MAKALAH BOTANI TINGKAT RENDAH “Equestinae (Paku Ekor Kuda) dan Filicinae (Paku Sejati)”

MAKALAH BOTANI TINGKAT RENDAH

Equestinae (Paku Ekor Kuda) dan Filicinae (Paku Sejati)”

            Disusun oleh :

  1. Dwi  Ajeng Lestari            (0905015167)
  2. Dwi Istiqommah               (0905015136)
  3. Reni Purwanti                    (0905015143)
  4. Rosi Dita Sari                      (0905015158)
  5. Yeni Fatmawati                 (0905015137)
  6. Sayiful Anwar                    (09050151    )

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN

SAMARINDA

2011

BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar belakang

Tumbuhan paku merupakan tumbuhan berkormus dan berpembuluh yang paling sederhana. Terdapat lapisan pelindung sel (jaket steril) di sekeliling organ reproduksi, sistem transpor internal, hidup di tempat yang lembap. Akar serabut berupa rizoma, ujung akar dilindungi kaliptra. Sel-sel akar membentuk epidermis, korteks, dan silinder pusat (terdapat xilem dan fleom).

Beradasarkan bentuk dan ukurannya susunannya daun tumbuhan paku dibedakan menjadi mikrofil dan makrofil. Mikrofil bentuk kecil atau bersisik, tidak bertangkai, tidak bertulang daun, belum memperlihatkan diferensiasi sel. Makrofil daun besar, bertangkai, bertulang daun, bercabang-cabang, sel telah terdiferensiasi. Berdasarkan fungsinya daun tumbuhan paku dibedakan menjadi tropofil dan sporofil. Tropofil merupakan daun yang khusus untuk asimilasi atau fotosintesis. Sporofil berfungsi untuk menghasilkan spora. Spora tumbuhan paku dibentuk dalam kotak spora (sporangium). Kumpulan sporangium disebut sorus. Sorus muda sering dilindungi oleh selaput yang disebut indusium. Berdasarkan macam spora yang dihasilkan tumbuhan paku dibedakan menjadi tiga yaitu paku homospora (isospora), paku heterospora dan paku peralihan. Paku homospora menghasilkan satu jenis spora (ex Lycopodium/paku kawat). Paku heterospora menghasilkan dua jenis spora yang berlainan yaitu megaspora (ukuran besar) dan mikrospora (ukuran kecil) (ex Marsilea/semanggi dan Selaginella/paku rane). Paku peralihan merupakan peralihan antara homospora dan heterospora menghasilkan spora pbentuk dan ukurannya sama tetapi berbeda jenis kelamin (ex Equisetum debile/paku ekor kuda). Tumbuhan paku bereproduksi secara aseksual (vegetatif) dengan stolon yang menghasilkan gemma (tunas). Gemma adalah anakan pada tulang daun atau kaki daun yang mengandung spora. Reproduksi seksual (generatif) melalui pembentukan sel kelamin jantan/spermatozoid (gametangium jantan/anteridium) dan sel kelamin betina/ovum (gametangium betina/arkegonium). Seperti pada lumut tumbuhan paku juga mengalami pergiliran keturunan/metagenesis. Metagenesis tersebut dibedakan antara paku homospora dan heterospora.Tumbuhan paku dibedakan menjadi empat kelompok yaitu Psilotophyta, Lycophyta, Sphenophyta, dan Pterophyta. Psilotophyta mempunyai dua genera (ex Psilotum sp). Psilotum sp tersebar luas di daerah tropik dan subtropik, mempunyai ranting dikotom, tidak memiliki akar dan daun, pengganti akar berupa rizoma diselubungi rambut-rambut yang dikenal rizoid.Lycophyta contohnya Lycopodium sp dan Selaginella sp. Lycopodium sp sporanya dalam sporofit daun khusus untuk reproduksi dan dapat bertahan dalam tanah selama 9 tahun, dapat menghasilkan spora tunggal yang berkembang menjadi gametofit biseksual (memiliki baik organ jantan dan betina), jenis homospora. Selaginella sp merupakan tanaman heterospora, menghasilkan dua jenis spora (megaspora/gamet betina dan mikrospora/gamet jantan). Sphenophyta sering disebut paku ekor kuda, bersifat homospora, mempunyai akar; batang; daun sejati, batangnya keras karena dinding sel mengandung silika. Contohnya Equisetum debile (paku ekor kuda).Pterophyta (paku sejati) umumnya tumbuh di darat pada daerah tropis dan subtropis. Daunnya besar, daun muda menggulung. Sporangium terdapat pada sporofil (daun penghasil spora). Contohnya: Adiantum cuncatum (paku suplir untuk hiasan), Marsilea crenata (semanggi untuk sayuran), Asplenium nidus (paku sarang burung), Pletycerium bifurcatum (paku tanduk rusa).

B.      Rumusan Masalah

  1. Apa saja ciri-ciri dari Equestinae?
  2. Apa saja bangsa dari Equestinae?
  3. Apakah manfaat Equstinae dalam kehidupan sehari – hari?
  4. Apa saja cirri-ciri dari Filicinae?
  5. Apa saja bangsa dari Filicinae?
  6. Apakah manfaat Filicinae dalam kehidupan sehari – hari?

C.      Tujuan

  1. Agar mahasiswa mengetahui cirri-ciri dari Equestinae.
  2. Agar mahasiswa mengetahui bangsa  dari Equestinae.
  3. Agar mahasiswa mengetahui manfaat dari Equestinae dalam kehidupan sehari – hari.
  4. Agar mahasiswa mengetahui cirri-ciri dari Filicinae.
  5. Agar mahasiswa Mengetahui bangsa dari Filicinae.
  6. Agar mahasiswa mengetahui manfaat dari Filicinae dalam kehidupan sehari – hari.

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

1.      Ciri – Ciri Equistinae

Paku ekor kuda saat ini hanya tinggal sekitar 25 spesies dari satu genus, yaitu Equisetum. Tumbuhan yang bersifat tahunan, berukuran kecil dengan tinggi 0,2-1.5 m. Batang beruas-ruas dan tegak lurus berbentuk bulat.Tumbuhan ini tidak memiliki bunga, namun pada ujung batangnya terdapat suatu badan yang berbentuk gada atau kerucut. Hal inidisebabkan oleh sporofil yang mengumpul pada ujung batang, warga kelas ini yang sekarang masih hidup umumnya berupa terna (tumbuhan yang batangnya lunak karena tidak membentuk kayu).

a.     Batang

Tumbuhan ini mempunyai batang merayap dalam tanah yaitu semacam rizom dengan cabang-cabang yang tegak, biasanya bercabang-cabang yang tegak itu berumur satu tahun saja. Di dalam batang terdapat tiga macam saluran, yaitu:

  • Saluran pusat, merupakan saluran yang terletak di tengah-tengah batang. Tetapi pada batang yang masih muda saluran ini belum terdapat salurtan pusatnya, demikian juga pada batang yang ada di dalam tanah.
  • Saluran karnial, terletak di sebelah dalam dari ikatan pembuluh. Saluran ini merupakn lingkaran dan pada tiap-tiap saluran letaknya bertepatan denagn rigi-rigi pada permukaan batang.
  • Saluran valekular, saluran ini letaknya di dalam korteks yaitu di sebelah luar dan berseling dengan saluran karnial. Saluran pusat dan karnial berfungsi untuk penyimpanan air, sedang saluran valekuler berfungsi untuk menyimpan udara.

Pada buku-buku batangnya terdapat karangan daun yang hanya menyerupai sisik saja.

b.     Daun

Daunnya meruncing pada bagian ujungnya dengan satu berkas pengangkut yang kecil. Karangan daun kebawah berlekatan dengan suatu sarung yang menyelubungi batang. Banyaknya daun tergantung dari pada besarnya batang, tetapi karena daun-daun tersebut amat kecil maka yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis adalah batangnya yang berwarna hijau. Cabang-cabang batang tidak keluar dari ketiak daun melainkan keluar dari antara dun-daun. Ada jenis yang batangnya tidak bercabang dan baru bercabang apabila ujungnya dihilangkan. Jenis yang mempunyai percabangan banyak adalah jenis yang paling primitif, misalnya E.arvense, sebaliknya jenis yang tidak bercabang dianggap jenis yang sudah agak maju (Dasuki, 1991: 171).

c.      Akar

Akar dari Equisetum sangat kecil dan halus terdapat pada buku-buku dari rizome atau pada pangkal batang. Diantara anggota Equisetum terdapat beberapa jenis yang mempunyai semacam umbi untuk menghadapi kondisi yang buruk.

d.     Penyebaran

Tumbuhan ini berasal dari Amerika Tropik Anggota-anggotanya dapat dijumpai di seluruh dunia kecuali Antartika. Habitat: Tumbuhan ini hidup pada tempat yang lembab, basah, danberpasir. Namun,ada sebagian yang hidup di darat dan di rawa-rawa.

e.      Sistem Reproduksi

Sistem reproduksi pada Equisetum ialah sporangiumnya terdapat pada sporangiosfor yang tidak lain adalah sporofil. Karena pendeknya ruas-ruas pendukung sporofil maka rangkaian tersebut menyerupai suatu kerucut di ujung batang. Sporofil atau sporangiosfor berbentuk perisai dengan satu kaki di tengah dan beberapa sporangium (5-10) berbentuk kantung pada sisi bawah. Spoeangium berasal dari sebuah sel pada permukaan, karena pertumbuhan dari jaringan tengah sporangia terdesak ke bawah sehingga akhirnya terdapat pada sisi bawah dan mengelilingi tangkai.

Spora mempunyai dinding yang terdiri atas endo dan eksosoprangium, dan disamping itu masih mempunyai perisporium yang berlapis-lapis. Lapisan perisporium yang paling luar terdiri atas dua pita sejajar yang dalam keadaan basah membalut spora. Pita itu ujungnya agak melebar meperti lidah. Jika spora menjadi kering, pita itu terlepas dari gulungannya, akan tetapi di tengah-tengahnya tetap melekat pada eksosporium. Dengan adanya pita atau yang dinamakan kepala kaptera yang memperlihatkan gerakan higioskopik itu.

Strobili biasanya panjangnya sekitar 2 sampai 4 cm (0,75 sampai 1,5 inci). Berbentuk heksagonal, seperti piring dovetailing pada permukaan srobilus yang memberikan tampilan dari permukaan berbentuk elips. Segi enam masing-masing menandai puncak sporangiospore yang memiliki pemanjangan 5 sampai 10 sporangia yang saling terhubung. Batang dari sporangiophores melekat pada poros tengah dari strobilus. Sporangia mengelilingi tangkai sporangiophore dan berada titik ke dalam. sporangia ini tersembunyi tidak terlihat sampai jatuh apabila sporangiophores terpisah sedikit. Spora ini akan dilepaskan.

f.       Siklus Hidup

Siklus hidup dari Equisetum terdiri dari tahap sporofit dan gametofit. Pada tahap sporofit, tunas fertil yang didalamnya terdapat strobilus dan si dalam strobilus terdapat kantung-kantung sporangiospore yang nantinya akan mengeluarkan spora dari sporangium. Selanjutnya terjadi tahap meiosis untuk memproduksi spora dan berkembang menjadi Rhizoid. Pada Rhizoid nanti akan menghasilkan gamet jantan dan gamet betina. Gamet jantan (sperm) dihasilkan oleh Antheridium, sedangkan gamet betina (sel telur) dihasilkan oleh Archegonium. Pada tempat yang cocok keduanya akan bersatu ( fertilisasi) dan tumbuh menjadi zigot yang merupakan gametofit dan berkembang menjadi tunas yang vegetatif. Gambar dari silkus hidup Equisetum ialah sebagai berikut:

2.             Bangsa Equistinae

Equisetinae dibedakan dalam beberapa bangsa antar lain :

a.      Bangsa Equisetales

Tumbuhan ini sebagian hidup di darat, sebagian di rawa-rawa. Didalam tanah tumbuhan ini mempunyai semacam rimpang yang merayap, dengan cabang yang berdiri tegak. Pada penampang, melintang batang mempunnyai satu lingkaran berkas-berkas perangkat kolateral, dua lingkaran saluran-saluran antar sel. Berkas dalam sporofil mempunyai susunan konsentris.

Pada buku-buku batang terdapat satu karangan daun berkas pengangkut yang kecil. Cabang-cabang tidak keluar dari ketiak daun melainkan di antara daun-daun dan menembus sarung keluar karena daun amat kecil. Batang dan cabang-cabangnya yang mempunyai fungsi sebagai assimilator,tampak bewarna hijau karna mengandung klorofil.Di antara warga Equiseiales terdapat beberapa jenis yang mempunai semacam umbi untuk menghadapi kala yang buruk, ada pula yang berwana hijau.

Sforofil tersusun dalam rangkaian yang berseling, dan karena pendekatanya ruas-ruas pendukung sporofil maka rangkaian sporofil terkumpul menyerupai satu kerucut pada ujung batang.

Jaringan sporogen mila-mula di liputi oleh didnding yang terdiri atas beberapa lapisan sel.Dinding sel-sel dalam (tapetum)terlarut, plasmanya merupkan peripplasmodium yang masuk di antara spora-spora, dan habis terpakai untuk pembentukan dindingspora.Sel-selnya mempunyai penebalan berbentuk spiral atau cincin.Sporagium  yang telah masak pecah menurut satu retak pada bagian dinding yang menghadap ke dalam.Retak itu terjadi karena pengaruh kekuatan kohesi air yang menguap dan berkerutnya dinding sel yang tipis pada waktu mongering.

Spora mempunyai diding terdiri atas endo dan eksosporium, dan  Lapisan perisporium yang paling luar terdiri atas dua pita sejajar yang dalam keadaan basah melalui spora.Jika spora menjadi kering pita itu terlepas dari gulunganya.

Pada perkecambahan spora,rizoid keluar dari bagian yang tidak menghadap sinar matahari.Sel-sel lainya yang berkembang terus menjadi bagian protalium yang bewarna hijau . Zigot mula mula membelah menjadi dua sel tetapi berlawanan dengan Lycopodium,pada Equasatales tidak berbentuk supersor.Embrio pada Equissetales letaknya eksoskopi,tunas mempunyai sel ujung berbentu piramid. Bakal akar terletak di bagian samping sumbu panjangnya.

b.      Bangsa Sphenophyllales

Tumbuhan dari bangsa ini hanya dikenal sebagai fosil dari zamanPalaezoikum. Daun – daunnya menggarpu atau berbentuk pasak dengan tulang – tulang yang bercabang menggarpu, tersusun berkarang, dan tiap karangan biasanya terdiri dari 6 daun. Dari bangsa ini, warga yang filogenetik merupakan tumbuhan tertua mempunyai daun-daun yang tidak sama (heterofil). Pada warga Sphenophyllum terdapat daun-daun yang berbentuk pasak dan daun-daun kecil yang sempit yang menggarpu.Tumbuhan ini banyak tersebar dalam zaman Devon akhir sampai Perm, berupa terna yang rupa-rupanya dapat memanjat.Batangnya mencapai tebal sejari, beruas-ruas panjang, bercabang-cabang,mempunyai satu berkas pengangkut yang tidak berteras dan mempunyaikambium. Dalam bagian kayu terdapat trakeida noktah halaman dantrakeida jala. Rangkaian sporofil menyerupai Equisetum, sebagian bersifat isopor () sebagian heterospor ().

c.       Bangsa Protoarticulatales

Warga bangsa ini pun telah fosil. Tumbuhan itu telah mulai muncul diatas bumi pada pertengahan zaman Devon. Di antaranya yang palingterkenal adalah anggota marga Rhynia, berupa semak-semak kecil yang bercabang-cabang menggarpu, daun-daunnya tersusun berkarang tidak  beraturan. Helaian daun sempit, berbagi menggarpu. Sporofil tersusun dalam suatu bulir, tetapi sporofil itu belum berbentuk perisai, melainkan masih bercabang-cabang menggarpu tidak beraturan dengan sporangium yang bergantungan. Bangsa Protoarticulatales mencakup sukuRhyniaceae yang anggota – anggotanya dipandang sebagai nenek moyang Sphenphyllaceae.

 

3.      Manfaat Equistinae Dalam Kehidupan

Seperti pada tumbuhan paku lainnya, jenis paku ekor kuda juga dikenal karena kegunaannya sebagai obat. Di Indonesia batang paku ekor kuda ini digunakan sebagai obat sakit otot atau sakit tulang dengan cara membuatnya sebagai param. Disamping sebagai obat, tumbuhan ini mempunyai keistimewaan yang tidak dijumpai pada jenis paku lainnya, yaitu sebagai alat pembersih pisau, garpu dan sendok.

4.      Ciri-ciri Filicinae

Anggota Filicinae (Paku sejati) memiliki daun besar (makrofil) dengan tulang tangkai daun telah memiliki mesofil. Daun yang masih muda menggulung pada ujungnya dan pada sisi bawah terdapat banyak sporangium. Banyak tumbuh di tempat-tempat yang teduh dan lembab.Ada beberapa jenis dari kelas ini yang berguna untuk obat-obatanTumbuhan ini sering kita sebut dengan pakis. Ciri-cirinya adalah daun berukuran besar, daun muda menggulung dan sporangium terdapat pada sporofil (daun penghasil spora).

 

5. Bangsa Filicinae

Dalam Filicinae terdapat beberapa Bangsa,yaitu :

a.      Platycerium (Paku Tanduk Rusa)

Platycerium adalah suatu marga tumbuhan paku dengan lebih kurang 18 jenis. Kesemuanya merupakan epifit dengan penampilan yang unik karena memiliki dua tipe daun dengan fungsi dan bentuk jelas berbeda. Paku yang juga biasa disebut simbar menjangan ini dapat dijumpai tumbuh liar di semua daerah tropika dunia. akar melekat di batang pohon lain atau bebatuan. Batang berupa rimpang lunak namun liat dan sulit dipotong. Daun dengan dua tipe; tipe pertama selalu steril dan berbentuk perisai tegak, mengering pada kondisi kurang air, fungsinya mengumpulkan dedaunan kering dan penangkap air, sehingga kelembaban bagi rimpang terjaga; tipe kedua menjuntai dari “pusat” daun tipe pertama dengan bentuk menyerupai tanduk rusa (walaupun ada beberapa jenis yang tidak demikian), fungsinya sebagai pembawa spora yang terletak di sisi bawah daun, panjang daun yang menjuntai dapat mencapai satu meter atau lebih, tergantung jenisnya. memiliki daun fertil yang menjuntai hingga 2,5m. Spora terdapat pada sporangia yang terlindung oleh sori yang tumbuh menggerombol di sisi bawah daun, menyebabkan vlek berwarna coklat pada daun.

b.      Asplenium nidus (Paku Sarang Burung)

merupakan jenis tumbuhan paku populer sebagai tanaman hias halaman. Orang Sunda menyebutnya kadaka, sementara dalam bahasa Jawa dikenal dengan kedakah. Penyebaran alaminya adalah di sabuk tropis Dunia Lama (Afrika Timur, India tropis, Indocina, Malesia, hingga pulau-pulau di Samudera Pasifik. Paku ini mudah dikenal karena tajuknya yang besar, entalnya dapat mencapai panjang 150cm dan lebar 20cm, menyerupai daun pisang. Peruratan daun menyirip tunggal. Warna helai daun hijau cerah, dan menguning bila terkena cahaya matahari langsung. Spora terletak di sisi bawah helai, pada urat-urat daun, dengan sori tertutup semacam kantung memanjang (biasa pada Aspleniaceae). Ental-ental yang mengering akan membentuk semacam “sarang” yang menumpang pada cabang-cabang pohon. “Sarang” ini bersifat menyimpan air dan dapat ditumbuhi tumbuhan epifit lainnya.

c.       Suplir

Suplir adalah sebutan awam bagi segolongan tumbuhan yang termasuk dalam genus Adiantum, famili Adiantaceae. Sebagai tumbuhan paku-pakuan, suplir tidak menghasilkan bunga dalam daur hidupnya. Perbanyakan generatif suplir dilakukan dengan spora yang terletak pada sisi bawah daun bagian tepi tanaman yang sudah dewasa.Suplir memiliki penampilan yang jelas berbeda dari jenis paku-pakuan lain. Daunnya tidak berbentuk memanjang, tetapi cenderung membulat. Sorus merupakan kluster-kluster di sisi bawah daun pada bagian tepi. Spora terlindungi oleh sporangium yang dilindungi oleh indusium. Tangkai entalnya khas, berwarna hitam mengkilap, kadang-kadang bersisik halus ketika dewasa. Sebagaimana paku-pakuan lain, daun tumbuh dari rizoma dalam bentuk melingkar ke dalam (bahasa Jawa mlungker) seperti tangkai biola (disebut circinate vernation) dan perlahan-lahan membuka. Akarnya serabut dan tumbuh dari rizoma.

 

d.      Marsilea  L (semanggi atau paku air)

Semanggi adalah sekelompok paku air (Salviniales) dari marga Marsilea yang di Indonesia mudah ditemukan di pematang sawah atau tepi saluran irigasi.Morfologi tumbuhan marga ini khas, karena bentuk entalnya yang menyerupai payung yang tersusun dari empat anak daun yang berhadapan. Akibat bentuk daunnya ini, nama “semanggi” dipakai untuk beberapa jenis tumbuhan dikotil yang bersusunan daun serupa, seperti klover.Semua anggotanya heterospor: memiliki dua tipe spora yang berbeda kelamin.

6.  Manfaat dalam kehidupan

  1. Semanggi (Marsilea crenata) dimakan sebagai sayur
  2. Paku rane (Selaginella plana) sebagai obat untuk menyembuhkan luka
  3. Paku sawah (Azolla pinnata) sebagai pupuk hijau tanaman padi di sawah
  4. Paku suplir (Adiantum cuneatum) dan paku rusa (Platycerium bifurcatum) sebagai tanaman hias.

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :

  1. Cici – ciri dari Equistinae adalah Tumbuhan yang bersifat tahunan, berukuran kecil dengan tinggi 0,2-1.5 m. Batang beruas-ruas dan tegak lurus berbentuk bulat.Tumbuhan ini tidak memiliki bunga, namun pada ujung batangnya terdapat suatu badan yang berbentuk gada atau kerucut.
  2. Bangsa dari Equistinae antara lain : bangsa Equisetales,  bangsa Sphenophyllales,  dan bangsa Protoarticulatales.
  3. Equistinae dalam kehidupan sehari – hari dapat dimanfaatkan sebagai obat dan sebagai alat pembersih pisau, garpu dan sendok.
  4. Ciri – ciri dari anggota Filicinae (Paku sejati) memiliki daun besar (makrofil) dengan tulang tangkai daun telah memiliki mesofil. Daun yang masih muda menggulung pada ujungnya dan pada sisi bawah terdapat banyak sporangium.
  5. Bangsa dari filicinae antara lain : Platycerium (Paku Tanduk Rusa), Asplenium nidus (Paku Sarang Burung), Suplir, Marsilea  L  (semanggi atau paku air)
  6. Manfaat filicinae dalam kehidupan kehidupan antara lain :
    • Semanggi (Marsilea crenata) dimakan sebagai sayur
    • Paku rane (Selaginella plana) sebagai obat untuk menyembuhkan luka
    • Paku sawah (Azolla pinnata) sebagai pupuk hijau tanaman padi di sawah
    • Paku suplir (Adiantum cuneatum) dan paku rusa (Platycerium bifurcatum) sebagai tanaman hias.

B. Saran

Untuk tetap melestarikan jenis tumbuhan paku yang dapat digunakan dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari – hari. Dengan tidak merusak ekosistem yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Neil A. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid II. Jakarta: Erlangga

Dasuki, Ahmad Undang. 1991. Sistematik Tumbuhan Tinggi. Bandung: ITB

Tjitrosoepomo, gembong. 1985. Taksonomi Tumbuhan. Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada : Tjitrosoepomo, gembong. 1985. Taksonomi Tumbuhan. Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada : Yogyakarta.

http://www.syafir.com/tag/manfaattumbuhan-paku-ekor-kuda

http://zetly.wordpress.com/2010/02/24/tumbuhan-paku/

http://paku-homospore-heterospore-dan.html

http://pembagian-divisio-tumbuhan-paku.html

~ oleh Hae_RyN's pada November 12, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: