetaan Vegetasi

1.    Metode Pemetaan Vegetasi

Dalam mempelajari suatu komunitas tumbuhan sering diperlukan satu gambaran mengenai penyebaran dari suatu vegetasi jenis tertentu di suatu daerah. Berikut beberapa metode pemetaan vegetasi secara sederhana:

 

a.    Pemetaan Komunitas Tumbuhan Dari Satu Titik Konstan

Pada metode ini kita harus menentukan suatu titik atau tempat yang berkedudukan sedemikian rupa sehingga area vegetasi dapat terlihat. Titik ini dipakai sebagai titik konstan dari mana arah dan jarak titik-titik lainnya akan ditentukan. Kemudian menentukan titik-titik pada batas luar vegetasi dengan kedudukan sedemikian rupa sehingga memberikan gambaran dari bentuk dan penyebaran vegetasi. Selanjutnya menentukan kedudukan titik-titik ini terhadap titik yang konstan tadi dengan kompas dan mengukur jarak dari titik-titik pada vegetasi ke titik konstan.

b.    Pemetaan Daerah Dengan Mencari Jarak dan Sudut

Pada metode ini kita harus menyusun titik-titik pada daerah yang hendak dibuat petanya. Susunan titik-titik ini memberikan gambaran bentuk dari daerah tersebut. Kemudian menghitung jarak antara satu titik terhadap titik  lainnya yang berdekatan, selanjutnya menentukan pula dengan kompas kedudukan antar titik-titik yang berdekatan tadi.

2.    Berdasarkan Pengindraan Jauh

Pengindraan jauh adalah mengamati dan mengukur objek tanpa menyentuh. Dalam ilmu lingkungan mengacu pada pemakaian sensor yang mendetect radiasi mikromagnetik yang dipantulkan dari vegetasi dan permukaan tanah.

3.    Berdasarkan Ordinasi

Pola komunitas dianalisis dengan metode ordinasi yang menurut Mueller Dombois dan Elenberg (1974) pegambilan sampel plot dapat dilakukan dengan random, sistematik atau secara subjektif atau faktor gradien tertentu. Untuk memperoleh informasi vegetasi secara objektif digunakan metode ordinasi dengan menderetkan contoh-contoh (releve) berdasarkan koefisien ketidaksamaan. Variasi dalam releve merupakan dasar untuk mencari pola vegetasinya. Dengan ordinasi diperoleh releve vegetasi dalam bentuk model geometrik yang sedemikian rupa sehingga releve yang paling serupa mendasarkan komposisi spesies beserta kelimpahannya kan mempunyai posisi yang saling berdekatan, sedangkan releve yang berbeda akan saling berjauhan. Ordinasi dapat pula digunakan untuk menghubungkan pola sebaran jenis-jenis dengan perubahan faktor lingkungan.

4.    Berdasarkan Ordinasi Polar

Metode ordinasi polar yang paling awal dan sederhana melibatkan perhitungan yang tidak begitu rumit. Langkah pertama membentuk matriks nilai CC (koefisien komunitas) semua pasangan stand. Langkah kedua pembentukan matriks disimilaritas pasangan stand mempunyai indeks difference. Langkah ketiga adalah memindahkan nilai ID ke sebuah titik. Ada beberapa cara untuk transfer tersebut, dan beberapa memakai komputer. Yang paling sederhana adalah dengan ordinasi polar yaitu dengan memiliki dua stand acuan pertama A da kedua B yang paling berbeda sebagai kutub pada aksi horizontal.

 

 Kesimpulan :

1.   Klasifikasi vegetasi ada tujuh macam, diantaranya adalah vegetasi pantai, vegetai payau, vegetasi mangrove, vegetasi dataran rendah, vegetasi dataran tinggi, vegetasi pegunungan, dan vegetasi gambut.

2.   Komunitas vegetasi diklasifikasikan dalam beberapa cara menurut kepentingan dan tujuannya berdasarkan: fisiognomi, habitat, dan komposisi dan dominasi spesies.

3.   Beberapa Metode Analisis Vegetasi yaitu metode destruktif, metode non destruktif, metode non destruktif non floristika, metode non destruktif floristika.

4.   Pemetaan Vegetasi terdiri atas :

a)  Metode Pemetaan Vegetasi

b)  Berdasarkan Pengindraan Jauh

c)  Berdasarkan Ordinasi

d)  Berdasarkan Ordinasi Polar

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Lumowa, Sonja V.T. 2012. Ekologi Tumbuhan. Universitas Mulawarman; Samarinda

http://id.wikipedia.org/wiki/vegetasi.html

http:// gunztoro.blogspot.com/2009/01/klasifikasi-vegetasi.html

http://budisma.web.id/materi/…x…/macam-macam-vegetasi-dan-ciri-cirinya.html

~ oleh Hae_RyN's pada Mei 21, 2012.

2 Tanggapan to “Klasifikasi Vegetasi”

  1. I like your insightful words. topnotch work. I hope you write many. I will continue subscribing

  2. Very interesting info!Perfect just what I was searching for!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: