You Are My Bad Boss part 2

ini dia cerita lanjutan “You Are My Bad Boss” yang agak gajee.  maaf kan kalau ceritanya tarlalu aneh, tapi itu lah kenyataannya… hwahahah…. nah silakan dinikmati lanjuran ceritanya…..

Chapter      2

“keatap lagi ?” tanya yumi saat melihatku menenteng 2 kotak bekal.

“ iya… merepotkan saja” eluhku.

“ tapi sepertinya kau menikmatinya”

“tentu… aku kan suka memasak”

“ck… bukan itu yang kumaksud” yumi menunjuk-nunjuk dua kotak bento ditanganku.

“…tapi hubunganmu dengannya” lanjut yumi menudingku.

“ hubungan apa ? dia itu hanya bos dingin dan aku yang diperintah sebagai pembantunya”

“ck… susah sekali bicara dengan anak kecil sepertimu. Sana pergi. Dia pasti sudah menunggumu diatap” yumi jadi kesal sendiri.

“ oh.. benar juga” akupun segera beranjak dan melambaikan tangan pada yumi.

 

^-^

 

“lama sekali..” bentak rei yang sepertinya sudah lama menungguku.

“ maaf…maaf…”

Aku mengeluarkan kotak bekal dari dalam tas kecil milikku.“ makanlah..”

“ dari mana saja sih ?” ujar rei dengan wajah kesal.

“dari kelas.. anggap saja ini sebagai balasan waktu aku menunggumu dulu”

Rei tidak membalas kata-kataku.

“ menu baru ?”tanya rei begitu membuka kotak bekal dan mulai menyantap isinya.

“iya.. aku membuatnya sambil melihat resep yang ada dibuku. Tapi tidak tahu bagaimana rasanya.”

“enak kok” celetuk rei.

“benarkah ?” tanyaku tidak percaya.

“ coba saja sendiri, Inikan masakanmu. Lagipula aku tidak pernah makan masakanmu yang tidak enak”

Aku tersenyum senang mendengar perkataan rei barusan. Jarang ada orang memuji masakanku selain yumi dan haruki.

“itu karena mulai memasak saat SMP”ujarku dengan sedikit bangga.

“oh ya?? Jangan-jangan kau tinggal sendirian sejak SMP?”

“ya…” jawabku pelan

“kalau boleh tahukenapa kau bisa tingga sendirian” tanya rei hati-hati.

Aku menatapnya dengan seksama, dia pun melakukan hal yang sama. Aku berusaha menangkap arti tatapannya itu, tapi sama sekali tidak mandapatkan apapun.

Sejenak aku ragu apa aku harus menceritakan kehidupan masa laluku padanya, karena itu hanya membuatku kesal bila mengingatnya. tapi ditatap seperti itu membuatku merasa bahwa aku akan baik-baik saja.

“orang tuaku bercerai empat tahun yang lalu” aku mulai bercerita. Rei masih menatapku tanpa suara.

“…awalnya aku tidak bisa menerimanya. Aku merasa semua itu tidak benar, seharusnya mereka lebih memikirkanku sebagai anak mereka. Karena bagaimanpun aku adalah pihak yang paling terluka”aku diam sejenak, berusaha menahan emosi.

“lalu ?”

“biarpun aku terluka, aku tetaplah anak kecil yang tidak punya hak untuk bicara..” lanjutku.

“… hingga akhirnya mereka bercerai dan kini mereka sudah menikah lagi. Mereka membuatku tidak nyaman untuk tinggal dengan orang asing yang berpura-pura menjadi ayah dan ibuku” aku menunduk menatap kaki-kakiku.

“karena itu kau memutuskan untuk tinggal sendiri ?” tebak rei.

Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.

“apa orang tuamu tidak melarang ?”tanya rei lagi.

“ tentu saja melarang, coba kau pikir, apa yang bisa dilakukan siswa SMP jika dia tinggal sendirian?” aku bertanya balik, rei hanya menatapku.

“ ….tapi aku terus memaksa hingga akhirnya ibuku memberiku izinuntuk tinggal sendari”

“lalu kau bekerja untuk memenuhi kebutuhanmu ?”tanya rei untuk kesekian kalinya. Aku tersenyum melihat rasa ingin tahunya itu.

“ tidak..aku bekerja hanya untuk menghilangkan penat saja. Orang tuaku tetap mengirimiku uang kok” aku menolehkan wajahku ke arah rei

“…lalu… apa yang terjadi padamu sampai kau tinggal sendirian ?”tanyaku balik. Memang dia saja yang boleh mengorek-ngorek kehidupanku.

“orang tuaku adalah orang yang sibuk, sekarang mereka tinggal dikorea karena pekerjaan. Itu sebabnya aku tinggal sendirian” jawab rei singkat.

Aku mengerutkan dahiku “ hanya itu ?”

“yap..” jawab rei sambil tersenyum tipis.

‘singkat sekali ceritanya, spertinya hidup orang ini sama sekali tidak menarik’ batinku.

“pulang sekolah nanti tunggu aku di gerbang” kata rei tiba-tiba.

“kenapa?”

“aku ingin pulang bersamamu..”

 

^-^

 

Bel pulang sekolah telah terdengar menggema diseluruh ruangan kelas. Niwa-san segera mengakhiri pelajarannya hari ini dan pergi meninggalkan ruangan kelas 2-1. Semua murid terlihat sibuk bersiap-siap untuk pulang, begitu juga yumi dan haruki. Mereka makin terlihat mesra akhir-akhir ini.

“ nana, ayo pulang bersama kami” ajak haruki yang menghampiri mejaku dan yumi.Aku mengibas-ngibaskan tangan kananku seraya menolak.

“tidak… aku tidak mau menjadi pengganggu”aku tersenyum nakal. “lagi pula rei menyuruhku untuk menunggunya” sambungku.

“rei ?” yumi menangkap kata aneh dari mulutku.

“haaa… ternyata hubungan kalian sudah sampai sejauh itu ya..?” goda haruki.

“ternyata dugaanku tepat, tidak kusangka akan secepat ini. Lanjutkan nana..”timpal yumi.

“ap.. apa yang kalian bicarakan? Ini semua tidak seperti yang kalian pikirkan” kilahku.

“… sudah sana cepat pulang” usirku sambil menggerakkan tangan seperti mengusir anak ayam.

Mereka berdua tertawa bersamaan, membuatku wajahku memerah(mungkin). Padahal bukan seperti itu keadaan yang sebenarnya. Dijelaskan pun percuma, membela diri hanya akan membuat diriku terlihat bodoh.

“baiklah… kalau begitu kami pulang dulu ya nana-chan..” ujar yumi sambil mengelus kepalaku lalu melangkah pergi bersama haruki.

 

Hhh… akhirnya kelas menjadi sepi karena seluruh penghuni sudah pulang kerumah masing-masing. Kuputuskan untuk beranjak dari kursiku dan berjalan menuju gerbang sekolah, tempat rei meyuruhku untuk menunggunya.  Dengan langkah pelan kutapakkan kakiku dilantai, lagipula rei pasti belum selesai dengan urusannya.

 

“aku menyuruhmu untuk menungguku, kenapa malah aku yang menunggumu seperti ini ” ujar rei saat melihatku mendekati gerbang. Dia melipat kedua tangannya di dada dengan posisi badan yang bersandar disalah satu sisi gerbang. Kakinya yang panjang dia silangkan, membuatnya tampak seperti boss angkuh yang sedang kesal menunggu kedatangan anak buahnya.Aku tidak menyangka rei akan tiba lebih dulu dariku.

“kenapa kau sudah ada disini”

“ menunggumu bodoh…ayo cepat pergi” bentaknya. Rei melangkahkan kakinya dan berjalan didepanku. Wajahnya terlihat sangat kesal.

“ya..” jawabku pelan. Aku tidak berani bicara padanya dan memutuskan untuk mengikutinya dari belakang sambil menunduk. Lama berjalan membuatku sadar kalau jalan yang diambil rei bukanlah jalan yang biasa kami lalui bila pergi ke apartment rei.

“kita mau kemana ?” aku menarik pelan ujung lengan baju rei.

“ supermarket” jawab rei singkat.

“supermarket ? untuk apa ?” aku melepaskan lengan baju rei dan mensejajarkan langkahku dengannya.

“belanja bahan makanan dan keperluan lainnya”

“apa ? bukannya aku sudah membelinya dua hari yang lalu?” tanyaku bingung. Aku membelinya cukup banyak, tidak mungkin habis secepat itu.

“bahan yang ada dikulkas rusak, jadi aku membuang semuanya” timpal rei enteng.

“apaaa…rusak bagaimana maksudmu ?? apa kau tau bagaimana repotnya aku saat membawa semuanya sendiri ?” teriakku tidak terima.

“sudah.. diam saja. Ayo cepat jalan” perintahnya.

‘orang ini benar-benar orang aneh yang menjengkelkan’ rutukku kesal.

Sampainya disupermarket rei langsung mengambil troli yang berukuran besar lalu membawanya berkeliling deretan sayur dan buah. Satu per satu dimasukkannya berbagai jenis sayur dan buah yang disukainya, kemudian bekeliling ketempat lain. Dia terlihat sangat senang.

“nana… nana…” panggilnya.

“apa ?” sahutku yang dari tadi hanya melihat kelakuannya.

“buka mulutmu…AAA..”rei memasukkan sesuatu kedalam mulutku.

“ ASSIINNNN……..” teriakku sambil menyeringai menahan rasa asin yang kuat . Rupanya rei memasukkan asinan sayuran kemulutku. Padahal kan aku tidak suka makanan asin. Rei sialan.

Rei tertawa keras melihatku menyeringai keasinan sambil memegangi perutnya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menunjuk-nunjuk ke arahku dan dia terus saja tertawa. Kemudian dia pergi meninggalkanku dan membawa troli bersamanya.

Kalau ku perhatikan belakangan ini rei jadi lebih banyak tersenyum, bahkan hari ini aku melihatnya tertawa. Ekspresi yang tidak pernah ku lihat sebelumnya. Sebenarnya rei itu orang yang seperti apa sih ? banyak hal yang tidak aku ketahui tentangnya.

Ketika aku ingin menyusul rei yang entah sekarang ada dimana, Tidak sengaja aku melihat stand yang menjajakan makanan baru. Aku mendekatinya dan melihat-lihat makanan yang disajikan distand itu, mereka bahkan menyediakan tester untuk dicoba pengunjung secara gratis.

“ boleh aku minta satu” tanyaku pada orang yang menjaga stand itu.

“silakan” jawab orang itu ramah. Dia menyerahkan tusuk gigi yang digunakan untuk mengambil tester.

“aseem..” mataku menyipit saat rasa asam mulai menyebar diseluruh bagian mulutku.

Si penjaga stand itu tersenyum .“makanan itu sengaja dibuat untuk orang yang sangat suka rasa asam”

Mendengar penjelasan si penjaga stand tadi tiba-tiba ada bunyi ‘ting’ didalam otakku kemudian senyum nakal terkembang dibibirku. Aku tidak tau rei benci asam atau tidak, tapi aku harap ini bisa membalas perbuatannya tadi..hihihi

“maaf, kalau boleh aku mau minta satu lagi” pintaku lagi dan dikabulkan oleh si penjaga stand.

Akupun melesat pergi mencari orang yang sudah jahil mengerjaiku tadi. Berkeliling dengan membawa tusuk gigi yang ditusuk makanan diujunganya membuat orang-orang yang berpapasan denganku menatapku dengan heran, tapi aku tidak memperdulikanya. Lama mencari akhirnya aku menemukan sosok rei sedang berdiri didekat rak tissue, ada dua jenis tissue yang ada ditangannya tapi rei meletakkan salah satunya kembali ke rak dan memasukannya tissue lainnya kedalam troli kemudian berjalan lagi. Melihatnya mulai bergerak bergegas aku berlari pelan untuk mengejarnya.

“ rei…” panggilku saat berhasil mengejar langkahnya. Orang yang aku panggil langsung menoleh kebelakang.

“AAAA”

Tanpa buang-buang waktu langsung saja aku sodorkan sejumput kecil makan yang ku bawa sejak tadi kebibirnya. Rei yang sedikit kaget refleks membuka lebar mulutnya, memudahkankan aku untuk memasukan makan itu.

“bagaimana ?” tanyakumelihat rei yang  sibuk mengunyah.

“enak” rei tersenyum.

“ apa ??” aku tidak menyangka akan mendapatkan reaksi yang berbeda. Ternyata rei menyukainya, gagal sudah rencanaku untuk membalasnya.

“aku suka, dimana kau mendapatkannya ? ayo antarkan aku kesana…”

“ Apaaa ?”

Tanpa pikir panjang rei langsung melesat pergi.

 

­^-^

 

Setelah lama bersenang-senang memilih bahan belanjaan rei memutuskan untuk pulang. Sudah lama aku tidak merasa sesenang ini sejak orang tuaku bercerai dulu, sangking senangnya aku sampai tidak sadar kalau kami sudah membeli banyak barang, bahkan yang tidak terlalu dibutuhkan pun kami beli. Diam-diam aku melirik laki-laki yang berjalan disampingku itu sambil tersenyum senang. Dia lah yang sudah membuatku seperti ini. Membuat hari-hariku menjadi lebih menyenangkan dan sedikit berwarna. Kurasa dia bukanlah orang yang dingin.  Aku  kembali mengalihkan pandanganku ke lantai menatap kaki kami yang saling bergerak. Saat keluar dari pintu supermarket, keadaan diluar  terlihat gelap. Awan hitam tebal telah sukses menyelimuti langit luas itu disertai angin yang cukup kencang.

“mendung..”gumamku pelan sambil manatap langin yang tampak pekat.

“ sepertinya akan turun hujan, ayo cepat” rei menggenggam tanganku dan menarikku sambil berlari-lari  kecil agar kami bisa sampai diapartmen dalam keadaan kering. Aku mengerjap kaget, tidak menyangka rei akan mengandeng tanganku. Rei tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Kurasakan wajahku mulai terasa panas karena manahan malu dan gugup yang menimpaku. Aku  tertunduk sambil tersenyum.

Kami sampai diapartmen dalam keadaan selamat, karena sebenarnya hujan memang belum turun, tapi langit tampak semakin gelap dan anginpun semakin bertambah kencang, suasana diluar sungguh menakutkan.

Begitu sadar bahwa dari tadi Rei masih memegang tanganku, dia langsung melepas genggamannya, untuk menghilangkan rasa gugup dan malu aku segera membawa belanjaan tadi kemeja makan dan mulai menyusunnya dikulkas serta tempat lainnya. Setelah semuanya selesai dan sudah tertata rapi ditempatnya, aku berniat untuk mengistirahatkan badanku yang terasa sedikit pegal dan meluruskan kakiku diruang santai sambil menonton TV. Tapi cahaya kilat yang disusul suara petir yang nyaring sukses menghentikan langkahku. Aku langsung menjerit dan menekuk badanku dalam posisi berjongkok dilantai tidak jauh dari meja makan.

“ada apa ?”rei yang sejak tadi duduk diruang santai langsung berlari begitu mendengar jeritanku.

“…..”

“kau takut petir ya?” suara rei terdengar seperti mengejek.

“…..”

Rei memperhatikan aku yang meringkuk ketakutan sambil memegang kepalaku. Aku tidak dapat berkata apa-apa, hanya bisa menatap rei dengan tampang yang ketakutan.  Dari jendela aku dapat melihat kilatan cahaya, dan suara petir terdengar lagi, langsung saja kucengkram kuat bagian bawah kemeja rei dengan tanganku yang gemataran sambil menunduk serta memejamkan mataku.

Tak lama aku mendengar suara helaan nafas dari rei.

“tidak apa-apa.. petirnya jauh ko..”

Kurasakn telapak tangan rei menyentuh kepalaku dan mengelusnya dengan sangat lembut. Perlakuan yang tidak biasa itu membuat jantungku berdetak kencang tidak karuan. Tapi ku akui kalau dia berhasil membuatku merasa lebih baik. Perlahan kulepaskan kemeja rei yang kucengkram sejak tadi kemudian menatap rei lagi

“teima kasih..” kataku pelan.

Rei memamerkan senyumnya yang tampak manis.

Aku berusaha untuk berdiri tapi tiba-tiba saja ruangan menjadi gelap gulita karena listrik padam. Gelapnya ruangan membuat kilatan cahaya dari langit yang terlihat dari jendela tampak semakin jelas dan lebih terang dari sebelumnya, belum lagi suara petir yang saling susul-menyusul. Rasa kaget dan takut memuncak dalam diriku sehingga tanpa sadar aku menubruk dan memeluk rei hingga membuatnya tersengkur dilantai. Tubuhku bergetar dengan hebatnya.

“na, nana…” rei yang sadar kondisi yang sedang terjadi berusaha melepaskan pelukanku.

“takuu…tt” rintihku pelan. Sangat ketakutan.

Lagi-lagi aku mendengar rei menghela nafas panjang. Rei membalas pelukanku, kemudian berbisik pelan.

“tidak apa-apa.. kau aman…” rei membelai rambutku dengan lembut.

 

^-^

 

apa yang sudah ku lakukan ??” rutukku dalam hati.

Setelah melakukan hal bodoh yang memalukan itu sekarang jantungku terus berdetak dengan kencang. Dimana harus ku taruh wajahku ini kalau bertemu dengannya nanti..?

“Arrgh…kau benar-benar bodoh nana…”

 

^flashBack^

Ditengah gelapnya ruangan dan suara petir yang menderu-deru membuatku memeluk rei semakin erat. Rei balas mendekapku dengan pelukan hangatnya dan berkali-kali berbisik ditelingaku.

“tidak apa-apa.. kau aman…”

Lama kami dalam posisi seperti itu dikegelapan, tanpa bicara. Karena aku yang memeluknya terlalu kuat membuat rei tidak dapat bergerak untuk menyalakan lilin sebagai penerangan darurat. Ditengah dera hujan yang deras pun aku masih bisa mendengar suara detak jantung rei.

Saat hujan mulai reda dan petir tidak lagi menyambar, perlahan rei mulai melonggarkan pelukannya. Samar-samar aku bisa melihat wajahnya dalam gelap, rei menyentuhkan jari-jarinya kewajahku, jemarinya mulai bergerak meraba pipiku  dengan lembut kemudian menjalar ketelingaku hingga akhirnya jemarinya itu menyeruak masuk disela-sela rambutku yang tidak terlalu panjang. Dan aku terlalu gugup untuk menolak perlakunya itu.

Rei menuntun kepalaku mendekati wajahnya, aku bisa merasakan hembusan nafasnya menerpa pipi ku. Sekarang wajah kami benar-benar sangat dekat dan bibir kami sudah hampir bersentuhan saat tiba-tiba lampu kembali menyala.

Ruangan yang tadinya gelap sekarang berubah menjadi terang benderang dan posisi duduk kami yang hampir berciuman terlihat sangat tidak mengenakkan. Sontak aku mendorongnya mundur, rei hampir jatuh kalau saja tangannya tidak sempat menopang tubuhnya dilantai.

“a,aku harus segera pulang” aku mundur beberapa langkah

“… sampai jumpa” tanpa menunggu kata-kata keluar dari mulut rei aku sudah berlari keluar dapur.

“hei, diluar masih hujan”  teriak rei, tapi tidak ku pedulikan. Aku terus berlari sampai dirumah dengan jantung yang berdebar kencang.

^flashBack End^

 

Mengingat-ingat hal yang baru saja terjadi membuatku tidak bisa tidur barang disedetikpun. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi ketika aku membalikkan badan dan melihat jarum jam dinding yang terus berputar berhenti di angka 7 lewat 2 menit.

“makhluk tengil itu sukses membuatku tidak bisa tidur” gumamku lirih.

Aku turun dari kasur dan berjalan kekamar mandi untuk siap-siap kesekolah.

 

^-^

 

“ada apa denganmu sampai lupa membawa bekal ha ?” tanya yumi yang berhasil membuatku menatapnya dengan lesu sambil menyeruput susu rasa coklatku.

“apa yang terjadi terjadi kemarin ?” kali ini yumi berhasil membuatku tersedak susu yang ku minum.

“ti, tidak terjadi apa-apa”jawabku agak panik.

“kau yakin?” yumi mengembangkan senyum nakalnya.

“ya, yakin..”

“lalu apa yang akan dikatakan ketua OSIS kalau dia tau kau tidak membawakannya bekal”

“entahlah…”jawabku malas

yumi menatapku dengan aneh “ kau tidak menenuinya hari ini ?”

aku menggelengkan kepalaku sebagai jawabannya.Melihat tingkahku yang tidak bersemangat yumi hanya bisa menghela nafas panjang dan membelai kepalaku seperti orang yang mengelus anak anjing kesayangannya.

“cepat ceritakan masalahmu, apa yang sudah terjadi kemarin ?” perintah yumi tegas.
beberapa menit waktu istirahat siang kuhabiskan dengan menceritakan apa tang terjadi kemarin. Sesekali yumi membagi bekalnya dengan cara menyuapi aku makan (ko jadi mirip binatang peliharaan ya ?). yumi  hanya diam dan mendengarkan aku dengan seksama. Beberapa kali aku melihatnya mengangguk-anggujk kecil.

 

“ kau jatuh cinta padanya..?” kata yumi saat selesai mendengar ceritaku.

“apaa?”

“kenapa ? kau tidak percaya padaku? ” tanya yumi balik

“…kau hanya belum menyadarinya saja na-chan.” Sambungnya.

 

^-^

 

Tiga hari sudah berlalu semenjak kejadian itu, dan sejak itu juga aku tidak lagi melihat batang hidung rei shimizu karena aku menghindarinya mati-matian. Aku menghindari tempat-tempat yang kira-kira berpotensi bertemu dengan rei. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dan harus bersikaf seperti apa bila bertemu dengannya. aku malu sekali.

Dan ironisnya dalam tiga hari ini juga aku merasa sangat tersiksa. Tidak sedetikpun kulalui tanpa memikirkan rei dan juga memikirkan apa yang dikatakan yumi tempo hari.

Benarkah aku menyukai rei ?

Ku akui aku merasa debaran jantungku tidak karuan bila berada disampingnya apa lagi waktu dia mengelus kepala dan menggandeng tanganku. Aku bahkan tidak menolak saat dia hendak menciumku. Apa itu bisa dispekulasikan sebagai rasa ‘suka’? pikiranku terus berkecamuk memikirkan hal itu. Tidak lama lagi aku pasti gila.

“minami…” panggil mayu, teman sekelasku saat aku sedang asyik melamun.

“ada apa ?”

“ada yang mencarimu” mayu menunjuk kearah pintu lalu melangkah pergi dari hadapanku.

Aku menoleh kearah yang mayu tunjuk sebelum dia pergi dan menemukan sosok ketua OSIS yang tengah menatapku dengan tajam. Aku tau arti dari tatapannya yang menusuk itu. Dengan ragu ku langkahkan kakiku mendekati rei yang kelihatannya sedang tidak ingin beramah tamah denganku.

“ikut aku..!”  rei menarik tanganku dengan keras menuju anak tangga yang berada diujung koridor, anak tangga menuju atap sekolah. Sedangkan aku hanya tertunduk pasrah ditarik oleh rei seperti anak kecil yang ketahuan habis mencuri permen.

“kemana saja kau tiga hari ini ?”tanya rei dengan nada galak.

“maaf..” aku menunduk, tidak berani menatap matanya.

“ bukan kata maaf yang ingin aku dengar sekarang. Kau tahu, selama tiga hari ini aku terus menunggumu disini ?”

Aku langsung mengangkat kepalaku yang sedari tadi menunduk, terkejut dengan apa yang dikatakan rei barusan.

‘ dia menungguku ? bolehkah aku mengharapkan itu ?’ pikirku.

“ kau membuatku lapar setengah mati” lanju rei lagi. Perkataan rei barusan sukses menbuat aku terjun bebas ke tanah.

“ kenapa ? kanapa kau tidak beli saja ? kalau lapar kau kan bisa ke kantin sekolah. Tidak harus menungguku.” Bentakku.

“ kenapa jadi kau yang marah ?”

Aku menatap rei dengan kesal lalu berbalik meninggalkannya.

“tunggu..” dengan sigap rei menarik lenganku.

“apa lagi..?”

“aku tidak mau tau, pokoknya kau harus memasak untukku hari ini” rei menatapku dengan yang membuatku tidak berdaya untuk menolak perintahnya.

“iya.. iya baiklah….”jawabku pasrah. Aku melemparkan pandangan kearah lain berharap tidak terhpnotis lebih dalam. Kutarik paksa lenganku yang dari tadi dipegangnya.

“ini..” rei menyerahkan sesuatu. Sebuah kunci.

“kunci apa itu ?”

“kunci apartmentku. Aku  pulang terlambat pokoknya saat aku pulang makanan sudah harus siap”perintahnya.

 

^-^

 

 ‘sikapnya biasa saja. Atau aku yang terlalu berlebihan ? apa hai itu sudah biasa dilakukannya dengan banyak wanita ? lalu kenapa dia hampir menciumku ? apa maksudnya, apa karena suasana yang mendukung ?’ otakku penuh dengan berbagai pertanyaan yang membuatku pusing. Dijalan aku sibuk menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

Tanpa sadar tahu-tahu aku sudah berdiri di depan pintu apartment rei. Kubuka pintu itu dengan kunci yang tadi diberikan rei padaku dan pemandangan pertama yang ku temukan   adalah…ruangan yang benar-benar berantakan

“ya tuhan…” gumamku kaget. Ada apa dengan rumah ini ? apa rei sengaja menebar sampah dirumahnya sendiri hanya untuk membalas aku yang bolos kerja tiga hari ?

“apa ini tidak keterlaluan ?”

Mengomel pun aku rasa percuma, sama sekali tidak membantu. Dengan malas ku singsingkan lengan sweater dan mulai membersihkan rumah ‘gila’ ini.

Selesai membereskan rumah, aku berjalan menuju dapur bermaksud untuk memasak makan malam. Tapi aku lebih dulu dikagetkan oleh kulkas yang sudah bersih alias tidak ada isinya.

“bahkan kulkas pun sudah kosong. Apa dia membuang semua isinya lagi ?” omelku sembari menutup pintu kulkas dengan geram.

“orang itu benar-benar sedang mengerjai aku.”

Kulangkahkan kakiku menuju supermarket terdekat untuk membeli semua hal yang aku butuhkan. Menghirup udara luar yang segar membuat hati dan perasaanku sedikit lega. Berbelanja memang cara manjur untuk menghilangkan penat.

Aku keluar dari supermarket dengan menenteng belajaan yang tidak sedikit sambil  menelusuri jalan dengan hati riang gembira dan menikmati deraan semilir angin yang lembut. Lama berjalan kaki, kini aku sedang melewati  sebuah cafe kecil yang berdinding kaca. Suasana cafe yang begitu tenang memaksa mataku untuk melirik ke dalam cafe.

Dari luar secara tidak sengaja mataku menangkap bayangan seseorang yang mirip dengan rei. Aku langsung tersenyum karena yakin dengan pasti kalau orang itu benar-benar adalah rei. Tapi senyumku langsung menghilang begitu tahu dia sedang bersama dengan seorang wanita.

Wanita itu tidak muda, bahkan terlalu tua untuk rei. Tanpa sadar kakiku bergerak mundur dan bersembunyi dibalik tanaman yang sengaja ditanam untuk memberikan kesan teduh dicafe itu. Kusipitkan mata agar dapat melihat mereka dengan jelas. Tapi aku lebih memperhatikan wanita itu dari pada rei.

“ sepertinya aku kenal dengan orang itu..” Aku masih memperhatikan wanita itu dengan seksama dan shock begitu tahu siapa orang yang saat ini sedang duduk berhadapan dengan rei.

“ibu..?”

Dari tempatku bersembunyi, aku bisa melihat apa yang mereka lakukan tapi aku terlalu jauh untuk dapat mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Bisa kulihat ibu menyerahkan sebuah amplop putih kepada rei. Rei melirik kedalam amplop, mengeluarkan sejumlah uang yang ada didalamnya lalu tersenyum.

“ sebenarnya apa yang sedang mereka berdua lakukan?”

 

^-^

 

“aku pulang………” teriak rei dari ruang tamu begitu memasuki apartmentnya.

“ wah rapi sekali rumah ini, kau pasti sudah bekerja keras” Rei menarik keluar kursi dari meja makan kemudian mendudukinya.

Sedang aku yang dari tadi sudah berada dimeja makan hanya memandang makanan yang yang tertata didepan mataku tanpa bersuara. Semua makanan itu sama sekali tidak menggugah nafsu makanku.

“ada apa denganmu ? kau lelah ?” tanya rei yang sudah mulai mencicipi masakanku.

“tidak..” jawabku singkat tanpa melepas tatapanku dari makanan.

“rasa makananmu agak berbeda hari ini.. sedikit asin” komentar rei yang tahu tidak suka rasa asin. Mendengar komentar rei aku tersenyum sinis.

“mungkin karena aku memasaknya sambil terus memikirkan hal yang tidak ku mengerti”

“memang apa yang kau pikirkan ?” tanya rei yang terus melahap makan malamnya.

“aku terus memikirkan ‘apa yang sedang kau dan ibuku lakukan di cafe siang ini?’ ?” mataku yang sejak tadi hanya menatap meja kini beralih ke wajah rei. Aku sempat melihat pergerakan tangan rei yang berhenti, tapi sedetik kemudian dia kembali bersikap normal.

“apa maksudmu ?”tanya rei berpura-pura bodoh.

“ kau tidak perlu bertingkah seolah tidak tahu apa maksudku. Sebenarnya apa hubunganmu dangan ibuku ? untuk apa ibu memberimu uang itu ? sebenarnya apa yang ibu bayarkan padamu ?”

Rei menghentikan gerakan tangannya. Kini sendok yang digunakannya saat makan sudah tergeletak disamping kiri piring yang ada dihadapannya. Rei menatapku dengan tenang “kau melihatnya ?”

“ya.. aku melihat semuanya. Kau puas ? cepat katakan apa yangkalian lakukan dicafe itu” tanpa sadar aku sedikit menjerit dan air mata jatuh begitu saja di pipiku. Isak tangisku mulai terdengar menggema diruangan yang tidak terlalu besar itu. Disela-sela isakan ku terdengar suara helaan nafas panjang dari rei.

“ibumu adalah klien pamanku..”ujar rei pelan. Aku mengangkat wajah untuk dapat melihat muka rei yang tampak kabur dimataku. “ paman memintaku untuk membantunya. Karena sedang bosan dengan pekerjaan OSIS yang sedikit menyebalkan tanpa pikir panjang aku menerima pekerjaan yang paman tawarkan”

Aku masih menatap rei dengan sedikit rasa emosi yang bersarang dihatiku. Mencoba menerka-nerka kata apa yang akan dikeluarkan rei selanjutnya. Tapi dia hanya diam dan melihat kearah lain “pekerjaan ?pekerjaan macam apa yang kau bicarakan itu?”

Rei mengarahkan bidak matanya untuk menatapku “ibumu memintaku untuk membuatmu berhenti berkerja dari toserba itu lalu memastikan agar kau tidak bekerja kembali ditempat itu. Dan dia memberikan semua info yang kubutuhkan tentangmu. Termasuk hobi memasak dan tempat tinggalmu. Ibumu juga yang menyuruhku untuk memperkerjakanmu. Agar aku benar-benar yakin kau tidak bekerja ditempat lain.”

Apa yang rei bicarakan ini ? benarkah ibu melakukan itu. ibu bertindak sejauh itu hanya untuk memastikan aku tidak bekerja lagi. Aku bingung harus bersikap bagaimana setelah mendengar penjelasan ini. Harus senangkah karena tahu ibu masih perhatian denganku atau… harus marah karena aku sudah ditipu mentah-mentah seperti ini ?

 “ amplop itu adalah sisa uang yang ibumu janjikan pada pamanku” lanjut rei lagi.

Sisa..? sisa dia bilang ? hhh.. aku menyeringai kecil mendengar kata sisa yang keluar dari mulut rei. Sungguh tidak bisa dipercaya. Kulemparkan pandanganku ketempat lain berharap emosiku berkurang, tapi aku salah. Emosiku kian memuncak dan semakin parah. Kulemparkan kembali mataku untuk menatap makhluk yang duduk didepanku dan menatapnya dengan marah. Lagi –lagi aku menyeringai. Kali ini menertawai diriku yang sangat  bodoh. Mataku masih terpaku pada rei, sedangkan rei sendiri membalasku dengan tatapan lembut bagai malaikat. Ugh.. aku sudah benar-benar tidak bisa menahan diri lagi.

Byuuur..

Dengan sedikit gerakan, air yang berada didalam gelas didekatku sudah terbang dan mendarat dimuka rei. Titik-titk air mulai terlihat menetes dari ujung rambutnya. Ini memang belum membuatku puas, tapi kurasa ini sudah cukup untuk membuat diriku tampak semakin bodoh.

“terima kasih atas semua tipuanmu, ketua OSIS”

 

^-^

 

 Berlari… hanya berlari yang bisa ku lakukan saat ini. Mencoba berlari semakin kencang dan berharap semua ini akan berlalu bersama angin yang menerpa wajahku dengan kasar. Tanpa sadar langkah kakiku membawaku kesebuah sebuah rumah dengan pelataran hijau dinagian depannya. Perlahan tapi pasti langkahku berhenti tepat disebuah pintu coklat. Dengan tangan bergetar menekan bel pintu dan keluarlah seseorang dari dalam rumah itu.

ada apa denganmu nana..?” tanya yumi yang heran dengan tampangku yang aku sendiri sangat yakin kalau saat ini aku benar-benar berantakan. Lama berlari telah menguras habis seluruh tenagaku dan tidak punya kekuatan lagi untuk menjawab pertanyaan yumi barusan. Hanya tangis dan air mata yang perlahan keluar dari mataku. Bisa kurasakan tatapan iba dari yumi yang berdiri tepat dihadapanku. Dengan tangannya yang panjang yumi menarik tubuhku kedalam pelukannya dan membawaku masuk kekamarnya.

Yumi masih memelukku dan sesekali mengelus lembut puncak kepalaku. Pelakuaanya itu membuat tangisku pecah dan semakin menjadi-jadi. Yumi yang bingung dengan segala tingkahku hanya membiarkan diriku menangis sampai puas dipelukannya.

“ada apa ?” tanya yumi disaat tangisku mulai mereda.

“di..dia menipuku. Dia penipu yumi” jawabku masih sedikit sesenggukan.

Yumi mengerutkan keningnya. Jelas sekali kalau dia sama sekali tidak mengerti apa yang aku bicarakan “siapa yang kau maksud ?”

“rei.. dia sudah menipuki mentah-mentah. Dan bodohnya, aku sudah jatuh cinta padanya yumi..” lagi-lagi tangisku pecah. Airmataku mengalir semakin deras dan lagi-lagi yumi memelukku. Kali ini lebih erat dan lebih hangat dari sebelumnya. Yumi hanya diam tanpa berkata apa-apa membiarkan aku menangis hingga lelah.

 

^-^

 

Hampir sebulan lamanya aku tidak pernah bertemu dengan rei, Bahkan aku tidak berharap untuk bertemu dengannya lagi. Hidupku kini sudah kembali seperti dulu. Damai. Seperti sebelum bertemu dengan rei shimizu, si penipu itu. Dan aku dengan puas bisa memarahi ibuku yang menjadi sumber dari masalah ini. Aku memang anak yang tidak tahu diuntung.

“makan diluar yuk..” ajak yumi saat sedang istirahat makan siang.

Aku menatap yumi dengan malas. “kemana?”

“ sudah ikut saja..”

Seenak  jidatnya yumi menarik tanganku dan membawaku pergi entah kemana. Tapi sepertinya aku bisa menebak kemana yumi akan membawaku. Anak tangga yang ada diujung koridor itu hanya akan membawa kami menuju satu tempat dan kesanalah yumi menarik diriku. “ kenapa membawaku kesini ?”

Yumi tidak menjawab dia hanya diam sambil membuka pintu yang terletak diujung anak tangga paling atas. Yumi menuntunku masuk dan berjalan ketepi atap yang dibatasi dengan pagar yang tidak terlalu tinggi. “ disini banyak angin, pasti sejuk”

“tapi kau taukan aku tidak suka temp…” aku tidak dapat menyelesaikan kalimatku karena yumi menempelkan jari telunjukkan kebibirku.

“ aku tahu.. aku tahu itu..” ujar yumi pelan. Dengan perlahan dilepaskan jarinya yang menempel dibibirku dan memutar tubuhnya untuk menatap pemandangan yang bisa dilihatnya dari atap ini. tapi tidak lama kemudian dia menolehkan kepalanya kearahku. “itu  sebabnya aku membawamu kesini. Aku ingin mengubah kenanganmu ditempat ini karena dia ingin bertemu denganmu”

Kali ini yumi memutar tubuhnya lagi. Berputas 1800 hingga menghadap kearah pintu yang kami lewati beberapa saat lalu. Aku menatap sahabat  yang berdiri disebelahku dengan heran. Dia ? ‘dia’ siapa yang yumi maksud ? Kulihat tangannya bergerak menunjuk sesuatu yang ada dibalakangku, membuatku terpaksa menoleh kearah yang ditunjuknya tadi. Mataku terbelalak saat malihat sosok rei yang berjalan mendekati kami.

Aku melempar pandanganku kearah yumi, berharap akan menerima penjelasan yang logis. Tapi yang ku tatap malah tersenyum dan melenggang pergi mendekati rei. Yumi menepuk pundak rei pelan kemudian membisikkan sesuatu ditelinga rei. Dan rei hanya tersenyum tipis. Yumi melanjutkan langkahnya lagi dan kini sosok yumi sudah benar-benar menghilang dibalik pintu.

Rei diam dan tidak berbicara sedikitpun. Seperti menungguku bicara duluan. dia menatapku dari tempatnya berdiri. Menatapku lekat seakan-akan ingin menelanku bulat-bulat. Ck.. aku benci dengan tatapan itu. “apa kau yang menyuruh yumi untuk melakukan ini?”

“ya..”

“untuk apa lagi kau menemuiku ?”

“untuk memintamu mendengarkan penjelasanku”

“ aku tidak mau mendengarnya” ya. Mendengarnya hanya akan membuatku sakit hati. Lebih baik aku tidak tahu sama sekali. Ku langkahkah kakiku bermaksud segera keluar dari situasi yang menyesakkan ini tapi dengan sigap rei menggenggam lenganku hingga langkahku terhenti. Aku yang tidak menyangka dan tidak bisa menerima perlakuan rei itu langsung menatapnya dengan sengit.

Rei memposisikan dirinya dengan tenang. matanya menatap lurus kearah depan tapi sesaat kemudian beralih menatapku “kali ini aku mohon dengarkan aku” pinta rei lirih.

“tidak ada yang perlu dijelaskan lagi… lepaskan!” kutarik lenganku dengan kasar hingga terlepas dari genggaman rei. Tapi sialnya, dengan cepat dia mengambil lenganku lagi. Makhluk tengil sialan ini Benar-benar membuatku emosi. “ apa lagi yang ingin ka..hhhmpp…”

Rei membungkam bibirku dengan bibirnya. Ciuman lembut nan hangat  darinya sukses membuat diam membatu. Kenapa dia melakukan itu ???

Rei melepaskan bibirnya dan mengambil jarak denganku. Tapi jarak yang sangat dekat. “kumohon.. kau cukup diam dan dengarkan saja.. aku tidak ingin kau terus salah paham terhadapku”

Aku masih membatu.

“ aku tidak menerima uang itu. Waktu itu kau bilang sudah melihat semuanya. Tapi melihat sikapmu aku yakin kau segera pergi saat ibumu menyerahkan uang itu. Dulu, itu yang ingin kau katakan, tapi kau terlanjur menyiramku dengan air dan pergi begitu saja.”

Aku yang sejak tadi hanya diam membatu layaknya orang bodoh langsung tersadar kembali. Sadar kalau rei sedang berusaha menipuku lagi. Karena dia adalah seorang penipu. Aku menarik salah satu sudut bibirku dan tersenyum sinis kepadanya. “ kau pikir aku akan percaya lagi padamu ?”

“ aku tidak memintamu untuk parcaya padaku. aku hanya memintamu untuk mendengarkan penjelasanku”

“…..”

“aku menerima pekerjaan itu karena aku merasa bosan dengan kehidupan sebagai Ketua OSIS yang menyebalkan. Apa lagi saat paman memperlihatkan fotomu, tanpa pikir panjang aku langsung menerimanya. Karena aku yakin semua akan berjalan lancar seperti yang kurencanakan”

rei menatapku dengan lekat dan kembali melanjutkan kalimatnya.“ tapi ditengah jalan, aku mulai merasa ragu. Lama bersamamu dan melihat kepolasanmu membuatku sadar kalau aku…” rei menggantung kalimatnya. “ karena itu aku tidak bisa menerima uang itu. Aku bahkan meminta paman untuk segera mengembalikan semua uang yang telah diberikan oleh ibumu”

Aku merasa sesuatu yang tidak jadi diucapkan rei hingga dia mengantung kalimatnya tadi. Dan itu membuatku sedikit penasaran. “kenapa kau tidak bisa menerima uang itu ?”

Rei merubah tatapannya yang lekat menjadi tatapan lembut penuh makna. Dia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. “ karena kau sudah membuatku jatuh cinta padamu.. kali ini tidak ada kebohongan lagi. Ini tulus dari dalam hatiku”

Tanpa sadar sungai-sungai kecil sudah terbentuk dibawah mataku lalu seenaknya turun membasahi pipiku. Kurasakan jemari rei meraba lembut pipi ini berusaha mengapus air mata yang mengalir seenaknya dan menarik diriku kedalam pelukannya. “ kau juga suka padaku kan ?” bisik rei namun penuh keyakinan.

Aku hanya mengangguk dalam pelukannya. Aku sama sekali tidak peduli dari mana dia tahu aku juga suka padanya. Rei  memelukku semakin erat. “ kau tahu… rasanya hatiku sakit sekali waktu kau menolak saat aku akan menciummu hari itu.”

Rei melepaskan pelukannya dan membuat kami saling menatap “ sekarang maukah kau menjadi pacarku dan membantuku mengurus rumah ?” rei menarik tubuhku lagi dan memelukku dengan erat. Tapi aku berusaha mendorong tubuh rei dengan pelan hingga dia melepaskan pelukannya. Lagi-lagi mata kami saling menatap.

“ tapi berjanjilah kau tidak akan menerima pekerjaan apapun lagi dari pamanmu itu”

Rei tersenyum “ baiklah nona…” kemudian mendekatkan wajahnya kearahku dan  dengan singkat menyentuhkan bibirnya yang hangat ke bibirku. Rei mengulum bibirku pelan dengan sangat lembut kemudian melepaskannya. Menatap kedua buah bola mataku dengan lekat tapi lembut.

“ aku mencintaimu” ujar rei lalu kembali mengulum bibirku lagi.

 

Inilah kisah cinta yang telah dituliskan Tuhan untukku. Lalu bagaimana dengan kisih cinta kalian ??

 

THE END

N

HAPPY ENDING

 bagaimana ?? aneh sangat yah ?? harap maklum yah teman-teman.. namanya juga pemula… terima kasih sudah baca sampe selesai, hae tunggu commentnya…..:D

~ oleh Hae_RyN's pada Agustus 31, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: